Slider Background

Main Text

Ordo Kapusin Pontianak

Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudara Dina:
Menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.

BERITA TERBARU

BERKENALAN DENGAN ORDO KAPUSIN

(Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum - OFMCAP)

Service Section


Siapakah Kami?

Fondasi utama Ordo Saudara Dina Kapusin berlandaskan pada teladan Bapa Serafik, Santo Fransiskus Assisi.


Kharisma Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin muncul karena kerinduan mereka akan gaya hidup asketik yang lebih keras.


Spiritualitas Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memberikan penekanan pada Ekaristi, teologi salib, Mariologi, kontemplasi dan kemiskinan.


Pelayanan Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin melayani beraneka-ragam bidang karya pastoral dan kategorial seturut tuntutan zaman.


Pendidikan dalam Ordo Kapusin

Para calon imam/bruder Kapusin ditempa dengan aneka ilmu pengetahuan, terutama spiritualitas, filsafat dan teologi.


Para Kudus Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memiliki orang-orang kudus, yang telah memberikan kontribusinya bagi perkembangan Gereja.

Visi dan Misi Ordo Saudara Dina Kapusin Pontianak

VISI KAMI:
Saudara-Saudara Dina Kapusin Pontianak adalah Persaudaraan Injili yang dipanggil dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah seturut teladan St. Fransiskus Assisi dalam semangat keberpihakan kepada orang miskin, tak berdaya dan sakit, serta lingkungan hidup.

MISI KAMI:
1) Membangun dan meningkatkan persaudaraan dina yang tekun berdoa dan bekerja dengan setia dan bakti.
2) Membangun Gereja dan masyarakat yang bersaudara dengan semua dan dengan berpihak kepada yang miskin, tak berdaya dan sakit.
BICI No. 296 English - OLD BICI No. 297 English - NEW



MENGAPA BERGABUNG DENGAN ORDO KAPUSIN PONTIANAK?

Kami dipanggil untuk mengabdi Allah dan Gereja Kudus melalui cara hidup yang khusus,
dengan meneladani jejak Santo Fransiskus Assisi dan dalam semangat pembaharuan Ordo Kapusin.
Dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, kami diutus untuk melayani ke berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.


<<< Semua berita >>>

Kami adalah Pendoa

Kami ini Bersaudara

Kami Melayani Kaum Papa

Kami Pembela Lingkungan Hidup

Saturday, October 29, 2016

Tidak diragukan lagi bahwa Pastor Bart Janssen, OFMCap. (3 Juli 1927 – 13 Oktober 2016) adalah permata yang sangat berharga, baik bagi persaudaraan Ordo Kapusin Belanda maupun Ordo Kapusin Indonesia, khususnya Ordo Kapusin Propinsi Pontianak. Beliau adalah seorang misionaris yang tangguh, bersemangat dan pantang menyerah. Beliau juga merupakan pimpinan Ordo Kapusin Propinsi Pontianak yang pertama, sebagai seorang peletak dasar yang kokoh bagi persaudaraan imam dan bruder Ordo Kapusin di Kalimantan Barat, Indonesia.

Berikut ini adalah “Kata Pengantar” dan “Renungan” yang disampaikan oleh P. Antoon Mars, OFMCap. (Guardian di Biara Kapusin Tilburg) pada saat acara perpisahan dan Misa Requiem yang dipersembahkan bagi almarhum P. Bart di Tilburg, Belanda, pada tanggal 18 Oktober 2016. Di dalamnya, banyak sekali informasi-informasi yang bernilai dan bersejarah. Team redaksi menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada P. Jan van Maurik, OFMCap. yang telah berjerih-payah untuk menerjemahkannya dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Selamat membaca...

***

KATA PENGANTAR 

Selamat datang saudara-saudari sekalian yang telah berkenan hadir untuk menghormati dan mensyukuri Sdr Bart Janssen karena hidupnya yang panjang dan lengkap, karena apa yang telah diperbuatnya dan karena siapa dia. Semoga kita berkumpul di sini dalam damai, atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Betapa indah rasanya Anda datang beramai-ramai: para Saudara Kapusin, terutama para mantan misionaris dari Kalimantan Barat dan para Saudara dari Biara Den Bosch, di mana Sdr Bart sempat tinggal selama sembilan tahun; para sanak-saudara, termasuk para cucunya – yang dengan tekun mengunjungi dia dan berada dekat bersamanya; para missionaris dari Ordo dan Kongregasi lain yang bekerjasama dengan dia; para petugas di rumah kami, terlebih mereka yang merawat Sdr Bart sampai akhir hayatnya; teman-teman dan para sahabatnya. 

Kita semua datang karena Sdr Bart telah menyelesaikan misinya. Kita memperingatinya dengan penuh rasa terima kasih bersama dengan semua orang di Kalimantan Barat, yang pada hari ini bersatu dengan kita, yaitu mereka yang di pelbagai tempat telah mengenalnya sebagai seorang misionaris yang rajin, seorang pekerja yang membanting-tulang demi Kerajaan Allah.

Sdr Bart adalah pertama-tama seorang misionaris: selama 48 tahun ia tinggal di Indonesia, yaitu dari tahun 1957 sampai tahun 2005. Misinya ialah membawa Yesus dan kabar baik-Nya karena ia yakin, bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Kristus adalah memang jalan keselamatan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita bagi semua orang yang siap dan sanggup membuka diri bagi-Nya. 

Lalu, waktu ia kembali pada tahun 2005, dia meneruskan misinya dan melengkapinya dengan pelayanannya bagi para Saudara di Den Bosch dan bagi banyak orang yang ia jumpai di luar biara pada berbagai kesempatan.

Sore ini, kita mensyukuri dan memuliakan Tuhan yang Mahatinggi karena Ia telah memanggil Bart – sebagai imam Kapusin – untuk pertama-tama menjadi seorang misionaris. Banyak yang telah dibangun oleh Bart dalam misinya, dan hidupnya sendiri dibangun di atas bukit batu. Dengan keteguhan hati dan iman yang optimis, ia telah menanggung bermacam-macam penyakit yang dideritanya secara jiwa-raga dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Teringat akan kenangan kita masing-masing mengenai Sdr Bart, marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah yang baik karena Sdr Bart telah sekian lama bersatu dengan kita. Dalam memimpin perayaan perpisahan ini, saya didampingi oleh Propinsial kami, Sdr Gerard Remmers, dan Sdr Jan Philippus, Guardian Biara Den Bosch, yang juga adalah seorang mantan misionaris Indonesia. Marilah kita terlebih dahulu mohon kerahiman Tuhan atas segala kekurangan kita.

RENUNGAN

Saudara-saudari, sanak-saudara dan sahabat-sahabat yang baik. Tepat kurang empatbelas hari, Bart telah tinggal dua tahun lamanya di bagian perawatan di rumah kami, setelah ia terkena stroke pada tanggal 21 Juli 2014 . Keadaannya waktu itu buruk, ia lumpuh sebelah. Perawatan pertama diterimanya di Maria Oord, Rosmalen. Disana, ia telah berusaha dengan sebaik-baiknya dan cukup berhasil dalam revalidasinya, sehingga pada tanggal 27 Oktober 2014 ia pindah ke sini, Tilburg. Dalam waktu dua tahun terakhir ini, kami semua sangat terkesan. Itulah sebabnya, saya memulai In Memoriam ini dalam lingkaran waktu ini, dari sejarah hidupnya yang panjang.

***

Inilah yang saya dengar pada hari-hari terakhir ini dari para Saudara dan para perawat: Sdr Bart sungguh seorang yang berjuang, yang pantang menyerah dan yang mau maju terus. “Segalanya akan beres,” demikian katanya berulang-ulang. Ia tekun latihan, jalan-jalan di biara dan ia yakin, bahwa ia akan bisa berjalan lagi dengan lancar. 

Ia biasanya menyinggung sebuah tulisan dari seorang profesor yang pernah mengalami hal yang sama sebagai pasien. Sdr Bart sungguh percaya bahwa ia akan sembuh. Kadang-kadang ia bertindak seolah-olah ia masih sanggup berbuat apa saja: memakai komputer, jalan-jalan ke luar biara, menerima tamu, bahkan ia menyempatkan diri setiap minggu untuk mengunjungi sebuah kelompok dari teman-teman senasib, yang mendorong dia untuk tetap bertahan. Menurut perasaannya, dia harus menghadiri setiap pertemuan di keluarganya atau di Biara Den Bosch, atau entah di mana saja...

Di samping semangatnya yang penuh kepercayaan ini, kadang-kadang ada juga sikapnya yang terlalu berani: ia kurang sanggup lagi menilai pembatasan-pembatasan dalam fungsi otaknya akibat stroke itu. Ia tetap yakin bahwa ia dapat melakukan hal-hal yang sebetulnya tak mungkin lagi diperbuatnya; itu terjadi sebagai akibat dari penyakitnya. Tetapi, ketekunannya untuk maju terus dan sikapnya yang pantang menyerah, sungguh mengagumkan. Kami semua benar-benar menyegani sikapnya itu… Lebih-lebih lagi, sesudah stroke-nya yang kedua: ia hampir tak dapat lagi berbicara dan menelan sesuatu. Makanannya diberikan melalui sonde sehingga ia tak dapat merasakan apa-apa, dan komunikasinya harus memakai sehelai karton dengan huruf-huruf di kursi rodanya. Namun ia tetap optimis dan bersemangat...

Mulai tanggal 06 September 2016 keadaannya memburuk, baik jiwa maupun badannya. Hari itu, kami para biarawan dan para petugas di rumah kami, jalan-jalan sambil berpiknik. Sdr Bart ikut, tetapi ia tak dapat menikmatinya benar; ia sedikit down dan nampak sedikit pucat. Sejak hari itulah, keadaannya lambat-laun menyusut, semangatnya tampak pudar dan ia tak sanggup lagi bertahan. Ia ingin meninggal, sudah baik dan selesai semuanya. Ia berpamitan, memberkati sanak-keluarganya, lalu kami pun memberkatinya. 

Namun Saudari Maut belum juga datang. Maka Sdr Bart minta lagi makanan serta mau memakai kursi rodanya. Dan keesokan harinya, ia duduk kembali di depan laptop dan tabletnya. Ia nampak juga di ruang doa dan ikut minum kopi dengan para Saudara di ruang rekreasi, namun ia tetap sangat lemah... Itulah keadaannya sampai pada hari Rabu yang lalu, waktu timbul komplikasi penyakitnya yang membutuhkan perawatan sementara di Rumah Sakit. 

Hari berikutnya (Kamis, 13 Oktober), ia terbaring terus di tempat tidurnya. Pikirannya terang, namun badannya letih. Dan tepat pada waktu kami sedang minum kopi, ia meninggal secara mendadak. Kami dengan sebulat hati menyerahkannya kepada Sang Penciptanya. Pada akhirnya ia boleh beristirahat, deritanya telah selesai; kita sungguh merelakan dia beristirahat.

***

Saya sempat mempelajari riwayat hidup Sdr Bart. Empat setengah tahun yang lalu, ia mengarangnya untuk seseorang dari Best (Belanda) yang ingin menerbitkan sebuah buku tentang para misionaris dari kota itu. Sdr Bart memakai karangannya sebagai ucapan Selamat Natal/Tahun Baru kepada sanak-saudaranya, dan menandatanganinya dengan nama “Paman Theo”. Dalam karangan ini, saya juga membaca tentang perjuangan, sikap pantang menyerah, dan keteguhan dari seorang “yang membangun rumah hidupnya di atas bukit batu”. Izinkanlah saya mengutip beberapa hal, kadang-kadang dengan perkataannya sendiri. 

Ibunya yang tercinta berasal dari kampung Langeweg (tempat Seminari Menengah Kapusin dahulu), sesuatu yang pasti mempengaruhi pilihannya untuk hidup sebagai Kapusin. Pada mulanya, ia harus ke Enschede (ada sebagian dari Seminari Menengah di sana). Perjalanannya ke Enschede lumayan jauh, tetapi ia dapat naik kereta api dengan murah karena ayahnya bekerja di Perusahaan Kereta Api. Kemudian, ia kembali ke Langeweg untuk meneruskan pendidikannya di Seminari. Di sana ia mengalami akibat Perang Dunia II, yang sempat menghancurkan Seminari itu; suatu masa yang penuh ketakutan. 

Setelah belajar di Seminari-Seminari Darurat di Eindhoven, Tilburg dan Voorschoten, maka Theo masuk novisiat di Enschede pada tahun 1946, dan menerima nama Bartholomeus yang disingkatkan menjadi Bart. Pada tahun 1953, ia ditahbiskan menjadi imam bersama 8 teman sekelasnya, hanya Sdr Anastasius yang masih hidup. 

Pada tahun 1954, ia dihunjuk untuk bertugas di daerah misi. Maka, ia mengikuti kursus-kursus khusus sebagai persiapan. Namun, visa ke Indonesia belum bisa diperolehnya saat itu. Waktunya kemudian diisi dengan pelayanan kepada para katekumen, asistensi-asistensi keliling, dan ia sempat bertugas satu tahun lamanya sebagai Pastor Pembantu di Paroki Charlois, Rotterdam. Pada tanggal 13 Juni 1957, ia berangkat ke Indonesia dengan naik kapal Willem Ruys dari pelabuhan Rotterdam. Maka mulailah pekerjaannya sebagai misionaris. 

Tempat tugasnya yang pertama adalah Jangkang Benua, bagian Timur dari Keuskupan Agung Pontianak. Perjalanannya yang pertama ke sana ditulisnya dengan teliti: “Berhari-hari lamanya kami berjalan. Semuanya serba primitif: tak ada alat komunikasi, tiada surat kabar selama bulan-bulan lamanya, taraf kehidupan rendah, bahasanya sulit, makanannya kurang biasa, pemondokan sangat sederhana, hanya bisa jalan kaki atau naik perahu di sungai.” Kadang-kadang ia bertindak sebagai ‘dokter’ dan membagikan obat-obatan. “Setelah tiga tahun, saya terkena sakit lambung dan dioperasi di Pontianak. Walaupun hidup di sana agak berat, namun itulah waktu saya yang paling memuaskan, penuh petualangan dan kaya akan kenang-kenangan...” Kemudian, ia bertugas sebagai pastor di Bodok dan Pahauman. Di antaranya, ia sebentar melayani di Singkawang sebagai pemimpin bruder-bruder muda. 

Habis liburannya yang pertama (1965), ia menerima tugas sebagai pastor paroki Santo Fransiskus di Jakarta. Hidupnya sebagai misionaris berubah drastis. Dari pihak keuskupan, ia menerima sebuah motor Vespa. Pada mulanya, ia membangun sebuah Sekolah Dasar, yang mana pada tahun 1968, Barack Obama (dengan nama Barry Suntoro) termasuk salah satu muridnya di kelas 1. Komplek paroki itu dilengkapi dengan sekolah-sekolah, gereja, klinik dan fasilitas organisasi-organisasi... Rumah-rumah ini pun dibangun di atas bukit batu. Ia berusaha terus-menerus sampai semuanya berfungsi sebagaimana mestinya. Duapuluh tahun lamanya Sdr Bart tinggal di Jakarta. 

Sesuatu yang menonjol adalah keterlibatannya dalam gerakan “Marriage Encounter”, yang bertujuan membantu pasangan suami-isteri untuk berkomunikasi satu sama lain. “Saya bahkan turut serta dalam kepemimpinannya, memimpin banyak weekend di kota-kota besar di Indonesia dan mengikuti konferensi-konferensi setingkat Asia. Maka, saya telah mengunjungi kongres-kongres di Seoul, Manila, Singapura, Sri Lanka, Bombay dan Tokyo”. Pelayanan ini tetap sangat menarik bagi Sdr Bart.

Kembali ke Kalimantan Barat (tahun 1968), ia ditempatkan di Sanggau Kapuas menjadi ekonom untuk Keuskupan Sanggau, dan kemudian juga ekonom bagi persaudaraan Kapusin di Regio Pontianak. Di antaranya, ia sempat mengambil bagian dalam kepemimpinan propinsi, tetapi juga diminta untuk meneruskan tugasnya membangun sebuah rumah retret dan kantor propinsialat yang baru. Pada tahun 1991, ia dipilih menjadi Superior Kapusin. Lalu pada tahun 1994, ia dihunjuk menjadi Propinsial pertama untuk Ordo Kapusin Propinsi Pontianak (1994 – 1997).

Sdr Bart bertambah tua, dan pada tahun 2001 ia harus menjalani operasi jantung. Setelah sembuh, ia masih sempat bertugas selama tiga tahun di Pontianak. Pada tahun 2005, ia pulang untuk selamanya ke Negeri Belanda. 48 Tahun lamanya ia bekerja sebagai seorang misionaris. Ia merasa bangga dengan itu.

***

Ia sempat menyinggung situasi gerejawi dan hidup kepercayaan di Negeri Belanda. “Kepercayaan di sini hampir hilang seluruhnya. Mungkin akibat perbedaan budaya dengan dunia Timur/Selatan, maka saya merasa diri tidak sungguh-sungguh ‘at home’. Untunglah, saya masih dapat bekerja sedikit, selama saya masih sehat.”... Bart mengisi waktunya dengan menerjemahkan teks-teks, dengan kontak bersama para mantan misionaris, dengan asistensi ke susteran JMJ, dengan sewaktu-waktu memimpin Misa dalam bahasa Indonesia, dengan tugasnya sebagai anggota pimpinan biara dan sebagai ekonom biara.

Demikianlah Saudara Bart Janssen: ia seorang yang ramah, tetapi kadang-kadang tegas dalam soal hukum Gereja. Ia seorang yang rajin berusaha, suka berbelanja dan membeli barang-barang di toko; ia selalu mengantongi sejumlah dollar. Ia getol memakai barang: secara teknis, ada segala macam kemudahan padanya. Maka dapat dimengerti bahwa ia gemar akan usaha bangunan. Pada saat bersamaan, Sdr Bart adalah seorang imam yang saleh dengan devosi kuat terhadap Padre Pio serta Bunda Maria. Keduanya dihormatinya dengan sangat. 

Sdr Bart tinggalkan jejak-jejaknya, di mana saja ia telah sempat berada, dan terutama oleh karena kepribadiannya: ia adalah seorang yang bersemangat, seorang optimis yang beriman teguh, yang membangun rumahnya di atas fondasi yang kokoh. 

Salah seorang perawat di rumah kami mengatakan, bahwa Sdr Bart pada akhirnya dapat menikmati santapan yang lezat sesudah sekian bulan, dengan menyalurkan makanan itu melalui sonde; ia sungguh-sungguh menikmatinya sedemikian rupa, katanya. Saya rasa, bahwa itulah yang dimaksudkan ketika kita berkata: semoga ia untuk selamanya terlindung dalam cinta Allah. Saudara Bart, terima kasih atas semuanya dan beristirahatlah dalam damai. (P. Antoon Mars, OFMCap.) – Penerjemah: P. Jan van Maurik, OFMCap.

***

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25).



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, October 19, 2016

Masa Muda 

Pastor Bartholomeus Theo Janssen OFMCap., atau yang sering disapa sebagai Pastor Bart, lahir di Eindhoven, Belanda, pada tanggal 3 Juli 1927. Beliau adalah anak yang tertua dari 9 bersaudara. Sejak masih kanak-kanak, beliau memiliki devosi khusus kepada Santa Perawan Maria. 

Maka tidak mengherankan, jika kecintaannya terhadap Bunda Maria telah mengantarkannya masuk ke Novisiat Kapusin pada tanggal 30 Agustus 1946 di Belanda. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1947, beliau mengucapkan kaul perdananya yang menjadi tanda bahwa beliau resmi sebagai anggota persaudaraan Ordo Kapusin Propinsi Belanda. 

Perjalanannya sebagai seorang saudara Kapusin dijalaninya dengan penuh kesetiaan. Itulah sebabnya, pada tanggal 31 Agustus 1950 beliau berani mengikrarkan kaul kekal, yang menandakan keputusan finalnya untuk menjadi anggota tetap persaudaraan Ordo Kapusin Belanda untuk selama-lamanya. Tiga tahun berikutnya, beliau menerima tahbisan imamat pada tanggal 04 Agustus 1953. 



Semangat Misioner 


Konstitusi Ordo Kapusin no. 174, 4 menyatakan bahwa “Ordo kita menerima tugas mewartakan Injil sebagai kewajibannya yang khas, biarpun, termasuk tanggungjawab seluruh Gereja. Kita memandang dan menerima karya misi itu sebagai salah satu dari usaha kerasulan kita yang terpenting.” Kata-kata indah dalam konstitusi ini telah mengobarkan semangatnya untuk menjadi seorang misionaris. Beliau ditunjuk untuk mengembangkan misi di Kalimantan Barat (West Borneo). Pada tanggal 09 Juli 1957, beliau menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di bumi Borneo. 

Pada awal karya misinya, beliau aktif melayani di pedalaman Jangkang Benua. Tiga tahun kemudian, beliau pindah ke Bodok. Tak lama sesudahnya, beliau pun ditugaskan ke Singkawang sebagai pemimpin para saudara muda. Dari sana, beliau lalu menjadi pastor rekan di Pahauman. 

Pada awalnya, Ordo Kapusin di Indonesia masih ditangani oleh tenaga misionaris dari Belanda. Pimpinan Ordo Kapusin saat itu disebut sebagai Superior Regularis. Waktu itu, Vikarius Apostolik untuk Borneo, Mgr. Herkulanus J.M. van den Burgt, OFMCap. (13 Juli 1957 - 02 Juli 1976) meminta agar Superior Regularis Ordo Kapusin membuka sebuah rumah persaudaraan Kapusin di Jakarta. 

Untuk kebutuhan itu, P. Bart diutus ke Jakarta pada tanggal 31 Agustus 1966. Beliau ditugaskan untuk mempersiapkan wilayah Menteng Dalam dan Tebet menjadi paroki mandiri (Paroki St Fransiskus Assisi), terpisah dari tiga paroki sekitarnya. Selama kurang lebih setengah tahun, beliau menjalankan tugasnya dari sebuah pastoran Serikat Jesuit (SJ) di Bidara Cina. Misi awal di Paroki Tebet ini tidaklah berjalan mulus dan damai karena letaknya di tengah daerah pemukiman muslim. Namun dengan adanya pembangunan sekolah, aula, dan poliklinik – lewat kerjasama dengan para suster SFIC, maka perlahan-lahan konflik tersebut mereda. 

Selama pelayanannya 20 tahun di Jakarta, P. Bart merupakan sosok yang aktif dalam gerakan Marriage Encounter (ME). Beliau mendampingi pasangan-pasangan yang hendak menikah dan meletakkan fondasi iman bagi perkawinan mereka. Selain itu, P. Bart juga pernah menjabat sebagai ekonom di Keuskupan Sanggau; menjadi pastor paroki di Paroki Sungai Raya, Pontianak; dan menggagas berdirinya Rumah Retret Tirta Ria dan Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak. Beliau memiliki wawasan praktis, bekerja cekatan dan memiliki penilaian yang seimbang atas setiap orang, yang menjadikannya layak sebagai pemimpin yang berkualitas. 



Minister Propinsial Pertama


Sementara itu, banyak sekali perubahan yang telah terjadi dalam wajah Gereja Katolik di Indonesia. Setelah lewat pertimbangan yang matang, maka pada tanggal 31 Januari 1976, Ordo Kapusin di Indonesia mulai berkembang dan dibagi menjadi tiga regio (Medan, Pontianak dan Sibolga). Pimpinan tertinggi regio itu disebut Superior Regionis. Ada dua nama Superior Regionis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu, yakni P. Amantius Pijnenburg (1975-1981) dan P. Franz Xaver Brantschen (1981-1990). 

Pada tahun 1990, P. Bart terpilih sebagai Superior Regionis yang terakhir, sebelum terbentuknya tiga propinsi mandiri pada tanggal 21 Februari 1994. Setelah meletakkan dasar bersejarah ini, beliau kemudian terpilih menjadi Minister Propinsial pertama Ordo Kapusin Propinsi Santa Maria Ratu Para Malaikat, Pontianak, untuk periode 1994-1997. 

Setelah pensiun dari tugasnya sebagai pimpinan ordo, P. Bart banyak menghabiskan waktunya untuk pelayanan bagi persaudaraan, terutama managemen perpustakaan ordo di Tirta Ria, Pontianak, di samping tugas-tugas parokial dan kategorial lainnya. Singkatnya, beliau telah memberikan pelayanan yang terbaik bagi perkembangan Ordo Kapusin dan Gereja Katolik di Indonesia.



Masa Tua 


Keinginan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman dan juga karena kondisi fisik yang semakin menurun telah memaksa P. Bart untuk kembali ke negara asalnya, Belanda. Pada tahun 2005, beliau kembali ke propinsi induknya dan tinggal di Den Bosch. Di sana, beliau bertanggung jawab sebagai ekonom rumah, aktif melayani di gereja lokal, dan memimpin kelompok doa Padre Pio. 

Pada tahun 2014, P. Bart menderita stroke, setengah badannya lumpuh. Kendati demikian, beliau tetap ceria dan optimis. Beliau tetap aktif dengan komputer, selalu siap menerima kunjungan dan berterima kasih untuk setiap perhatian yang diberikan kepadanya. Namun, situasinya memburuk setelah serangan jantung kedua yang menyebabkannya hampir tidak bisa berbicara dan menelan makanan. 

Akhirnya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 13 Oktober 2016 di biara Kapusin di Tilburg, setelah menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Beliau menutup usia pada umur 89 tahun, setelah mengabdi selama 70 tahun sebagai anggota Ordo Kapusin Propinsi Belanda, 63 tahun sebagai imam Kapusin dan 48 tahun sebagai misionaris di Indonesia. 

Misa requiem dan pemakaman dilaksanakan di Gereja Biara Kapusin Korvelseweg (Korvelseweg 165, 5025 JD Tilburg) pada hari Selasa, 18 Oktober 2016 pada pukul 15.00 waktu di Belanda. Semoga Allah, sumber segala kebaikan membawanya pada sukacita abadi. Selamat jalan pater tercinta, doakanlah kami yang masih berjuang di dunia ini. - P. Pionius Hendi, OFMCap.



>>> KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT VIDEO SINGKATNYA <<<


Beberapa foto terakhir Pastor Bart Janssen, OFMCap.

(Kontributor: Br. Jan Wijnans, OFMCap. & Br. Wilhelmus Baknenok, OFMCap.)



0
Baca Selengkapnya >>>

Sunday, June 26, 2016

Ordo Saudara-saudara Dina lahir pada tanggal 16 April 1209, ketika Fransiskus Assisi bersama Bernardus dari Quintavalle dan Petrus Catanii tiga kali membuka buku Injil dan melaksanakan Sabda Allah yang mereka temukan itu. Fransiskus mencatatnya dalam sebuah Anggaran Dasar singkat yang disahkan secara lisan oleh Paus Innocentius III.

Fransiskus adalah pemimpin dan pendiri Ordo yang baru ini, dan ia pula yang memilih namanya: "Ordo Saudara-saudara Dina" (Ordo Fratrum Minorum). Ordo ini berkembang dengan pesatnya, di Eropa dan juga di Timur Tengah. Para saudara hidup sebagai perantau dan pewarta Injil, di bawah bimbingan satu minister dan hamba seluruh persaudaraan. Dari waktu ke waktu, mereka semua berkumpul untuk membicarakan cara hidup mereka dan menimba semangat baru. Cara hidup mereka dilukiskan dalam Anggaran Dasar yang mengikuti perkembangan hidup persaudaraan. Pada tanggal 29 Nopember 1223, Paus Honorius III mengesahkan Anggaran Dasar ini secara definitif.

Cara hidup Saudara-saudara Dina memang baru dan sangat menarik bagi banyak orang, tetapi tidak selalu mudah. Hidup merantau sambil mewartakan Injil menuntut semangat religius sejati dan hanya cocok bagi orang yang matang. Padahal, mula-mula penyaringan calon dan pendidikan saudara baru kurang diperhatikan. Sehingga ada saudara yang hidup secara tak teratur, yang berkeliaran di luar ketaatan, dan ketularan ajaran sesat (bidaah). Demikian pula persaudaraan muda ini telah tergantung dari pribadi Fransiskus sendiri.

Untuk menanggulangi kesulitan itu, Fransiskus minta bantuan Kuria Roma, khususnya Kardinal Hugolino, yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX. Maka para calon diwajibkan menempuh tahun novisiat sebelum mengucapkan kaul. Para saudara mulai menetap di rumah biara yang dipimpin oleh seorang guardian dan mempunyai tata harian seperti lazim bagi semua biarawan. Ikatan dengan Gereja diperteguh melalui jabatan kardinal protektor, dan bahaya bidaah ditangkis dengan pen- didikan teologi yang baik.

Ketika Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1226, Ordo Saudara-saudara Dina tersebar di hampir seluruh Eropah dan di Timur Tengah. Jumlah saudara kira-kira 5000 orang, terbagi atas 12 - 13 propinsi.

(Sumber: Sejarah Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin 1525-1990. Parapat: 1990).
0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, June 1, 2016

BRISBANE - Sekularisasi dan modernisasi tidak menyurutkan semangat umat Katolik dalam menghayati dan menghidupi imannya. Sebaliknya, hal itu justru menantang mereka untuk semakin berani menampakkan diri sebagai saksi Kristus di dalam dunia. Semangat itulah yang tampak nyata dalam kegiatan Corpus Christi Procession yang diadakan pada hari Minggu, 29 Mei 2016 di Katedral St Stephen, Brisbane (Australia).

Uskup Agung Brisbane, Mark Coleridge D.D., mengizinkan agar prosesi yang biasanya dilaksanakan di luar kota ini, pada tahun 2016 ini, bisa dilakukan di tengah-tengah keramaian kota Brisbane. Dan itulah yang memang terjadi. 

Kegiatan ini diawali dengan doa Rosario pembuka pada jam 1.30 siang. Perarakan kemudian dimulai tepat pada jam 2.00 siang, dipimpin oleh Uskup Auxilier Brisbane, Joseph Oudeman OFMCap. dengan didampingi oleh misdinar, seminaris, suster-suster dan para imam, termasuk beberapa imam dari Ritus Timur. Dalam perarakan ini, Sakramen Mahakudus ditakhtakan dalam sebuah monstran indah dan ditudungi. Sementara itu, umat yang jumlahnya lebih dari 1000 orang mengikuti dari belakang. 

Mereka berjalan selama kurang lebih dua jam melintasi jalan-jalan dan keramaian kota Brisbane di hari Minggu. Sepanjang perjalanan, kidung puji-pujian dilantunkan, doa Rosario didaraskan, dan ujud-ujud pribadi dipanjatkan. Lewat perarakan ini, umat Katolik menguduskan kota Brisbane bagi Kristus. Mereka benar-benar menerapkan apa yang pernah dikatakan oleh St Yohanes Paulus II, “Jangan takut membawa Kristus ke jalan-jalan.”

Perarakan ini turut pula dimeriahkan dengan aneka spanduk atau umbul-umbul yang berasal dari kelompok-kelompok doa di paroki-paroki, seperti Legio Maria dan aneka persekutuan doa. Hadir juga komunitas-komunitas etnis dengan aneka coraknya, seperti: Indonesia, India, Filipina, Korea, China, Meksiko, dan lain-lain. Anak-anak sekolah pun tidak mau ketinggalan. Melalui kegiatan ini, inti iman Katolik diwartakan secara terang-terangan bagi dunia, yakni bahwa Kristus sungguh hadir nyata dalam Ekaristi. - P. Pionius Hendi, OFMCap.


Suasana Seputar Kegiatan Corpus Christi Procession


0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, March 16, 2016

Bagian fundamen dari terbentuknya masyarakat sekarang ini adalah kehadiran dari keluarga-keluarga kecil. Keluarga adalah mikrokosmos dari dunia makrokosmos. Kehidupan kecil di tengah kehidupan yang maha besar. Karena iu sebuah keluarga bisa kita katakan sebagai miniatur dari masyarakat yang luas.

KELUARGA
Keluarga adalah tempat persatuan/komunitas yang genuine, asli. Sebagai komunitas yang asli, keluarga berperanan penting untuk menata kehidupan baru. Keluarga menjadi pusat perkembangan person secara jasmani maupun rohani. Locus of attitude pertama dan menentukan. Disinilah wadah pemenuhan kehidupan moral dan keagamaan secara personal.

The family is the basic cell of society and for that reason the primery locus of humanization”. Keluarga menjadi sel/inti utama dari masyarakat. Dari padanya insan manusia baru di bentuk dan di beri pelajaran akan cinta kasih. Keluarga sebagai tempat yang sangat potensial dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Keluarga menjadi instrumen yang paling mendasar serta memiliki power, untuk kebaikan anak di masa mendatang.

Peranan keluarga secara aktif sangat diperlukan, agar keutuhan keluarga yang bermartabat tetap utuh dan terjaga. Keluarga menjadi titik tolak untuk menentukan dan mengatakan tentang diri seseorang. “pantaslah dia begitu karena orangtuanya aja seperti itu”, “bagaimana mungkin dia bisa mengurus orang banyak, keluarganya saja tidak beres”, “kalau mau mencari jodoh lihatlah bibit bebet dan bobotnya”. Keutuhan, integritas dalam sebuah keluarga sangat berarti untuk membentuk suatu pola pikir yang baik dan berkualitas.

ANAK
Secara kodrati penyatuan antara pria dan wanita yang diikat dengan sebuah perkawinan adalah ingin menghadirkan kembali manusia baru di muka bumi ini. Menjadikan suatu masyarakat besar yang tidak terputus. Menjadi perpanjangan Allah dalam karya penciptaan dan pemenuhan kebaikan di muka bumi.

Allah memberikan tanda cinta yang paling nyata dalam sebuah keluarga ialah anak. Meskipun ada yang beranggapan kehadiran seorang anak di dalam keluarganya menjadi trouble maker. Maka ada yang mencoba mengadopsi hewan piaraan (Kucing, Anjing, kelinci) sebagai pengganti anak. Mereka tidak mau direpotkan dengan kehadiran seorang anak. Manusia yang adalah Citra dari Allah (Kej. 1:26) dianggap sebagai pembuat masalah. Tentulah paham ini, tidak akan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam tatanan hidup bermasyarakat. Hampir dapat dipastikan kehadiran mereka hanya sebagai penikmat bukan pemberi nikmat.

Dalam hal ini kita bisa bertanya, Apakah seorang anak yang lahir itu menjadi trouble maker? atau pasutri itu yang tidak lagi bisa membedakan manusia dan hewan dalam hidupnya? Anak adalah harta yang tidak ternilai dan tak tergantikan oleh apapun. Karena bagaimanapun juga, anak adalah generasi, pewaris kehidupan yang akan memberikan kehidupan kepada makhluk hidup yang lain.

TANTANGAN
Keluarga yang merupakan bagian kecil dari kehidupan di dunia ini, memiliki suatu tanggung jawab yang tidak kecil. Gaya hidup yang terus berkembang, memberikan pesonanya tersendiri. Ditambah lagi dengan banyaknya permasalahan yang cenderung berakibat pada kedisharmonisan.

Radio, televisi, surat kabar, internet, komputer, hand phone dan lain sebagainya menjadi bagian penting yang juga mengisi kehidupan dalam sebuah keluarga. Instrumen-instrumen ini terkadang bisa menjadi malaikat sekaligus iblis pencabut nyawa. Dari situlah, peran orangtua sangat menentukan dalam pemanfaatan dan penggunaan alat peraga pendidikan kecerdasan manusia ini. Banyak kasus kejahatan anak-anak yang sering kita dengar berbuah dari kurangnya pengawasan orangtua atas penggunaan internet dan hand phone.

Rasionalitas dijadikan tolok ukur dalam modernitas yang membebaskan manusia dari sistem tradisi dan otoritas agama yang dogmatis. Namun di sisi lain, melahirkan proses dehumanisasi. Jika anggota keluarga terlepas dari komunitas keluarga (the community of family) dan bisa menjadikan dirinya kehilangan jati diri sebagai manusia.

Apabila salah satu anggota keluarga terlepas dari komunitas, ia akan seperti “anak ayam kehilangan induknya”. Ia akan dihadapkan pada berbagai macam masalah, seperti krisis alienasi, krisis identitas, dan krisis depersonalisasi. Krisis yang dialami secara continue berbagai macam bentuk mampu berdampak bagi keluarga itu sendiri, serta cenderung mengarah pada pola hidup yang konsumeristis, hedonitas, dan dapat mengarah pada tindakan kriminal, serta ‘amoral’ di dalam keluarga.

CINTA KASIH
"Cinta kasih merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah tertera dalam kodratnya". Maka penekanan di dalam anggota keluarga yang integral ialah cinta kasih. Cinta tidak hanya menjadi kata-kata belaka namun, tercermin dalam segala perbuatan, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. Sebab cerminan ini, telah diwariskan oleh Allah yang penuh Kasih yang menciptakan manusia. Cinta Kasih adalah hukum utama dan terutama dalam sebuah masyaratkat kecil, yang menjadi bagian dari masyaratkat yang luas.

Penanaman cinta kasih di zaman global sekarang ini, bisa menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah keluarga. Sebab pemberian cinta yang ditujukkan kepada seorang anak akan berpengaruh pada masa pertumbuhan menju dewasa. Seseorang akan bisa mencintai apabila ia pernah merasakan cinta. Demikian halnya, kasih dapat diberikan seseorang karena ia pernah merasakan dikasihi. Namun, tetap mendapat catatan bahwa pemberian Cinta dan Kasih untuk seorang anak mesti proporsional.

Dengan demikian, kita bisa berangan-angan, apabila setiap keluarga mampu saling memberikan cinta kasih, saling memperhatikan dan saling mengingatkan, kita akan hidup di dalam dunia yang penuh canda, tawa dan nyanyian kegembiraan. Sebab tidak adalagi kejahatan yang mencemaskan.

Keutuhan sebagai keluarga sangat memberikan makna yang tidak terhingga. Dimana anggota keluarga saling berbagi dan saling mengenal dalam banyak hal. Keluarga menjadi wahana untuk penyelesaian segala problem. Menjadi tempat pendidikan iman dan kemanusiaan. Maka, kesatuan dan keutuhan di dalam anggota keluarga sangat di utamakan, terlebih pada masa transisi peradaban globalisasi. - Fr. Aloysius Anong, OFMCap.


0
Baca Selengkapnya >>>

Monday, December 14, 2015

RASAU JAYA - Para saudara muda Kapusin dari komunitas rumah pendidikan San Lorenzo-Pontianak diberi waktu untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dari kampus, lewat kegiatan kerasulan ke stasi-stasi pada hari Minggu. Mereka dijadwalkan dua kali sebulan untuk mengadakan kegiatan kerasulan ini. Di samping itu, ada juga yang kerasulan di bidang karya kategorial, seperti pendampingan ASMIKA, Ordo Fransiskan Sekular (OFS) dan Legio Maria. Pada kesempatan ini kami akan berbagi cerita tentang pengalaman tourne bersama Pastor Warsito dan Pak Beni ketika mengunjugi umat yang ada di stasi Gempar, Separok, Kancil dan Gunung Tamang. Keempat stasi itu berada dalam wilayah pelayanan Paroki Santa Theresia, Delta Kapuas (Rasau Jaya). 

Stasi-stasi itu terletak di tepi aliran sungai Kapuas. Jarak antara Pontianak ke lokasi kerasulan cukup jauh. Dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam naik Speed Boat, bila jalur yang ditempuh adalah sungai. Jalur darat memang bisa dipilih sebagai jalan alternatif, namun kondisinya cukup berat karena jalan menuju ke stasi-stasi itu masih berupa tanah kuning. Selain itu, jembatan yang digunakan untuk menyeberangi sungai Kapuas juga belum tersedia. Maka, kami memilih jalur sungai karena jalur itu kami anggap sebagai akses tercepat untuk sampai ke stasi-stasi tersebut.

Kami berangkat dari dermaga sekolah pertukangan St. Yusuf pada hari Sabtu, pukul 15.00 WIB. Tetapi setelah setengah jam berada di atas Speed Boat, perjalanan kami menjadi terhalang oleh angin kencang yang disertai hujan deras. Cuaca buruk membuat Pak Beni, sang driver, tidak berani memacu kecepatan Speed Boat-nya karena jarak pandang yang sangat terbatas. Alhasil, perjalanan kami menjadi lebih lama.

Waktu terasa cepat berlalu. Di tengah perjalanan, petang pun mulai menggayut. Awan hitam yang menyelubungi langit semakin menambah gelapnya mayapada. Pekatnya malam ternyata membawa rintangan tersendiri bagi perjalanan kami. Speed boat yang kami tumpangi sempat kehilangan arah dan akhirnya kandas di atas permukaan air yang dangkal. Kejadian itu sempat membuat kami cemas, karena tidak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa ada bagian Sungai Kapuas yang tinggi airnya hanya selutut, apalagi posisi kami saat itu masih cukup jauh dari pantai. Baling-baling speed boat tersangkut di pasir, namun kesulitan itu berhasil kami atasi.

Supaya kejadian yang sama tidak terulang kembali, speed boat kemudian dikemudikan dengan lebih berhati-hati karena selain permukaan airnya dangkal, sampah kayu yang hanyut terbawa aliran sungai juga bisa merusak baling-baling apabila tertabrak. Syukurlah, berkat usaha dan doa yang disertai kepiawaian pak Beni dalam mengemudikan speed, perjalanan pun bisa kami lanjutkan dengan aman dan selamat. 


Pukul 19.10 WIB kami tiba di Stasi Gempar. Di tempat ini, salah seorang di antara kami harus bermalam, sementara tiga orang lagi harus melanjutkan perjalan menuju ke stasi-stasi berikutnya. Untunglah, beberapa umat di Stasi Gempar masih setia menunggu kedatangan kami, meskipun sebelumnya mereka telah berencana akan mengadakan acara penutupan bulan doa rosario pada pukul 19.00 WIB. Namun, karena kami datang terlambat maka doa rosario pun akhirnya bisa dilaksanakan mulai pukul 19.45 WIB, didampingi oleh Frater Aloysius yang bermalam di tempat ini.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 20.30 WIB kami tiba di Stasi Separok, dan langsung menuju ke rumah ketua umat. Suasana tampak sepi. Kedatangan kami hanya disambut oleh bapak ketua umat dan beberapa umat, yang pada malam itu kebetulan sedang bertamu. Rupanya, stasi ini sengaja tidak mengadakan kegiatan doa rosario karena menurut informasi yang diterima, stasi mereka akan dikunjungi oleh frater dari  Stasi Gempar pada hari Minggunya, setelah kegiatan ibadat di sana selesai.

Keesokan harinya, hujan mengguyur bumi persada. Hari Minggu, yang seharusnya disambut dengan susana ceria, menjadi terasa sepi karena cuaca yang kurang bersahabat. Suhu udara terasa dingin karena mulai dari pagi hingga menjelang siang, hujan deras disertai angin kencang terus mengguyuri perkampungan. Umat yang hendak pergi ke gereja untuk beribadat pun menjadi terhalang. Ibadat Sabda, yang rencananya dimulai pukul 09.00 WIB, terpaksa ditunda dan akhirnya baru dilaksanakan pada pukul 10.30 WIB. Walaupun tidak banyak umat yang hadir, Ibadat Sabda tetap dilaksanakan dan Sabda Allah tetap diwartakan dengan penuh sukacita.

Setelah perayaan Ibadat Sabda selesai, umat pulang ke rumah mereka masing-masing. Kami pun kembali ke rumah ketua umat untuk makan siang dan beristirahat sejenak, sambil menunggu kedatangan Pastor Warsito dan Pak Beni, yang merayakan Misa di stasi Gunung Tamang. Ketika mereka tiba di Separok, kami langsung berangkat menuju ke Stasi Gempar untuk menjemput saudara yang menginap di sana. Setiba di Stasi Gempar, kami singgah sebentar di rumah ketua umat dan disuguhkan dengan makanan ala kampung yang sederhana, tetapi lezat. Selesai santap siang bersama, kami kemudian kembali menuju ke Pontianak. Pax et Bonum. - Br. Roymundus, OFMCap.


0
Baca Selengkapnya >>>

Monday, November 23, 2015


SINGKAWANG - Belasan tenda lengkap dengan panggung utama sudah terpasang dan tertata rapi di halaman Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang. Hari itu, 23 November 2015 memang menjadi catatan tersendiri bagi umat Katolik Paroki Singkawang karena gelaran peringatan 110 Kapusin di Bumi Kalimantan akan dibuka secara resmi oleh P. Amandus Ambot OFMCap selaku Minister Propinsial Kapusin Pontianak. Acara yang dikemas dalam sebuah pesta rakyat itu rencananya akan digelar selama sepekan penuh. Inti yang hendak dimaknai adalah menimba semangat heroik para misionaris Kapusin perdana dalam menanamkan warta gembira di Bumi Borneo. Maka tidak salah bila tema yang diusung dalam gelaran ini adalah Menelusuri Jejak Sang Penebar Terang di Singkawang. Sekedar menengok sebentar ke belakang. Panitia 110 Kapusin mencoba meletakkan gelaran ini dalam bingkai edukasi, sosial dan seni budaya. Itulah misi yang diemban dalam gelaran kali ini.

Aspek edukasinya nampak dalam ajang pameran. Tidak kurang dari 10 instansi terlibat aktif dalam memeriahkan acara ini. Secara khusus stand Kapusin, SFIC, MTB dan Klaris Kapusines menyajikan pembelajaran bagi para pengunjung untuk mengingat kembali sejarah Singkawang di masa lalu. Foto-foto dan benda-benda yang akan dipamerkan diharapkan mampu mengajak pengunjung untuk bernostalgia ke masa lampau. Aspek sosialnya diwujudkan dengan memberikan konsultasi kesehatan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis kepada para pengunjung. Stand yang digawangi oleh para medis dan dokter dari Rumah Sakit St Vincentius ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih yang nyata. Sedangkan aspek seni budayanya terjabarkan dengan jelas melalui pentas seni yang akan digelar selama sepekan ke depan mulai pukul 19.00 sampai 21.00. Ini menjadi pentasnya siswa-siswa sekolah Katolik se Kotamadya Singkawang. Mereka tak mau ketinggalan untuk menunjukkan kreasi dan kebolehannya. Seluruh rangkaian pesta ini akan memuncak dengan Misa Syukur yang akan dipersembahkan oleh Bapak Uskup Agung Pontianak pada hari Minggu, 27 November. Menurut rencana perayaan puncak ini juga akan dihadiri oleh Bpk Walikota Singkawang dan tokoh-tokoh lintas agama yang ada di Singkawang.

Kembali kepada acara pembukaan. Derasnya hujan yang mengguyur kota Singkawang sore itu tidak menyurutkan langkah umat Katolik untuk datang ke gereja yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Sementara ini tak kalah sibuknya adalah 14 kring yang mulai menata menu jajanan pasar yang akan digelar untuk open house bagi para pengunjung di halaman gereja. Begitulah cara mereka melibatkan diri dalam pesta rakyat kali ini. Sangat murah dan meriah.

Dengan memakai payung dan jas hujan, umat terus berdatangan. Dari raut wajah umat tergambar antusiame yang tidak mau melewatkan momen yang sangat langka ini. Tepat pukul 15.00 gelaran pesta dimulai dengan memanjatkan doa Koronka Kerahiman Ilahi di gereja. Doa ini memang tidak bisa dilepaskan dari rancangan Bapa Suci yang mencanangkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci Kerahiman Ilahi. Sementara doa Koronka masih dipanjatkan, lima penari sumpit sudah bersiap di halaman gereja. Begitu doa koronka selesai, P. Propinsial, P. Paroki Singkawang, Ketua DPP terpilih, Ketua Panitia 110 tahun Kapusin dan Sr Abdis Klaris Kapusines didaulat untuk menyumpit 5 balon sebagai tanda dimulainya pesta 110 Kapusin. Dengan gerakan yang luwes 5 penari sumpit menjemput dan menghantar kelima orang yang telah ditunjuk ke arena penyumpitan. Kepada mereka akhirnya diberikan masing-masing satu sumpit. Dan mata umat yang hadir tertuju kepada 5 balon. Gemuruh tepuk tangan menggema saat balon terakhir berhasil disumpit dan terbanglah spanduk perayaan 110 Tahun Kapusin.

Pembukaan pesta semakin semarak dengan pentas tari barongsai yang dimainkan secara apik oleh mahasiswa STIE Mulia Singkawang. Acara ini memberikan warna tersendiri dan menyempurnakan tarian sumpit, seolah mau mengatakan keragaman budaya yang ada di Singkawang. Di akhir tariannya, barongsai berkenan menjemput P. Ambot dan menghantarnya ke stand pameran. Di sana sudah menunggu acara berikutnya, yakni pengguntingan pita dan pembukaan pintu utama. Dengan pengguntingan pita maka secara resmi acara pameran pun dibuka. Para pengunjung dipersilahkan mengunjungi stand-stand pameran.

Dipenuhi rasa ingin tahu umat pun memasuki ruang pameran. Satu demi satu foto-foto dan benda-benda yang dipamerkan tak lepas dari pandangan mata. Ada satu sudut yang tidak pernah dilewatkan oleh para pengunjung. Mereka selalu singgah di sudut itu untuk melakukan sesi foto karena sudut itu dirancang oleh panitia pameran. Dengan latar belakang Gereja Singkawang tempo dulu dan sekarang, dilengkapi dengan sepeda onthel pengunjung bisa mengabadikan dirinya, seolah dirinya berada di masa lalu. Rancangan yang sungguh kreatif dan menarik.

Setelah puas berkeliling di stand-stand pameran, umat dipersilahkan untuk pindah ke halaman gereja Di sana sudah menunggu 14 stand jajanan kuliner khas Singkawang. Tanpa menunggu dikomando untuk kedua kalinya, umat pun tumpah ruah menuju halaman gereja untuk mencicipi hidangan yang disediakan secara gratis. Suasana persaudaraan begitu terasa karena semuanya berbaur menjadi satu. Acara open house menjadi penutup dari rangkaian pembukaan pesta 110 Kapusin di Singkawang.

Dalam wawancaranya dengan media cetak, P. Ambot mengungkapkan rasa bangga dan terimakasihnya kepada umat Singkawang. Dari gelaran ini P. Ambot mendapat kesan bahwa umat Singkawang menaruh perhatian yang besar kepada karya-karya Kapusin. Kecintaan umat kepada Kapusin tergambar dalam pesta ini. Harapan ke depan tentunya umat pun mampu menimba semangat para Kapusin dalam menerbarkan Sang Terang dan mewujudkannya dalam masa sekarang ini. Selamat pesta bagi Saudara-saudara Kapusin. - P. Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap.









FOTO-FOTO SELAMA PERAYAAN
110 TAHUN ORDO KAPUSIN DI BUMI KALIMANTAN









SUASANA SEPUTAR MISA SYUKUR & PUNCAK PERAYAAN
(Oleh P. Marius Tjhin, OFMCap.)



SELAMAT PESTA

0
Baca Selengkapnya >>>