Slider Background

Main Text

Ordo Kapusin Pontianak

Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudara Dina:
Menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.

BERITA TERBARU

BERKENALAN DENGAN ORDO KAPUSIN

(Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum - OFMCAP)

Service Section


Siapakah Kami?

Fondasi utama Ordo Saudara Dina Kapusin berlandaskan pada teladan Bapa Serafik, Santo Fransiskus Assisi.


Kharisma Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin muncul karena kerinduan mereka akan gaya hidup asketik yang lebih keras.


Spiritualitas Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memberikan penekanan pada Ekaristi, teologi salib, Mariologi, kontemplasi dan kemiskinan.


Pelayanan Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin melayani beraneka-ragam bidang karya pastoral dan kategorial seturut tuntutan zaman.


Pendidikan dalam Ordo Kapusin

Para calon imam/bruder Kapusin ditempa dengan aneka ilmu pengetahuan, terutama spiritualitas, filsafat dan teologi.


Para Kudus Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memiliki orang-orang kudus, yang telah memberikan kontribusinya bagi perkembangan Gereja.

Visi dan Misi Ordo Saudara Dina Kapusin Pontianak

VISI KAMI:
Saudara-Saudara Dina Kapusin Pontianak adalah Persaudaraan Injili yang dipanggil dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah seturut teladan St. Fransiskus Assisi dalam semangat keberpihakan kepada orang miskin, tak berdaya dan sakit, serta lingkungan hidup.

MISI KAMI:
1) Membangun dan meningkatkan persaudaraan dina yang tekun berdoa dan bekerja dengan setia dan bakti.
2) Membangun Gereja dan masyarakat yang bersaudara dengan semua dan dengan berpihak kepada yang miskin, tak berdaya dan sakit.
BICI No. 303 English - MAY 2017 BICI No. 304 English - JUNE 2017



MENGAPA BERGABUNG DENGAN ORDO KAPUSIN PONTIANAK?

Kami dipanggil untuk mengabdi Allah dan Gereja Kudus melalui cara hidup yang khusus,
dengan meneladani jejak Santo Fransiskus Assisi dan dalam semangat pembaharuan Ordo Kapusin.
Dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, kami diutus untuk melayani ke berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.


<<< Semua berita >>>

Kami adalah Pendoa

Kami ini Bersaudara

Kami Melayani Kaum Papa

Kami Pembela Lingkungan Hidup

Wednesday, May 31, 2017

KARTU MISA ORDO
untuk bulan: ..................                                            HARAP SEGERA dikirim ke Propinsialat Pontianak

Sdr, Ekonom Propinsi Yth.,
Dalam bulan ini saya merayakan Ekaristi untuk Intnsi Ordo pada tanggal-tanggal dibawah ii.
(Lingkari tanggal yang dirayakan, coret yang tidak).

1            2         3         4         5         6          7         8        9         10


11         12        13       14        15       16       17        18       19      20                              Saudaramu,


21         22        23       24        25       26       27        28       29      30          31            ............................
                                                                                                                                    (  Nama      Jelas  )  
0
Baca Selengkapnya >>>

Thursday, April 6, 2017

Perjumpaan pertama dengan Kapusin

Perkenalan ini, terjadi ketika Kapusin merayakan pesta Jubelium seratus tahun di tanah belantara Kalimantan, tepatnya di Kota Singkawang. Biasalah, awal perjumpaan ini, di awali dengan kekaguman kepada saudara-saudara Kapusin, yang mengenakan jubah coklatnya. Suasana perayaan berjalan dengang baik, hingga aku tertegun pada perbincangan nuntius yang tidak sempat ku ingat namanya. Sebagai pembicara, maksudnya penerjemah waktu itu adalah Pater William Chang. Kekagumankupun semakin bertambah. Luar biasa pikirku. Sempat terlintas dalam benakku; “kapan aku bisa menjadi dia yang bisa berbicara untuk orang banyak yang tidak mengerti menjadi tahu”.

Perkenalan berikutnya, kutemukan ketika aku mengunjungi Stan Pameran tentang perjuangan para missionaris pertama serta karya dan kerasulan mereka di tanah Borneo. Ketika saya sampai ke tingkat dua, aku melihat papan kecil yang bertuliskan “Bagi yang ingin bergabung bersama Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin, bisa menghubungi secretariat Propinsi Kapusin Pontianak” dan seterusnya. Begitulah kurang lebih ajakan itu kepadaku. Tertarik! Ya. Tapi tidak tahu apa itu?

Kapusin itulah yang sering didengungkan oleh Pastor Paroki ku saat itu, ketika ia “merayu” aku untuk masuk dalam persaudaraan Kapusin, ketika aku menyatakan niat untuk masuk TOPANG atau Retorika di Nyarumkop. Pendeknya aku masuk Kapusin karena pastor Paroki. Tapi, memang sebelumnya aku tidak mengerti apa-apa tentang IMAM atau Pastor. Bagiku, semua pastor itu sama tidak ada bedanya. Apakah ia seorang Kapusin atau seorang imam Diosesan, dan lain-lain. Tapi suatu keberuntungan yang amat besar, ketika aku masuk menjadi anggota tarekat religious ini. Karena aku langsung mendapatkan teman yang karakter dan spiritualitasnya hampir sama, meskipun tidak mirip.

Siapa dan Apa Itu Kapusin?

Apakah Itu Kapusin untuk saat itu aku tidak tahu. Dan, sampai sekarang jika ditanyakan apa itu kapusin jawabanku pasti masih dalam mengambang. Pertanyaan tersebut, meminta suatu pemahaman dan sekaligus pengertian. Pemahaman berarti diandaikan tahu dan mengerti. Ya, seandainya ini menjadi pertanyaan yang mendalam harus ku akui secara jujur aku belum sepenuhnya mengerti secara mendalam dan betul-betul memahami apa itu Kapusin?. 

Setahuku Kapusin itu adalah cara hidup yang saat ini ku hidupi, ku jalani dan ku pilih menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan. Kapusin yang ku hidupi adalah pola hidup komunitas yang menggaris-bawahi hidup dalam persaudaraan “Be Brother For All”. Lebih spesifik hidup persaudaraan ini adalah hidup membiara yang membaktikan diri pada Allah dan sesama. Kapusin itulah sekarang jiwaku dan ragaku. Aku tidak akan bisa terpisah daripadanya. Karena ia telah menjadi bagian dari diriku. Dan sekarang aku dalam tahap penyempurnaan untuk menuju KAPUSIN itu. 

Hidup yang berjanji?

Hidup kok harus berjanji? Begitulah seloroh yang sekaligus permenungan dalam hidup ini. Terlebih bagi diriku. Mengapa harus berjanji? itulah yang dilontarkan orang yang tidak tergabung dalam cara hidup ini. Kata-kata tersebut dulunya juga menjadi pertanyaan bagiku. Sekarang Janji itu menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.

Kaul atau janji yang ku ikrarkan dan ku hidupi sekarang ini, secara sadar ku ucapkan di depan publik. Dan janji itu berbunyi untuk setia kepada Injil dan Tuhan. Kaul tersebut menjadi pengikat yang sangat erat dalam persaudaraan Kapusin. Dan melalui Kaul itu semua menjadi sama sebagai saudara. Seraya itupula Kaul menjadi cerminan bagi saya untuk melihat kebahagiaan yang akan datang. Sembari berkontemplasi dalam kehiruk-pikukkan hidup.

Kaul-kaul yang ku hidupi memberi suatu “kebebasan” kepada ku untuk menjadi TAAT, MURNI dan MISKIN. Kaul-kaul ini memberikan suatu pembelajaran sekaligus mengajarkan hidup,  dihadapan Allah dan sesama. Serentak juga membentuk kedewasaan dan kemandirian.

Kaul menjadi “SIM” bagiku untuk terus maju sebagai laskar Kristus seturut teladan hidup St. Fransiskus dari Assisi di dalam Ordo Kapusin, untuk mewartakan kabar Gembira kepada semua makhluk insani. Janji untuk hidup miskin, murni dan taat serentak meminta aku untuk hidup berkomitmen dan bertanggung jawab atas hidup yang telah diberikan. Memang harus ku, akui untuk menghidupi ketiganya bukanlah hal yang gampang, namun juga bukan berarti sesuatu yang sulit. 

Pergulatan Ketiga Kaul

Ketiga kaul yang ada di dalam persaudaraan Kapusin, bukanlah sesuatu yang gampang untuk dihidupi, karena aku hidup di dalam dunia yang real, nyata. Duniaku ini menyuguhkan banyak hal yang senantiasa menantang adrenalin, memikat mata, dan menggoda jiwa. Dunia hidupku, adalah dunia yang semakin hari semakin menunjukkan ‘keelokkannya” zaman, terus memacu otak ku untuk terus “berkontemplasi” dalam hayal dan renunganku.

Hingga saat ini. Bisakah aku melangkah dengan ringan, sementara banyak hal yang menjadi beban yang sekaligus membuat aku melanyang. Terkatung-katung antara langit dan bumi. Kiranya kaul yang ku hidupi ini akan menjadi jawaban yang pasti. Lascar iblis datang bagai kawanan burung yang berhijrah di musim dingin. Ketika kunyatakan diriku siap untuk berperang melawan mereka. Setan menampakkan keelokkannya melalui hobi-hobiku, kesukaanku, dan keburukkannya pada sikap kebenciannkku. Setan pintar berubah rupa. Tapi aku tetap memiliki Allah yang juga siap menyatakan damai bersama mereka di dalam aku sehingga aku tidak memusuhi hobiku dan kebencianku.

Tidak gampang bukan berarti sulit. “Gampang” dapat ku katakana demikian, karena persaudaraan yang telah merawat dan mengasuh aku membekali diriku dengan ilmu dunia yang dinamakan dengan Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu ini, persaudaraan mendidikku untuk hidup menjadi bijak dan sana. Tahu berbuat dan bertindak. Dapat mengerti dan tahu. Baik dan benar. Ilmuku adalah salah satu jalan hidup yang diberikan untuk mencapai kematangan dalam hidup berkaul. Melaluinya aku diminta untuk mengolah semua yang nyata dan maya, melalui ilmu itupula aku diminta untuk dewasa. Dengan pengetahuan dan ilmu yang kumiliki memberikan kematangan untuk berdistansi dengan dunia nyata dan maya.

Kerap dalam pertanyaan batin ini, berkata: “mengapa mereka yang telah mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar, justru menyimpangkan pengetahuan itu?, bukankah seharusnya mereka menjadi lebih bijaksana dibanding dengan kakek dan nenek ku yang tidak mengenal pengetahuan”. Apakah ada yang salah? Hati ku kembali berbicara. Perkataan hati ini serentak menantang dan mengingatkan aku. Sungguhkah aku akan menjadi orang yang berilmu dan berpengetahuan?

Keyakinan

Keyakinanku kepada Allah dan Persaudaraan Kapusin. Keyakinan ini tidak akan memberikan kekecewaan, sebaliknya menghantar aku pada pembebasan, kemerdekaan dan kebahagiaan. Allah akan senantiasa menemani dan menuntun aku. Ia akan mengarahkan aku pada kehendak-Nya. Sedangakan aku yang senantiasa dikuasai keegoisan ini, akan terus menemukan cara untuk memberikan signal, tanda kepada Allah, agar Ia bisa menemukan aku yang masih tinggal dalam kekelaman dunia ini. Dan, dengan-Nya aku akan berkumpul bersama domba-domba yang lain dalam satu kawanan dan satu Gembala yaitu Kristus Yesus. 

Sedangkan, Persaudaraan Kapusin akan terus membentuk aku menjadi seorang saudara yang mampu melanjutkan karya dan cita-cita pendiri Ordo ini, agar alam ciptaan di dunia ini tetap utuh dan harmoni. Persaudaraan ini akan banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman hidup bersama Allah melalui sesama yang menderita, papa, miskin dan terpinggirkan. Harapanku ialah aku dapat tumbuh menjadi kuntum coklat yang berbuah matang dan menjadi bibit coklat  yang baru. Karena aku yakin, Coklat ini akan memberikan warna dan keindahan tersendiri bagi banyak insan. - P. Aloysius Anong, OFMCap.



0
Baca Selengkapnya >>>
SALAM

Tidak terasa waktu terus berjalan dan menghantar aku pada tahun yang ketiga di BiKap Alverna – Sinaksak. Waktu memang tak pernah  berhenti. Ia terus berjalan pada aturan yang telah ditentukan bagi dirinya. Ia tidak akan pernah terpengaaruh oleh situasi ataupun keadaan. Sang waktu juga tidak pernah mau memberikan saat yang baik atau buruk. Ia tidak suka menunda apalagi berhenti. Ia tetap memiliki komitmen. Mengarungi pengalaman insan dunia, selama masih diberi kesempatan. Aku salah satu insan yang hidup di dalam serta berada bersama waktu. Setiap hari, dan waktu, aku telah dibekali banyak pengalaman dan permenungan. Dan pengalaman itu menjadikan aku sebagai aku yang sekarang menjadi aku.  Terimakasih sang waktu terlebih kepada-Mu sang pencipta waktu. 


HIDUP PERSAUDARAAN

Walau hanya tertulis aku mau berucap terima kasih kepada saudara-saudara tua, sebagai staf pendamping dan pengajar di BiKap Alverna dan STFT. Karena dengan segala kesabaran dan kebijkasanaan dan  contah teladan hidup mereka, saya semakin dimatangkan dalam menapaki panggilan sebagai biarawan Kapusin. Terimakasih Pater, Bruder, telah menjadi orang tuaku yang baik dan selalu mengarahkan aku pada jalan panggilan Fransiskan Kapusin. Aku beraharap Tuhan  yang Mahabaiklah membalas semua kebaikan dan kebijaksanaan kalian semua. Kuucapkan juga terimakasih atas ilmu-ilmu, nilai-nilai persaudaraan yang telah kalian wariskan. Semoga semua itu menjadikan aku semakin matang, dewasa dan bertumbuh dalam iman dan panggilan. 

Terimakasih juga aku ucapkan kepada saudara-saudara seangkatan, terlebih saudara-saudara seangkatan dari propinsi Kapusin Pontianak. Karena kalian semua kita saling mendukung dan mendoakan sehingga kita sama-sama berjuang hingga pada tahun yang ketiga sekarang ini. Terimakasih telah mau berbagi cerita dan pengalaman hidup kalian. Aku yakin cerita dan cita kita dapat terwujud di dalam panggilan Tuhan ini.

Untuk saudara-saudaraku tingkat I dan tingkat II sepropinsi terimakasih karena ada kalian aku merasa menjadi layak untuk melangkah ke tingkat IV di tahun ajaran ini. Doakan kami. Saudara-saudara muda di Alverna, suster, bapak, ibu, kakak-kakak dapur terimakasih semuanya karena berkat kehadiran kalian seluruh proses perkuliahan dan hidup doa, studi dan kerja dapat berjalan dengan baik dan lancar. 

Aku senang, bahagia dan bergembira bisa hidup bersama di Komunitas Alverna. Meskipun banyak hal yang terkadang membuat aku kehilangan diriku. Namun dengan itu pula menjadikan aku banyak belajar. Terlebih belajar berdistansi, mendalami dan mengenal diriku. Ku sadari hidup persaudaraan yang kuhidupi ini banyak mengubah cara pandang pola pikir dan cara bertindak dalam proses pengolahan hidup pribadiku. Dengan perjalanan bersama waktu dan bersama kalian saudara-saudara, aku semakin mampu menyadari siapa aku sebagai aku dihadapan sang AKU. Semoga kegembiraan, kebahagiaan di komunitas ini terus menemani dan mengiringi perjalananku selanjutnya.

Hidup persaudaran di Alverna memang unik. Disinilah aku menemukan banyak karakter yang tidak kalah untuk mewakili kehidupan di luar biara. Semua kompleks. Ada tua, ada muda, ada dewasa, ada setengah dewasa, ada yang jujur ada yang berpura-pura, ada yang rajin dan ada yang malas-malasan. Ada yang rendah hati dan ada yang egois. Ada yang bijaksana dan ada yang plin-plan. Dan lain sebagainya. Karakter-karakter diatas sepertinya “dikondisikan” untuk membuat setiap pribadi untuk mampu belajar dan menimba kekuatan dan kehidupan plural. Disatu sisi menjengkelkan, namun disisi lain (positif) mengasyikkan. Bagi saya secara pribadi, setelah merenungkan ini secara tenang, saya merasa bersyukur. Sebab aku yakin kehidupan diluar sana akan menampilkan karakter-karakter yang lebih hebat dan tanpa kompromi. Keadaan seperti bagiku adalah tantangan dan materi pembelajaran yang lumayan merepotkan.



DUNIA KAMPUS

Kampus adalah rumah kedua selama proses pendidikan di STFT. Separoh hari dalam seminggu ku habiskan disini. Kampus adalah rumahku. Rumah tempat aku dibentuk seperti tanah liat, tempat pembinaan bagi yang mencari kebenaran, dan  kebijaksanaan, dan sarana yang ideal untuk menyalurkan kreativitas dan afeksitas. Kampus menjadi saluran ber-relasi dan berpastoral. Kampus memberikan konstribusi yang cukup memadai sebagai wadah, locus, untuk menempa dan membentuk pribadi yang berkualitas dan modernitas.
Memang kampus tidak memberikan umpan yang baik untuk menangkap ikan yang hendak ditangkap, tetapi mereka memberikan mata pancing yang berkualitas wahid, untuk menangkap berbagai macam ikan yang hendak ditangkap dengan pancing. Bagi saya, mata kail, yang hebat itu adalah suatu modal yang sangat menentukan saya, sebagai pemancing yang akan menangkap banyak ikan.


Dunia Kerasulan

Pada tahun ketiga kali ini, kami diminta untuk menggunakan mata kail yang telah diberikan; yakni kerasulan ke stasi dan memberikan rekoleksi, serta retret. Kegiatan-kegiatan tersebut salah satu umpan yang coba diberikan, sepenuhnya dipercayakan kepada kami untuk mengolah, memanfaatkan dan menggunakannya sebagai media untuk mengembangkan diri. 

Namun yang paling mengesankan bagiku ialah kerasulan, karena tugas ini, kami laksanakan selama kurang lebih dua semester. Dalam kerasulan banyak hal yang membuat saya belajar dan mengalami cara beriman kepada Yesus, yang setiap hari kami pelajari di kampus. Yesus yang kami kenal di kampus ternyata sedikit berbeda dengan pribadi Yesus yang di imani. Yesus di stasi (melalui perjumpaan dengan umat) ternyata memberikan pengertian akan hidup di dalam sesama tanpa pamrih, dan penuh dengan kesederhanaan. Ia nyata. Ada bersama dengan aku.

Karena itu pengalaman kerasulanku berbeda dengan pengalaman kerasulan dengan teman-teman yang lain. Umat yang kukunjungi setiap dua kali dalam satu bulan menggambarkan suatu kerinduan saya untuk bertemu dengan Dia, yang selalu berbicara dan mengajar. Sebab melalui pembicaraan dan pengajaran itu, aku juga bisa berkata-kata dan sedikit memberikan pembelajaran kelak.


HIDUP DALAM KETIGA KAUL

Kaul yang hampir satu tahun yang lalu ku ikararkan memberikan arah dan pertolongan yang berarti dalam menjalani hidup panggilanku sebagai biarawan Kapusin dan sekaligus Mahasiswa di kampus. 


Kaul Ketaatan

Dari kata ketaatan sepintas ditelinga memang mengerikan. Itu berarti kita harus berjalan seperti robot alias kaku. Sebab kita harus senantiasa taat kepada perintah dan pimpinan yang dipercayakan kepada kita. Namun bagi saya, dengan ketaatan mengajarkan aku, akan satu nilai yang tidak bisa terwakilkan hanya lewat kata-kata. Sebab ketaatan bukanlah hal yang abstrak melainkan nyata, konkret, real. Secara analisis phenomenologis kata taat, memang abstrak. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan dengan ketaatan. Ketaatan menghendaki suatu tindakan yang membebaskan namun terarah pada bentuk yang terbatas. Ketaatan mengajarkan aku untuk bercermin kepada Dia yang menjadi pelaku ketaatan yang sejati: Yesus.


Kaul Kemiskinan

Kaul yang kedua ini, telah memberikan banyak konstribusi dalam hidup sehari-hari. Sebab, dari kemiskinan, saya terbantu untuk dapat melihat sesuatu dari manfaat, dan kegunaannya serta akan kelangsungan mendatang. Kemiskinan juga mengajarkan sikap sederhana yang tidak mudah untuk dijalani di zaman modern ini. sebab tidak lagi pada tempatnya untuk tidak mengikuti perkembangan mode, dan life style, yang sungguh menjadi bagian dari kehidupan manusia modern. Namun dengan mendalami kaul ini, saya setia untuk mengenakan jubah coklat saya yang tampak lusuh dimakan usia. Biarlah orang berkata apa, tetapi saya bisa berbicara ada apa rupanya.
Kaul ini, sungguh memberikan suatu pencerminan yang tidak tanggung, namun menyeluruh. Sifat menyeluruh ini dimaksudkan untuk senantiasa berserah kepada Tuhan dan menjadikan diri “haus” akan cinta dan kasih dari Allah, yang tidak menyurutkan diri kita pada pencarian hidup yang sejati. Sebab saya sependapat dari banyak orang yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini adalah suatu peziarahan, dan kelak kita akan sampai pada tujuan dan tempat yang definitif.

Kaul Kemurniaan

Hidup murni, barangkali impian semua orang. Sebab tidak ada seorangpun yang mau hidupnya diracuni, apalagi dinodai. Tetapi sayangnya kita telah ter-racuni dan ter-nodai, oleh situasi, lingkungan, dan meluas pada zaman. Saya tidak bisa memungkiri itu semua. Sekarang, yang saya lakukan ialah memperkecil kemungkinan untuk  keracunan dan tidak banyak terkena noda. Artinya saya masih dalam perjuangan yang luar biasa ketat dan senantiasa mengawaskan diri. Namun, saya yakin sang teladan kemurnian pasti akan membantu saya. Agar saya semakin mengarahkan diri pada kehendakNya, semakin mantap menapaki jejak-Nya.

Kemurnian, memberikan jalan kepada saya untuk menjadikan diri saya sebagai pribadi yang berintegritas, memiliki komitmen, serta mampu untuk berdistansi dengan pola hidup yang mapan dan menggairahkan. 


PENDALAMAN

Kehidupan yang ku jalani saat ini, tidak terlepas dari peran dan kuasa dari DIA tuan kehidupan. DIa selalu hadir dikala aku, memerlukan dan mengalami kesulitan. DIa menghadirkan diri lewat udara yang setiap hari kuhirup dan menjadikan aku hidup. Dia  mendengarkan doa-doaku, dan sekaligus menjawabnya walau aku sendiri tidak tahu. Dia telah menjadi teman sekaligus sahabatku, dalam kerinduan manusiawiku. Dia menjadi penyemangatku, saat aku lelah dan putus asa. Dapat ku katakan separoh dari diriku berasal dari DIA.

Kata-kataku tidak terlepas dari ucapan rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam, kepada persaudaraan, dan terlebih kepada DIA yang telah sanggup memberi ruang dan gerak bagi ku untuk mengapresiasikan diri dalam hidup sebagai saudara bagi semua. Semoga aku mampu terus berkanjang dan menemukan sang Putri Kemiskinan yang sejati. Serta meneguk air dari mata air yang sejati. - P. Aloysius Anong, OFMCap.



0
Baca Selengkapnya >>>

Friday, February 3, 2017



1 Februari 2017 akan terpatri jelas dalam hati dan ingatan saya sebagai hari yang mengejutkan. Mengejutkan karena dalam masa-masa penuh konsentrasi menjalani ujian semester, saya menerima kabar wafatnya Pastor Mateus Sanding. Cukup mengejutkan karena selama satu setengah tahun terakhir, saya tidak pernah menerima berita tentang situasi gawat darurat yg mungkin sedang dia hadapi baik terkait dengan penyakit tertentu maupun usianya yang sudah lanjut.

1 Februari 2017 juga akan terpatri dalam-dalam sebagai hari yang mengecewakan. Mengecewakan karena saya sedang jauh dari kemungkinan untuk bisa hadir secara fisik bersama umat dan para saudara se-Propinsi di sisi jenasah beliau. Saya tidak bisa hadir dalam doa-doa bersama dan ikut menghantarnya ke Pemakaman. Saya hanya bisa membayangkan dari jauh bagaimana suasana duka dan sibuknya para saudara bersama umat. Ada cinta dan kerinduan yang sangat kuat untuk hadir secara fisik, tetapi Roma - Pontianak terlalu jauh.

Syukur bahwa walaupun sangat jauh jarak membentang, namun saya (bersama Pastor Harmoko, Pastor Viktor dan Bruder Willem) tetap merasakan dan menghayati persekutuan iman dan kesatuan hati dalam doa dan ekaristi untuk beliau. Perasaan dan penghayatan iman yang sama, saya percaya ada juga di setiap hati dan pikiran setiap saudara di Timor Leste, Philipina, Australia dan Selandia Baru. Untuk mengobati kekecewaan atas ketidakhadiran secara langsung, saya putuskan untuk menulis dan mengirim ucapan selamat jalan ini. Semoga Pastor Propinsial bisa menyampaikannya atas nama kami yang tidak bisa hadir.

Kenangan hidupku bersama Pastor Sanding tidak lama, hanya berlangsung selama satu setengah tahun. Itu terjadi ketika saya menjalani masa formasi sebagai frater TOP di paroki Menjalin dari awal desember 2003 sampai akhir juni 2005. Soal sapaan dalam interaksi dengan beliau, pastor Yeremias Melis biasa menyapanya “Pastor Sanding”. Pastor Frederic Samri, saudara Benediktus Benik dan saudara Silvinus Senan menyapanya “Pastor Sanding” atau “Kakek Sanding”. Para katekis dan petugas paroki umumnya menyapanya “Kakek” atau “Pastor Sanding”. Umat Paroki Menjalin umumnya menyapanya “pastor Sanding”. Ada juga sejumlah kecil umat yang menyapanya “Pak Sanding”. Saya sendiri mulai dengan sapaan “Pastor Sanding” utk minggu-minggu awal dan kemudian berani membiasakan diri menyapanya “Kakek Sanding”, sapaan yang saya gunakan sampai sekarang.

Dibandingkan dengan Pastor Yeri, kebersamaan saya sangat singkat. Mereka berdua pernah hidup bersama sebagai rekan sekomunitas di Paroki Menjalin selama lebih dari 25 tahun. Karena itu, dari segi lamanya, masa satu setengah tahun yang sudah saya lalui bersamanya seperti tidak berarti. Kenyataannya tidak demikian. Meskipun singkat, kehadirannya berkesan dan membekas kuat bagi pertumbuhan dan penguatan pilihan hidupku sebagai saudara Kapusin Propinsi Pontianak. Apa rupanya keutamaan-keutamaan Pastor Sanding yang sudah turut membantu menguatkan dan menumbuhkan semangat untuk pilihan hidupku sebagai saudara Kapusin?

Tentu ada banyak dan saya hanya akan bagikan 2 untuk kesempatan ini. Saya ingin mengawali 2 catatan hatiku dengan catatan sejarah tentang saudara kapusin pertama asal Monterado-Indonesia, almarhum Pastor Pacificus Bong Ofm Cap. Dalam buku A History of Christianity in Indonesia (hlm. 507), Karel Steenbrink memasukkan juga kutipan tentang kesaksian dari seorang saudara kapusin belanda, Gentilis Aster tentang saudaranya almarhum Pastor kita Pacificus Bong sebagai berikut:

“(He is) A small, quiet man with a soft voice and quiet manners. In company his presence was barely noticed, because he does not say much and only gives his opinion when asked for it. But then he would give it in short, but precise wording, identifying the matter in a touching way. Someone who knows how to listen, surprising everybody by his balanced wisdom free from emotions.”

Terjemahannya kira-kira demikian: “Dia adalah seorang pria berperawakan kecil dan pendiam, dengan suara yang lembut dan pembawaan yang tenang. Dalam kebersamaan, kehadirannya sering luput dari perhatian, karena dia tidak banyak bicara dan hanya memberikan pendapatnya kalau diminta. Saat diminta, dia akan menyampaikannya secara singkat namun dengan pilihan kata-kata yang tepat, mengacu pada pokok persoalan, dengan cara yang menyentuh hati. Dia seorang yang tahu bagaimana mendengarkan. Dan dia mengejutkan siapapun dengan kebijaksanaan yang seimbang, bebas dari belenggu perasaan dan prasangka.” Kutipan ini terlintas dalam benak saya ketika mencoba mengingat dan merenungkan kenangan-kenangan indah dalam hidup bersama sebagai saudara kapusin dengan Kakek Sanding.

Catatan hati pertama adalah Kakek Sanding sebagai figur kapusin yang gembira dan penuh sukacita. Setengah dari judul ucapan selamat jalan ini mengambarkan kekhasannya itu. “Semua Kembang Bernyanyi Riang” adalah judul lagu kesukaannya. Kita pasti kenal lagu itu karena nadanya sama dengan lagu “Semua Bunga Ikut Bernyanyi” dari Madah bakti no. 477. Saya diberitahu ketika menanyakannya langsung dalam satu kesempatan, lebih sebagai persiapan komunitas untuk tampil memeriahkan perayaan 100 tahun misi Kapusin di Indonesia. Masih ada 1 atau 2 lagu lain yang tidak bisa lagi saya ingat. Sejauh pengalaman saya, lagu “Semua Kembang Bernyanyi Riang” bisa dinyanyikan sendiri dengan penuh semangat oleh Kakek Sanding, lengkap dengan ekspresi wajah dan gerak tubuhnya. Beberapa kali saya ikut berbahagia karena menemaninya bernyanyi bersama iringan gitar. Saudara Senan pasti mudah mengingat kembali aksi rekreatif spontan ini, ditemani 1 botol bir untuk mereka berdua dan 1 kaleng lasegar untuk saya. Bagi saya, “Semua Kembang Bernyanyi Riang” menjadi ungkapan dari kegembiraannya yg alami sebagai kapusin, bersama semesta dalam pilihan hidup sebagai saudara, bersama dan dalam pelayannanya bagi saudara yang lain dan umat Allah.

Catatan hati kedua adalah Kakek Sanding sebagai figur kapusin yang bersaudara dengan semua orang dan memperlakukan semua orang dengan rasa hormat yang sama. Proses adaptasi dan integrasi saya ke dalam dinamika hidup komunitas kapusin dan gereja lokal di Paroki Menjalin menjadi relatif lancar karena banyak terbantu oleh kehadiran dan teladan Kakek Sanding. Sebagai kapusin muda yang datang dari luar Kalimantan, saya memerlukan waktu dan kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan tumbuhnya perasaan at home. Tuntutan untuk memulai hidup di tempat baru, bersama orang baru, dengan suasana yang baru selalu diawali dengan rasa asing dan was-was apakah akan di terima atau ditolak, dipandang dan diperlakukan sebagai bagian dari komunitas atau sekadar penumpang sementara. Saya harus mengakui bahwa perhatian, rasa hormat, kehangatan dan keramahan yang Kakek Sanding tunjukkan sejak hari pertama saya tiba di Menjalin (15 Desember 2003) sampai hari terakhir (26 Juni 2005), terutama di saat-saat sulit, membuat saya merasa “di rumah” dan bersama saudara.

Oleh karena itu, bersama semua kembang di taman hati dan alam lepas, hati saya bersyukur dalam nyanyian riang penuh syukur untuk kehadiranmu yang menyentuh, menggembirakan dan menguatkan dalam perjalanan sejarah pribadi setiap saudara dan saudari, juga sejarah kolektif kapusin dan Gereja Indonesia. “Semua Kembang Bernyanyi Riang: Selamat Jalan Pastor Sanding Tercinta” adalah sapaan kami semua untukmu. Saya menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai “Kakek Sanding” tentu karena cocok untuk pria seusiamu yang memang sudah sepuh dan pantas kami panggil “Kakek”. Namun saya menggunakannya juga dengan perasaan dan makna lain yang lebih dari sekedar usia 81 tahun masa hidupmu. Saya menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai “Kakek Sanding” lebih sebagai ungkapan kedekatan dan rasa kasih sayang sebagai saudara yang telah kau sentuh dengan kegembiraanmu yang alami, perhatianmu yang tulus, keramahanmu yang hangat, dan rasa hormatmu yang tidak membedakan warna dan umur.

Semoga bagi semua saudara dan umat,engkau akan selalu dikenang dan dirindukan sebagai pribadi kapusin dengan catatan sejarah yang baik seperti kutipan untuk almarhum Pastor Pasificus Bong. Bagi saya Kakek Sanding selalu menjadi “A great man with a loud voice but a gentle heart and quiet manners”. Mungkin benar bahwa dalam distribusi tanggung jawab pelayanan, Kakek Sanding selalu menjadi Pastor Pembantu Paroki dan tidak sekali pun mendapat tanggung jawab sebagai Pastor Kepala Paroki. Dengan demikian, bisa saja ada kesan bahwa “in company your presence was barely noticed, because you did not say much and only give your opinion when asked for it. Namun untuk saya “you always give it in short, but precise wording, identifying the matter in a touching way”. Saya menjadi saksi bahwa Kakek Sanding telah hadir sebagai someone who knows how to listen, surprising me and everybody by your balanced wisdom free from emotions. Selamat Jalan Kakek Sanding Tercinta! Semua kembang Bernyanyi Riang bersama doa dan cinta kami untuk mengiringi perjalananmu kembali ke rumah Bapa kita. Amin. - P. Isidorus Yoseph Jawa, OFMCap. (Roma, Jumat 3 Februari 2017)



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, February 1, 2017

Pastor Mattheus Sanding OFMCap, atau yang lebih akrab disapa P. Sanding, lahir di Nyandang, Sanggau Kapuas, pada tanggal 23 Desember 1935 dari sebuah keluarga petani sederhana. Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara. Pada masa kecilnya, beliau tidak pernah bercita-cita menjadi seorang imam. Namun, beliau kemudian mengagumi figur pastor-pastor misionaris Ordo Kapusin dari Belanda dan mulai tertarik dengan jubah coklatnya. Maka setelah menamatkan jenjang Sekolah Rendah (SR), beliau memutuskan untuk masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop dan bercita-cita menjadi imam Kapusin.

Sejak masa mudanya, P, Sanding sudah memiliki devosi yang mendalam kepada Santa Perawan Maria. Devosi ini pulalah yang dihidupi dan dijalankannya dengan setia sampai akhir hayatnya. Melihat adanya potensi yang baik dalam diri P. Sanding yang kala itu masih muda, P. Honorius van den Heijde, OFMCap. – selaku Pimpinan Umum Persekolahan Nyarumkop – meluluskan permohonannya sebagai calon novis Ordo Kapusin. 

P. Sanding menempuh pendidikan tahap pertamanya di Novisiat St. Fidelis, Parapat, Sumatera Utara. Beliau diterima sebagai calon novis pada tanggal 01 Agustus 1959. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 02 Agustus 1960, beliau diperkenankan untuk mengucapkan kaul perdananya di hadapan P. Marianus van den Acker, OFMCap., Magister Novisiat dan Superior Regularis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu. Dengan penerimaan kaulnya ini, P. Sanding dinobatkan sebagai orang Dayak pertama yang menjadi imam dalam persaudaraan Ordo Kapusin di Indonesia. Tahun berikutnya (1961) Mgr. Hieronymus Bumbun, uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, menyusul dan mengikuti jejaknya.

P. Sanding selalu bangga dengan masa-masa pendidikannya di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi) yang kala itu berpusat di Parapat. Pada waktu itu, ada sekitar 13 dosen yang dengan setia mengajarinya. “Saya selalu menjadi juara pertama di kelas,” demikian selorohnya. Betapa tidak, dosen-dosen tersebut hanya memiliki satu orang murid, P. Sanding!

Komitmen P. Sanding untuk menjalani hidup sebagai seorang biawaran Ordo Kapusin dari hari ke hari semakin kokoh. Itulah sebabnya pada tanggal 02 Agustus 1963, beliau dengan penuh ketetapan hati mengikrarkan kaul kekalnya di hadapan pimpinan pada waktu itu, P. Gonzalvus Snijders, OFMCap. Pengikraran kaul kekal ini sekaligus menjadi tanda bahwa seluruh hidup dan baktinya akan didedikasikan bagi Allah, Ordo Kapusin, dan umat yang dilayaninya. Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 05 Maret 1966, P. Sanding menerima tahbisan imamat suci dari Uskup Agung Pontianak yang pertama, Mgr. Herculanus J.M. van der Burgt, OFMCap. Jejaknya menjadi seorang imam Ordo Kapusin ini kelak akan diikuti pula oleh adik kandungnya, P. Paduanus Aga, OFMCap. yang juga masuk sebagai calon novis Kapusin pada tanggal 12 Januari 1976.

Setelah pentahbisannya, P. Sanding ditunjuk untuk membantu pelayanan di Paroki Singkawang selama tiga tahun (1966-1969). Namun karena kebutuhan umat yang semakin meningkat, sementara jumlah tenaga imam belum memadai, beliau kemudian ditugaskan sebagai pastor rekan di Paroki Pahauman selama enam tahun (1969-1975). Dari sana, beliau kemudian diutus untuk melayani di Paroki Batang Tarang selama empat tahun (1975-1979). Beliaulah perintis awal berdirinya gereja Katolik di Sosok, Tayan Hulu (sekarang Paroki Kristus Raja, Sosok).

Tempat P. Sanding melayani paling lama adalah di Paroki Menjalin, Mempawah Hulu (dan Tiang Tanjung). Selama kurang lebih 30 tahun (1979-2009), beliau melayani umat di paroki ini tanpa kenal lelah. Selain menangani tugas parokial, P. Sanding juga merupakan anggota aktif team pengelola Majalah Paroki, Batakki (Berita Antar Kampung Kita). 

Pada tahun 2009 beliau diminta oleh pimpinan untuk pindah dan memperkuat personil di Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak, Sei Raya. Kehadiran P. Sanding di komunitas pusat ini sungguh membawa berkat dan nuansa tersendiri. Beliau adalah sosok pendoa yang ulung dan memiliki devosi istimewa kepada Bunda Maria; beliau juga sering memberikan berkat untuk para saudara muda yang meminta doanya. Di samping itu, kepribadiannya yang ceria dan humoris mampu menghidupkan suasana yang kaku menjadi akrab, di mana pun beliau berada. Bahkan dalam acara pertemuan para imam muda (IMUD), beliau seringkali menyempatkan diri untuk hadir dan bersenda-gurau dengan para imam lain yang berusia jauh di bawahnya. Kendati sering diejek oleh para saudara yang lebih muda, beliau tidak pernah marah. Terkait hal ini, P. Faustus Bagara, OFMCap. memberikan kesannya, “dia sumber kegembiraan bagi komunitas, setia dalam doa, tidak mau merepotkan.”

P. Sanding juga terkenal dengan semangat kerja kerasnya, beliau tidak pernah diam. Sekali diberi kepercayaan untuk menekuni sebuah pekerjaan, hal tersebut akan dikerjakan sebisa-bisanya sampai tuntas. Lebih daripada itu, keutamaan lain yang dimiliki oleh P. Sanding adalah kesederhanaan dalam hidup. Beliau tidak memiliki banyak tuntutan dalam hidup, dan dengan senang hati menggunakan apa saja yang diberikan oleh persaudaraan kepadanya. Maka dengan sendirinya, beliau merupakan salah satu figur teladan bagi para saudara muda Ordo Kapusin Propinsi Pontianak maupun seluruh umat.

Satu hal yang agak sulit untuk diterka dari P. Sanding adalah untuk memastikan apakah beliau sedang sakit atau sehat-sehat saja. Kerapkali, beliau pandai menyembunyikan perasaan sakitnya agar tidak diketahui oleh orang lain. Beliau tidak ingin menyusahkan para saudaranya dan karenanya sangat jarang mengeluh ketika sakit. Itulah yang terjadi pada tanggal 01 Februari 2017. Tanpa ada keluh-kesah ataupun tanda-tanda aneh sebelumnya, P. Sanding tiba-tiba ditemukan telah meninggal dunia pada saat jam tidur siangnya, yakni sekitar jam 16.00 WIB. Terkait hal ini, P. Iosephus Erwin, OFMCap. berkomentar, “saudara yang sederhana itu telah pergi dengan cara yang sederhana pula.”

Pemazmur berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun” (Mzm. 90:10). P. Sanding menutup usia pada umur 81 tahun; menjalani hidup sebagai biarawan Kapusin selama 57 tahun; dan melayani sebagai imam lebih dari 50 tahun. Selamat jalan saudara kami yang baik, selamat berpisah kakek tercinta… Kami percaya bahwa Allah menerimamu dalam kebahagiaan para kudus-Nya di surga. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini. - P. Pionius Hendi, OFMCap.


NB: Misa Requiem dilaksanakan pada hari Jumat, 03 Februari 2017, jam 9.00 WIB. Jenazahnya dimakamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir, di Pemakaman Santo Yusuf, Sungai Raya, Pontianak.



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, December 21, 2016


       Sore ini, pada hari-hari menjelang pesta natal, persaudaraan Ordo Kapusin Pontianak menerima sebuah berita gembira: salah seorang angggota persaudaraan – Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap. – ditunjuk oleh Paus Fransiskus menjadi uskup di Keuskupan Sintang. Keuskupan tersebut lowong sejak tanggal 03 Juni 2014, saat Mgr. Agustinus Agus diangkat menjadi Uskup Agung Pontianak. Penunjukan Pastor Samuel sebagai uskup ini terjadi hanya berselang satu minggu setelah perayaan ulang tahun beliau yang ke-62.

 Sedikit mengenai biografi beliau: Pastor Samuel lahir di Peranuk, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang (Kalimantan Barat) pada tanggal 12 Desember 1954. Beliau masuk biara Kapusin di Parapat pada tanggal 12 Januari 1977, dan setahun kemudian beliau mengucapkan kaul perdananya, tepatnya pada tanggal 13 Januari 1978. Setelah menjalani pendidikan Filsafat dan Teologi, beliau mengucapkan kaul kekalnya di Pematangsiantar pada tanggal 18 Juli 1982. Dua tahun kemudian beliau ditahbiskan menjadi seorang imam Kapusin di tempat kelahirannya, tepat pada tanggal 01 Juni 1984. Setelah ditahbiskan, beliau memperoleh tugas pertamanya sebagai pastor rekan di Nyarumkop. 

       Selanjutnya, pada tahun 1985-1990, beliau diutus ke Roma untuk menempuh studi Master dan Doktoral di Universitas Antonianum dengan spesialisasi dalam bidang Spiritualitas Fransiskan. Disertasinya yang berjudul The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God (Peran Segala Makhluk Ciptaan dalam Pujian Santo Fransiskus kepada Allah) sungguh menjadi fondasi kuat yang mengantarnya pada penghayatan mendalam akan nilai-nilai kefransiskanan dalam dunia modern.

         Pastor Samuel adalah sosok pendoa, pendidik dan berjiwa pemimpin. Hidup doa menjadi poros utama dalam kehidupannya. Dalam bidang akademik, beliau pernah ditugaskan sebagai Socius maupun Magister di Novisiat Parapat, Sumatera Utara, antara tahun 1990-1997. Beliau juga banyak memberi retret dan rekoleksi bagi biarawan/biarawati, terutama yang terkait dengan spiritualitas fransiskan. Di samping berjiwa pendidik, beliau juga telah beberapa kali menjadi pimpinan umum (propinsial) Ordo Kapusin Pontianak, yakni pada tahun 1997-2000, 2000-2003, dan 2009-2012. Suatu kiprah kepemimpinan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang!

Kendati bergelar doktor, pernah menjadi formator bagi para calon pastor/bruder Kapusin, serta beberapa kali menjadi pimpinan tinggi dalam Ordo Kapusin Pontianak, beliau tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau tidak segan-segan untuk bekerja di kebun dengan tangannya sendiri; terkadang sulit membedakannya dengan tukang kebun ketika beliau sedang bekerja mengenakan topi daun nipahnya.

Pastor Samuel adalah pribadi yang tidak banyak kata, tetapi banyak bekerja; beliau adalah man of action. Namanya dikenal di kalangan luas (bahkan di antara orang-orang non-Katolik) bukan karena promosi yang dilakukannya, melainkan karena aksi nyatanya. Hal itu terutama tampak dalam usahanya untuk menghijaukan kembali lahan kritis di Bukit Tunggal, yang terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya (Kalimantan Barat) pada tahun 2003-2008. Dalam usahanya untuk pelestarian alam ini, beliau tidak segan-segan untuk menginap di sebuah pondok sederhana yang diberinya nama Rumah Pelangi, sebuah tempat yang saat ini mulai ramai menjadi tempat wisata rohani dan ekologis.

Tidak mudah memang mengembangkan ide pelestarian alam seperti ini; banyak kekurangan finansial maupun rintangan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Namun seperti pepatah Latin mengatakan, per aspera ad astra (menuju bintang melalui jerih payah), demikianlah usaha keras seseorang pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Ketekunan dan keuletan Pastor Samuel membuahkan hasil yang memuaskan: beliau mendapat piagam penghargaan dari Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, bahkan pada tahun 2012 beliau mendapat hadiah Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia yang ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah pencapaian yang fantastis!

Tugas Pastor Samuel yang terakhir sebelum penunjukannya sebagai uskup adalah sebagai pastor kepala Paroki Santo Fransiskus Assisi, Tebet (Jakarta). Dan, pada hari ini – Rabu, 21 Desember 2016 – namanya diumumkan secara resmi di Vatican sebagai gembala utama di Keuskupan Sintang. Proficiat Bapa Uskup! Semoga menjadi gembala yang baik bagi umat Allah di tempat yang baru. – P. Pionius Hendi, OFMCap.


0
Baca Selengkapnya >>>

Saturday, October 29, 2016

Tidak diragukan lagi bahwa Pastor Bart Janssen, OFMCap. (3 Juli 1927 – 13 Oktober 2016) adalah permata yang sangat berharga, baik bagi persaudaraan Ordo Kapusin Belanda maupun Ordo Kapusin Indonesia, khususnya Ordo Kapusin Propinsi Pontianak. Beliau adalah seorang misionaris yang tangguh, bersemangat dan pantang menyerah. Beliau juga merupakan pimpinan Ordo Kapusin Propinsi Pontianak yang pertama, sebagai seorang peletak dasar yang kokoh bagi persaudaraan imam dan bruder Ordo Kapusin di Kalimantan Barat, Indonesia.

Berikut ini adalah “Kata Pengantar” dan “Renungan” yang disampaikan oleh P. Antoon Mars, OFMCap. (Guardian di Biara Kapusin Tilburg) pada saat acara perpisahan dan Misa Requiem yang dipersembahkan bagi almarhum P. Bart di Tilburg, Belanda, pada tanggal 18 Oktober 2016. Di dalamnya, banyak sekali informasi-informasi yang bernilai dan bersejarah. Team redaksi menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada P. Jan van Maurik, OFMCap. yang telah berjerih-payah untuk menerjemahkannya dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Selamat membaca...

***

KATA PENGANTAR 

Selamat datang saudara-saudari sekalian yang telah berkenan hadir untuk menghormati dan mensyukuri Sdr Bart Janssen karena hidupnya yang panjang dan lengkap, karena apa yang telah diperbuatnya dan karena siapa dia. Semoga kita berkumpul di sini dalam damai, atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Betapa indah rasanya Anda datang beramai-ramai: para Saudara Kapusin, terutama para mantan misionaris dari Kalimantan Barat dan para Saudara dari Biara Den Bosch, di mana Sdr Bart sempat tinggal selama sembilan tahun; para sanak-saudara, termasuk para cucunya – yang dengan tekun mengunjungi dia dan berada dekat bersamanya; para missionaris dari Ordo dan Kongregasi lain yang bekerjasama dengan dia; para petugas di rumah kami, terlebih mereka yang merawat Sdr Bart sampai akhir hayatnya; teman-teman dan para sahabatnya. 

Kita semua datang karena Sdr Bart telah menyelesaikan misinya. Kita memperingatinya dengan penuh rasa terima kasih bersama dengan semua orang di Kalimantan Barat, yang pada hari ini bersatu dengan kita, yaitu mereka yang di pelbagai tempat telah mengenalnya sebagai seorang misionaris yang rajin, seorang pekerja yang membanting-tulang demi Kerajaan Allah.

Sdr Bart adalah pertama-tama seorang misionaris: selama 48 tahun ia tinggal di Indonesia, yaitu dari tahun 1957 sampai tahun 2005. Misinya ialah membawa Yesus dan kabar baik-Nya karena ia yakin, bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Kristus adalah memang jalan keselamatan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita bagi semua orang yang siap dan sanggup membuka diri bagi-Nya. 

Lalu, waktu ia kembali pada tahun 2005, dia meneruskan misinya dan melengkapinya dengan pelayanannya bagi para Saudara di Den Bosch dan bagi banyak orang yang ia jumpai di luar biara pada berbagai kesempatan.

Sore ini, kita mensyukuri dan memuliakan Tuhan yang Mahatinggi karena Ia telah memanggil Bart – sebagai imam Kapusin – untuk pertama-tama menjadi seorang misionaris. Banyak yang telah dibangun oleh Bart dalam misinya, dan hidupnya sendiri dibangun di atas bukit batu. Dengan keteguhan hati dan iman yang optimis, ia telah menanggung bermacam-macam penyakit yang dideritanya secara jiwa-raga dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Teringat akan kenangan kita masing-masing mengenai Sdr Bart, marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah yang baik karena Sdr Bart telah sekian lama bersatu dengan kita. Dalam memimpin perayaan perpisahan ini, saya didampingi oleh Propinsial kami, Sdr Gerard Remmers, dan Sdr Jan Philippus, Guardian Biara Den Bosch, yang juga adalah seorang mantan misionaris Indonesia. Marilah kita terlebih dahulu mohon kerahiman Tuhan atas segala kekurangan kita.

RENUNGAN

Saudara-saudari, sanak-saudara dan sahabat-sahabat yang baik. Tepat kurang empatbelas hari, Bart telah tinggal dua tahun lamanya di bagian perawatan di rumah kami, setelah ia terkena stroke pada tanggal 21 Juli 2014 . Keadaannya waktu itu buruk, ia lumpuh sebelah. Perawatan pertama diterimanya di Maria Oord, Rosmalen. Disana, ia telah berusaha dengan sebaik-baiknya dan cukup berhasil dalam revalidasinya, sehingga pada tanggal 27 Oktober 2014 ia pindah ke sini, Tilburg. Dalam waktu dua tahun terakhir ini, kami semua sangat terkesan. Itulah sebabnya, saya memulai In Memoriam ini dalam lingkaran waktu ini, dari sejarah hidupnya yang panjang.

***

Inilah yang saya dengar pada hari-hari terakhir ini dari para Saudara dan para perawat: Sdr Bart sungguh seorang yang berjuang, yang pantang menyerah dan yang mau maju terus. “Segalanya akan beres,” demikian katanya berulang-ulang. Ia tekun latihan, jalan-jalan di biara dan ia yakin, bahwa ia akan bisa berjalan lagi dengan lancar. 

Ia biasanya menyinggung sebuah tulisan dari seorang profesor yang pernah mengalami hal yang sama sebagai pasien. Sdr Bart sungguh percaya bahwa ia akan sembuh. Kadang-kadang ia bertindak seolah-olah ia masih sanggup berbuat apa saja: memakai komputer, jalan-jalan ke luar biara, menerima tamu, bahkan ia menyempatkan diri setiap minggu untuk mengunjungi sebuah kelompok dari teman-teman senasib, yang mendorong dia untuk tetap bertahan. Menurut perasaannya, dia harus menghadiri setiap pertemuan di keluarganya atau di Biara Den Bosch, atau entah di mana saja...

Di samping semangatnya yang penuh kepercayaan ini, kadang-kadang ada juga sikapnya yang terlalu berani: ia kurang sanggup lagi menilai pembatasan-pembatasan dalam fungsi otaknya akibat stroke itu. Ia tetap yakin bahwa ia dapat melakukan hal-hal yang sebetulnya tak mungkin lagi diperbuatnya; itu terjadi sebagai akibat dari penyakitnya. Tetapi, ketekunannya untuk maju terus dan sikapnya yang pantang menyerah, sungguh mengagumkan. Kami semua benar-benar menyegani sikapnya itu… Lebih-lebih lagi, sesudah stroke-nya yang kedua: ia hampir tak dapat lagi berbicara dan menelan sesuatu. Makanannya diberikan melalui sonde sehingga ia tak dapat merasakan apa-apa, dan komunikasinya harus memakai sehelai karton dengan huruf-huruf di kursi rodanya. Namun ia tetap optimis dan bersemangat...

Mulai tanggal 06 September 2016 keadaannya memburuk, baik jiwa maupun badannya. Hari itu, kami para biarawan dan para petugas di rumah kami, jalan-jalan sambil berpiknik. Sdr Bart ikut, tetapi ia tak dapat menikmatinya benar; ia sedikit down dan nampak sedikit pucat. Sejak hari itulah, keadaannya lambat-laun menyusut, semangatnya tampak pudar dan ia tak sanggup lagi bertahan. Ia ingin meninggal, sudah baik dan selesai semuanya. Ia berpamitan, memberkati sanak-keluarganya, lalu kami pun memberkatinya. 

Namun Saudari Maut belum juga datang. Maka Sdr Bart minta lagi makanan serta mau memakai kursi rodanya. Dan keesokan harinya, ia duduk kembali di depan laptop dan tabletnya. Ia nampak juga di ruang doa dan ikut minum kopi dengan para Saudara di ruang rekreasi, namun ia tetap sangat lemah... Itulah keadaannya sampai pada hari Rabu yang lalu, waktu timbul komplikasi penyakitnya yang membutuhkan perawatan sementara di Rumah Sakit. 

Hari berikutnya (Kamis, 13 Oktober), ia terbaring terus di tempat tidurnya. Pikirannya terang, namun badannya letih. Dan tepat pada waktu kami sedang minum kopi, ia meninggal secara mendadak. Kami dengan sebulat hati menyerahkannya kepada Sang Penciptanya. Pada akhirnya ia boleh beristirahat, deritanya telah selesai; kita sungguh merelakan dia beristirahat.

***

Saya sempat mempelajari riwayat hidup Sdr Bart. Empat setengah tahun yang lalu, ia mengarangnya untuk seseorang dari Best (Belanda) yang ingin menerbitkan sebuah buku tentang para misionaris dari kota itu. Sdr Bart memakai karangannya sebagai ucapan Selamat Natal/Tahun Baru kepada sanak-saudaranya, dan menandatanganinya dengan nama “Paman Theo”. Dalam karangan ini, saya juga membaca tentang perjuangan, sikap pantang menyerah, dan keteguhan dari seorang “yang membangun rumah hidupnya di atas bukit batu”. Izinkanlah saya mengutip beberapa hal, kadang-kadang dengan perkataannya sendiri. 

Ibunya yang tercinta berasal dari kampung Langeweg (tempat Seminari Menengah Kapusin dahulu), sesuatu yang pasti mempengaruhi pilihannya untuk hidup sebagai Kapusin. Pada mulanya, ia harus ke Enschede (ada sebagian dari Seminari Menengah di sana). Perjalanannya ke Enschede lumayan jauh, tetapi ia dapat naik kereta api dengan murah karena ayahnya bekerja di Perusahaan Kereta Api. Kemudian, ia kembali ke Langeweg untuk meneruskan pendidikannya di Seminari. Di sana ia mengalami akibat Perang Dunia II, yang sempat menghancurkan Seminari itu; suatu masa yang penuh ketakutan. 

Setelah belajar di Seminari-Seminari Darurat di Eindhoven, Tilburg dan Voorschoten, maka Theo masuk novisiat di Enschede pada tahun 1946, dan menerima nama Bartholomeus yang disingkatkan menjadi Bart. Pada tahun 1953, ia ditahbiskan menjadi imam bersama 8 teman sekelasnya, hanya Sdr Anastasius yang masih hidup. 

Pada tahun 1954, ia dihunjuk untuk bertugas di daerah misi. Maka, ia mengikuti kursus-kursus khusus sebagai persiapan. Namun, visa ke Indonesia belum bisa diperolehnya saat itu. Waktunya kemudian diisi dengan pelayanan kepada para katekumen, asistensi-asistensi keliling, dan ia sempat bertugas satu tahun lamanya sebagai Pastor Pembantu di Paroki Charlois, Rotterdam. Pada tanggal 13 Juni 1957, ia berangkat ke Indonesia dengan naik kapal Willem Ruys dari pelabuhan Rotterdam. Maka mulailah pekerjaannya sebagai misionaris. 

Tempat tugasnya yang pertama adalah Jangkang Benua, bagian Timur dari Keuskupan Agung Pontianak. Perjalanannya yang pertama ke sana ditulisnya dengan teliti: “Berhari-hari lamanya kami berjalan. Semuanya serba primitif: tak ada alat komunikasi, tiada surat kabar selama bulan-bulan lamanya, taraf kehidupan rendah, bahasanya sulit, makanannya kurang biasa, pemondokan sangat sederhana, hanya bisa jalan kaki atau naik perahu di sungai.” Kadang-kadang ia bertindak sebagai ‘dokter’ dan membagikan obat-obatan. “Setelah tiga tahun, saya terkena sakit lambung dan dioperasi di Pontianak. Walaupun hidup di sana agak berat, namun itulah waktu saya yang paling memuaskan, penuh petualangan dan kaya akan kenang-kenangan...” Kemudian, ia bertugas sebagai pastor di Bodok dan Pahauman. Di antaranya, ia sebentar melayani di Singkawang sebagai pemimpin bruder-bruder muda. 

Habis liburannya yang pertama (1965), ia menerima tugas sebagai pastor paroki Santo Fransiskus di Jakarta. Hidupnya sebagai misionaris berubah drastis. Dari pihak keuskupan, ia menerima sebuah motor Vespa. Pada mulanya, ia membangun sebuah Sekolah Dasar, yang mana pada tahun 1968, Barack Obama (dengan nama Barry Suntoro) termasuk salah satu muridnya di kelas 1. Komplek paroki itu dilengkapi dengan sekolah-sekolah, gereja, klinik dan fasilitas organisasi-organisasi... Rumah-rumah ini pun dibangun di atas bukit batu. Ia berusaha terus-menerus sampai semuanya berfungsi sebagaimana mestinya. Duapuluh tahun lamanya Sdr Bart tinggal di Jakarta. 

Sesuatu yang menonjol adalah keterlibatannya dalam gerakan “Marriage Encounter”, yang bertujuan membantu pasangan suami-isteri untuk berkomunikasi satu sama lain. “Saya bahkan turut serta dalam kepemimpinannya, memimpin banyak weekend di kota-kota besar di Indonesia dan mengikuti konferensi-konferensi setingkat Asia. Maka, saya telah mengunjungi kongres-kongres di Seoul, Manila, Singapura, Sri Lanka, Bombay dan Tokyo”. Pelayanan ini tetap sangat menarik bagi Sdr Bart.

Kembali ke Kalimantan Barat (tahun 1968), ia ditempatkan di Sanggau Kapuas menjadi ekonom untuk Keuskupan Sanggau, dan kemudian juga ekonom bagi persaudaraan Kapusin di Regio Pontianak. Di antaranya, ia sempat mengambil bagian dalam kepemimpinan propinsi, tetapi juga diminta untuk meneruskan tugasnya membangun sebuah rumah retret dan kantor propinsialat yang baru. Pada tahun 1991, ia dipilih menjadi Superior Kapusin. Lalu pada tahun 1994, ia dihunjuk menjadi Propinsial pertama untuk Ordo Kapusin Propinsi Pontianak (1994 – 1997).

Sdr Bart bertambah tua, dan pada tahun 2001 ia harus menjalani operasi jantung. Setelah sembuh, ia masih sempat bertugas selama tiga tahun di Pontianak. Pada tahun 2005, ia pulang untuk selamanya ke Negeri Belanda. 48 Tahun lamanya ia bekerja sebagai seorang misionaris. Ia merasa bangga dengan itu.

***

Ia sempat menyinggung situasi gerejawi dan hidup kepercayaan di Negeri Belanda. “Kepercayaan di sini hampir hilang seluruhnya. Mungkin akibat perbedaan budaya dengan dunia Timur/Selatan, maka saya merasa diri tidak sungguh-sungguh ‘at home’. Untunglah, saya masih dapat bekerja sedikit, selama saya masih sehat.”... Bart mengisi waktunya dengan menerjemahkan teks-teks, dengan kontak bersama para mantan misionaris, dengan asistensi ke susteran JMJ, dengan sewaktu-waktu memimpin Misa dalam bahasa Indonesia, dengan tugasnya sebagai anggota pimpinan biara dan sebagai ekonom biara.

Demikianlah Saudara Bart Janssen: ia seorang yang ramah, tetapi kadang-kadang tegas dalam soal hukum Gereja. Ia seorang yang rajin berusaha, suka berbelanja dan membeli barang-barang di toko; ia selalu mengantongi sejumlah dollar. Ia getol memakai barang: secara teknis, ada segala macam kemudahan padanya. Maka dapat dimengerti bahwa ia gemar akan usaha bangunan. Pada saat bersamaan, Sdr Bart adalah seorang imam yang saleh dengan devosi kuat terhadap Padre Pio serta Bunda Maria. Keduanya dihormatinya dengan sangat. 

Sdr Bart tinggalkan jejak-jejaknya, di mana saja ia telah sempat berada, dan terutama oleh karena kepribadiannya: ia adalah seorang yang bersemangat, seorang optimis yang beriman teguh, yang membangun rumahnya di atas fondasi yang kokoh. 

Salah seorang perawat di rumah kami mengatakan, bahwa Sdr Bart pada akhirnya dapat menikmati santapan yang lezat sesudah sekian bulan, dengan menyalurkan makanan itu melalui sonde; ia sungguh-sungguh menikmatinya sedemikian rupa, katanya. Saya rasa, bahwa itulah yang dimaksudkan ketika kita berkata: semoga ia untuk selamanya terlindung dalam cinta Allah. Saudara Bart, terima kasih atas semuanya dan beristirahatlah dalam damai. (P. Antoon Mars, OFMCap.) – Penerjemah: P. Jan van Maurik, OFMCap.

***

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25).



0
Baca Selengkapnya >>>