Slider Background

Main Text

Ordo Kapusin Pontianak

Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudara Dina:
Menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.

BERITA TERBARU

BERKENALAN DENGAN ORDO KAPUSIN

(Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum - OFMCAP)

Service Section


Siapakah Kami?

Fondasi utama Ordo Saudara Dina Kapusin berlandaskan pada teladan Bapa Serafik, Santo Fransiskus Assisi.


Kharisma Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin muncul karena kerinduan mereka akan gaya hidup asketik yang lebih keras.


Spiritualitas Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memberikan penekanan pada Ekaristi, teologi salib, Mariologi, kontemplasi dan kemiskinan.


Pelayanan Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin melayani beraneka-ragam bidang karya pastoral dan kategorial seturut tuntutan zaman.


Pendidikan dalam Ordo Kapusin

Para calon imam/bruder Kapusin ditempa dengan aneka ilmu pengetahuan, terutama spiritualitas, filsafat dan teologi.


Para Kudus Ordo Kapusin

Ordo Saudara Dina Kapusin memiliki orang-orang kudus, yang telah memberikan kontribusinya bagi perkembangan Gereja.

Visi dan Misi Ordo Saudara Dina Kapusin Pontianak

VISI KAMI:
Saudara-Saudara Dina Kapusin Pontianak adalah Persaudaraan Injili yang dipanggil dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah seturut teladan St. Fransiskus Assisi dalam semangat keberpihakan kepada orang miskin, tak berdaya dan sakit, serta lingkungan hidup.

MISI KAMI:
1) Membangun dan meningkatkan persaudaraan dina yang tekun berdoa dan bekerja dengan setia dan bakti.
2) Membangun Gereja dan masyarakat yang bersaudara dengan semua dan dengan berpihak kepada yang miskin, tak berdaya dan sakit.
BICI No. 299 English - JANUARY 2017 BICI No. 300 English - FEBRUARY 2017



MENGAPA BERGABUNG DENGAN ORDO KAPUSIN PONTIANAK?

Kami dipanggil untuk mengabdi Allah dan Gereja Kudus melalui cara hidup yang khusus,
dengan meneladani jejak Santo Fransiskus Assisi dan dalam semangat pembaharuan Ordo Kapusin.
Dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat, kami diutus untuk melayani ke berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.


<<< Semua berita >>>

Kami adalah Pendoa

Kami ini Bersaudara

Kami Melayani Kaum Papa

Kami Pembela Lingkungan Hidup

Friday, February 3, 2017



1 Februari 2017 akan terpatri jelas dalam hati dan ingatan saya sebagai hari yang mengejutkan. Mengejutkan karena dalam masa-masa penuh konsentrasi menjalani ujian semester, saya menerima kabar wafatnya Pastor Mateus Sanding. Cukup mengejutkan karena selama satu setengah tahun terakhir, saya tidak pernah menerima berita tentang situasi gawat darurat yg mungkin sedang dia hadapi baik terkait dengan penyakit tertentu maupun usianya yang sudah lanjut.

1 Februari 2017 juga akan terpatri dalam-dalam sebagai hari yang mengecewakan. Mengecewakan karena saya sedang jauh dari kemungkinan untuk bisa hadir secara fisik bersama umat dan para saudara se-Propinsi di sisi jenasah beliau. Saya tidak bisa hadir dalam doa-doa bersama dan ikut menghantarnya ke Pemakaman. Saya hanya bisa membayangkan dari jauh bagaimana suasana duka dan sibuknya para saudara bersama umat. Ada cinta dan kerinduan yang sangat kuat untuk hadir secara fisik, tetapi Roma - Pontianak terlalu jauh.

Syukur bahwa walaupun sangat jauh jarak membentang, namun saya (bersama Pastor Harmoko, Pastor Viktor dan Bruder Willem) tetap merasakan dan menghayati persekutuan iman dan kesatuan hati dalam doa dan ekaristi untuk beliau. Perasaan dan penghayatan iman yang sama, saya percaya ada juga di setiap hati dan pikiran setiap saudara di Timor Leste, Philipina, Australia dan Selandia Baru. Untuk mengobati kekecewaan atas ketidakhadiran secara langsung, saya putuskan untuk menulis dan mengirim ucapan selamat jalan ini. Semoga Pastor Propinsial bisa menyampaikannya atas nama kami yang tidak bisa hadir.

Kenangan hidupku bersama Pastor Sanding tidak lama, hanya berlangsung selama satu setengah tahun. Itu terjadi ketika saya menjalani masa formasi sebagai frater TOP di paroki Menjalin dari awal desember 2003 sampai akhir juni 2005. Soal sapaan dalam interaksi dengan beliau, pastor Yeremias Melis biasa menyapanya “Pastor Sanding”. Pastor Frederic Samri, saudara Benediktus Benik dan saudara Silvinus Senan menyapanya “Pastor Sanding” atau “Kakek Sanding”. Para katekis dan petugas paroki umumnya menyapanya “Kakek” atau “Pastor Sanding”. Umat Paroki Menjalin umumnya menyapanya “pastor Sanding”. Ada juga sejumlah kecil umat yang menyapanya “Pak Sanding”. Saya sendiri mulai dengan sapaan “Pastor Sanding” utk minggu-minggu awal dan kemudian berani membiasakan diri menyapanya “Kakek Sanding”, sapaan yang saya gunakan sampai sekarang.

Dibandingkan dengan Pastor Yeri, kebersamaan saya sangat singkat. Mereka berdua pernah hidup bersama sebagai rekan sekomunitas di Paroki Menjalin selama lebih dari 25 tahun. Karena itu, dari segi lamanya, masa satu setengah tahun yang sudah saya lalui bersamanya seperti tidak berarti. Kenyataannya tidak demikian. Meskipun singkat, kehadirannya berkesan dan membekas kuat bagi pertumbuhan dan penguatan pilihan hidupku sebagai saudara Kapusin Propinsi Pontianak. Apa rupanya keutamaan-keutamaan Pastor Sanding yang sudah turut membantu menguatkan dan menumbuhkan semangat untuk pilihan hidupku sebagai saudara Kapusin?

Tentu ada banyak dan saya hanya akan bagikan 2 untuk kesempatan ini. Saya ingin mengawali 2 catatan hatiku dengan catatan sejarah tentang saudara kapusin pertama asal Monterado-Indonesia, almarhum Pastor Pacificus Bong Ofm Cap. Dalam buku A History of Christianity in Indonesia (hlm. 507), Karel Steenbrink memasukkan juga kutipan tentang kesaksian dari seorang saudara kapusin belanda, Gentilis Aster tentang saudaranya almarhum Pastor kita Pacificus Bong sebagai berikut:

“(He is) A small, quiet man with a soft voice and quiet manners. In company his presence was barely noticed, because he does not say much and only gives his opinion when asked for it. But then he would give it in short, but precise wording, identifying the matter in a touching way. Someone who knows how to listen, surprising everybody by his balanced wisdom free from emotions.”

Terjemahannya kira-kira demikian: “Dia adalah seorang pria berperawakan kecil dan pendiam, dengan suara yang lembut dan pembawaan yang tenang. Dalam kebersamaan, kehadirannya sering luput dari perhatian, karena dia tidak banyak bicara dan hanya memberikan pendapatnya kalau diminta. Saat diminta, dia akan menyampaikannya secara singkat namun dengan pilihan kata-kata yang tepat, mengacu pada pokok persoalan, dengan cara yang menyentuh hati. Dia seorang yang tahu bagaimana mendengarkan. Dan dia mengejutkan siapapun dengan kebijaksanaan yang seimbang, bebas dari belenggu perasaan dan prasangka.” Kutipan ini terlintas dalam benak saya ketika mencoba mengingat dan merenungkan kenangan-kenangan indah dalam hidup bersama sebagai saudara kapusin dengan Kakek Sanding.

Catatan hati pertama adalah Kakek Sanding sebagai figur kapusin yang gembira dan penuh sukacita. Setengah dari judul ucapan selamat jalan ini mengambarkan kekhasannya itu. “Semua Kembang Bernyanyi Riang” adalah judul lagu kesukaannya. Kita pasti kenal lagu itu karena nadanya sama dengan lagu “Semua Bunga Ikut Bernyanyi” dari Madah bakti no. 477. Saya diberitahu ketika menanyakannya langsung dalam satu kesempatan, lebih sebagai persiapan komunitas untuk tampil memeriahkan perayaan 100 tahun misi Kapusin di Indonesia. Masih ada 1 atau 2 lagu lain yang tidak bisa lagi saya ingat. Sejauh pengalaman saya, lagu “Semua Kembang Bernyanyi Riang” bisa dinyanyikan sendiri dengan penuh semangat oleh Kakek Sanding, lengkap dengan ekspresi wajah dan gerak tubuhnya. Beberapa kali saya ikut berbahagia karena menemaninya bernyanyi bersama iringan gitar. Saudara Senan pasti mudah mengingat kembali aksi rekreatif spontan ini, ditemani 1 botol bir untuk mereka berdua dan 1 kaleng lasegar untuk saya. Bagi saya, “Semua Kembang Bernyanyi Riang” menjadi ungkapan dari kegembiraannya yg alami sebagai kapusin, bersama semesta dalam pilihan hidup sebagai saudara, bersama dan dalam pelayannanya bagi saudara yang lain dan umat Allah.

Catatan hati kedua adalah Kakek Sanding sebagai figur kapusin yang bersaudara dengan semua orang dan memperlakukan semua orang dengan rasa hormat yang sama. Proses adaptasi dan integrasi saya ke dalam dinamika hidup komunitas kapusin dan gereja lokal di Paroki Menjalin menjadi relatif lancar karena banyak terbantu oleh kehadiran dan teladan Kakek Sanding. Sebagai kapusin muda yang datang dari luar Kalimantan, saya memerlukan waktu dan kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan tumbuhnya perasaan at home. Tuntutan untuk memulai hidup di tempat baru, bersama orang baru, dengan suasana yang baru selalu diawali dengan rasa asing dan was-was apakah akan di terima atau ditolak, dipandang dan diperlakukan sebagai bagian dari komunitas atau sekadar penumpang sementara. Saya harus mengakui bahwa perhatian, rasa hormat, kehangatan dan keramahan yang Kakek Sanding tunjukkan sejak hari pertama saya tiba di Menjalin (15 Desember 2003) sampai hari terakhir (26 Juni 2005), terutama di saat-saat sulit, membuat saya merasa “di rumah” dan bersama saudara.

Oleh karena itu, bersama semua kembang di taman hati dan alam lepas, hati saya bersyukur dalam nyanyian riang penuh syukur untuk kehadiranmu yang menyentuh, menggembirakan dan menguatkan dalam perjalanan sejarah pribadi setiap saudara dan saudari, juga sejarah kolektif kapusin dan Gereja Indonesia. “Semua Kembang Bernyanyi Riang: Selamat Jalan Pastor Sanding Tercinta” adalah sapaan kami semua untukmu. Saya menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai “Kakek Sanding” tentu karena cocok untuk pria seusiamu yang memang sudah sepuh dan pantas kami panggil “Kakek”. Namun saya menggunakannya juga dengan perasaan dan makna lain yang lebih dari sekedar usia 81 tahun masa hidupmu. Saya menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai “Kakek Sanding” lebih sebagai ungkapan kedekatan dan rasa kasih sayang sebagai saudara yang telah kau sentuh dengan kegembiraanmu yang alami, perhatianmu yang tulus, keramahanmu yang hangat, dan rasa hormatmu yang tidak membedakan warna dan umur.

Semoga bagi semua saudara dan umat,engkau akan selalu dikenang dan dirindukan sebagai pribadi kapusin dengan catatan sejarah yang baik seperti kutipan untuk almarhum Pastor Pasificus Bong. Bagi saya Kakek Sanding selalu menjadi “A great man with a loud voice but a gentle heart and quiet manners”. Mungkin benar bahwa dalam distribusi tanggung jawab pelayanan, Kakek Sanding selalu menjadi Pastor Pembantu Paroki dan tidak sekali pun mendapat tanggung jawab sebagai Pastor Kepala Paroki. Dengan demikian, bisa saja ada kesan bahwa “in company your presence was barely noticed, because you did not say much and only give your opinion when asked for it. Namun untuk saya “you always give it in short, but precise wording, identifying the matter in a touching way”. Saya menjadi saksi bahwa Kakek Sanding telah hadir sebagai someone who knows how to listen, surprising me and everybody by your balanced wisdom free from emotions. Selamat Jalan Kakek Sanding Tercinta! Semua kembang Bernyanyi Riang bersama doa dan cinta kami untuk mengiringi perjalananmu kembali ke rumah Bapa kita. Amin. - P. Isidorus Yoseph Jawa, OFMCap. (Roma, Jumat 3 Februari 2017)



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, February 1, 2017

Pastor Mattheus Sanding OFMCap, atau yang lebih akrab disapa P. Sanding, lahir di Nyandang, Sanggau Kapuas, pada tanggal 23 Desember 1935 dari sebuah keluarga petani sederhana. Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara. Pada masa kecilnya, beliau tidak pernah bercita-cita menjadi seorang imam. Namun, beliau kemudian mengagumi figur pastor-pastor misionaris Ordo Kapusin dari Belanda dan mulai tertarik dengan jubah coklatnya. Maka setelah menamatkan jenjang Sekolah Rendah (SR), beliau memutuskan untuk masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop dan bercita-cita menjadi imam Kapusin.

Sejak masa mudanya, P, Sanding sudah memiliki devosi yang mendalam kepada Santa Perawan Maria. Devosi ini pulalah yang dihidupi dan dijalankannya dengan setia sampai akhir hayatnya. Melihat adanya potensi yang baik dalam diri P. Sanding yang kala itu masih muda, P. Honorius van den Heijde, OFMCap. – selaku Pimpinan Umum Persekolahan Nyarumkop – meluluskan permohonannya sebagai calon novis Ordo Kapusin. 

P. Sanding menempuh pendidikan tahap pertamanya di Novisiat St. Fidelis, Parapat, Sumatera Utara. Beliau diterima sebagai calon novis pada tanggal 01 Agustus 1959. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 02 Agustus 1960, beliau diperkenankan untuk mengucapkan kaul perdananya di hadapan P. Marianus van den Acker, OFMCap., Magister Novisiat dan Superior Regularis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu. Dengan penerimaan kaulnya ini, P. Sanding dinobatkan sebagai orang Dayak pertama yang menjadi imam dalam persaudaraan Ordo Kapusin di Indonesia. Tahun berikutnya (1961) Mgr. Hieronymus Bumbun, uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, menyusul dan mengikuti jejaknya.

P. Sanding selalu bangga dengan masa-masa pendidikannya di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi) yang kala itu berpusat di Parapat. Pada waktu itu, ada sekitar 13 dosen yang dengan setia mengajarinya. “Saya selalu menjadi juara pertama di kelas,” demikian selorohnya. Betapa tidak, dosen-dosen tersebut hanya memiliki satu orang murid, P. Sanding!

Komitmen P. Sanding untuk menjalani hidup sebagai seorang biawaran Ordo Kapusin dari hari ke hari semakin kokoh. Itulah sebabnya pada tanggal 02 Agustus 1963, beliau dengan penuh ketetapan hati mengikrarkan kaul kekalnya di hadapan pimpinan pada waktu itu, P. Gonzalvus Snijders, OFMCap. Pengikraran kaul kekal ini sekaligus menjadi tanda bahwa seluruh hidup dan baktinya akan didedikasikan bagi Allah, Ordo Kapusin, dan umat yang dilayaninya. Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 05 Maret 1966, P. Sanding menerima tahbisan imamat suci dari Uskup Agung Pontianak yang pertama, Mgr. Herculanus J.M. van der Burgt, OFMCap. Jejaknya menjadi seorang imam Ordo Kapusin ini kelak akan diikuti pula oleh adik kandungnya, P. Paduanus Aga, OFMCap. yang juga masuk sebagai calon novis Kapusin pada tanggal 12 Januari 1976.

Setelah pentahbisannya, P. Sanding ditunjuk untuk membantu pelayanan di Paroki Singkawang selama tiga tahun (1966-1969). Namun karena kebutuhan umat yang semakin meningkat, sementara jumlah tenaga imam belum memadai, beliau kemudian ditugaskan sebagai pastor rekan di Paroki Pahauman selama enam tahun (1969-1975). Dari sana, beliau kemudian diutus untuk melayani di Paroki Batang Tarang selama empat tahun (1975-1979). Beliaulah perintis awal berdirinya gereja Katolik di Sosok, Tayan Hulu (sekarang Paroki Kristus Raja, Sosok).

Tempat P. Sanding melayani paling lama adalah di Paroki Menjalin, Mempawah Hulu (dan Tiang Tanjung). Selama kurang lebih 30 tahun (1979-2009), beliau melayani umat di paroki ini tanpa kenal lelah. Selain menangani tugas parokial, P. Sanding juga merupakan anggota aktif team pengelola Majalah Paroki, Batakki (Berita Antar Kampung Kita). 

Pada tahun 2009 beliau diminta oleh pimpinan untuk pindah dan memperkuat personil di Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak, Sei Raya. Kehadiran P. Sanding di komunitas pusat ini sungguh membawa berkat dan nuansa tersendiri. Beliau adalah sosok pendoa yang ulung dan memiliki devosi istimewa kepada Bunda Maria; beliau juga sering memberikan berkat untuk para saudara muda yang meminta doanya. Di samping itu, kepribadiannya yang ceria dan humoris mampu menghidupkan suasana yang kaku menjadi akrab, di mana pun beliau berada. Bahkan dalam acara pertemuan para imam muda (IMUD), beliau seringkali menyempatkan diri untuk hadir dan bersenda-gurau dengan para imam lain yang berusia jauh di bawahnya. Kendati sering diejek oleh para saudara yang lebih muda, beliau tidak pernah marah. Terkait hal ini, P. Faustus Bagara, OFMCap. memberikan kesannya, “dia sumber kegembiraan bagi komunitas, setia dalam doa, tidak mau merepotkan.”

P. Sanding juga terkenal dengan semangat kerja kerasnya, beliau tidak pernah diam. Sekali diberi kepercayaan untuk menekuni sebuah pekerjaan, hal tersebut akan dikerjakan sebisa-bisanya sampai tuntas. Lebih daripada itu, keutamaan lain yang dimiliki oleh P. Sanding adalah kesederhanaan dalam hidup. Beliau tidak memiliki banyak tuntutan dalam hidup, dan dengan senang hati menggunakan apa saja yang diberikan oleh persaudaraan kepadanya. Maka dengan sendirinya, beliau merupakan salah satu figur teladan bagi para saudara muda Ordo Kapusin Propinsi Pontianak maupun seluruh umat.

Satu hal yang agak sulit untuk diterka dari P. Sanding adalah untuk memastikan apakah beliau sedang sakit atau sehat-sehat saja. Kerapkali, beliau pandai menyembunyikan perasaan sakitnya agar tidak diketahui oleh orang lain. Beliau tidak ingin menyusahkan para saudaranya dan karenanya sangat jarang mengeluh ketika sakit. Itulah yang terjadi pada tanggal 01 Februari 2017. Tanpa ada keluh-kesah ataupun tanda-tanda aneh sebelumnya, P. Sanding tiba-tiba ditemukan telah meninggal dunia pada saat jam tidur siangnya, yakni sekitar jam 16.00 WIB. Terkait hal ini, P. Iosephus Erwin, OFMCap. berkomentar, “saudara yang sederhana itu telah pergi dengan cara yang sederhana pula.”

Pemazmur berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun” (Mzm. 90:10). P. Sanding menutup usia pada umur 81 tahun; menjalani hidup sebagai biarawan Kapusin selama 57 tahun; dan melayani sebagai imam lebih dari 50 tahun. Selamat jalan saudara kami yang baik, selamat berpisah kakek tercinta… Kami percaya bahwa Allah menerimamu dalam kebahagiaan para kudus-Nya di surga. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini. - P. Pionius Hendi, OFMCap.


NB: Misa Requiem dilaksanakan pada hari Jumat, 03 Februari 2017, jam 9.00 WIB. Jenazahnya dimakamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir, di Pemakaman Santo Yusuf, Sungai Raya, Pontianak.



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, December 21, 2016


       Sore ini, pada hari-hari menjelang pesta natal, persaudaraan Ordo Kapusin Pontianak menerima sebuah berita gembira: salah seorang angggota persaudaraan – Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap. – ditunjuk oleh Paus Fransiskus menjadi uskup di Keuskupan Sintang. Keuskupan tersebut lowong sejak tanggal 03 Juni 2014, saat Mgr. Agustinus Agus diangkat menjadi Uskup Agung Pontianak. Penunjukan Pastor Samuel sebagai uskup ini terjadi hanya berselang satu minggu setelah perayaan ulang tahun beliau yang ke-62.

 Sedikit mengenai biografi beliau: Pastor Samuel lahir di Peranuk, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang (Kalimantan Barat) pada tanggal 12 Desember 1954. Beliau masuk biara Kapusin di Parapat pada tanggal 12 Januari 1977, dan setahun kemudian beliau mengucapkan kaul perdananya, tepatnya pada tanggal 13 Januari 1978. Setelah menjalani pendidikan Filsafat dan Teologi, beliau mengucapkan kaul kekalnya di Pematangsiantar pada tanggal 18 Juli 1982. Dua tahun kemudian beliau ditahbiskan menjadi seorang imam Kapusin di tempat kelahirannya, tepat pada tanggal 01 Juni 1984. Setelah ditahbiskan, beliau memperoleh tugas pertamanya sebagai pastor rekan di Nyarumkop. 

       Selanjutnya, pada tahun 1985-1990, beliau diutus ke Roma untuk menempuh studi Master dan Doktoral di Universitas Antonianum dengan spesialisasi dalam bidang Spiritualitas Fransiskan. Disertasinya yang berjudul The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God (Peran Segala Makhluk Ciptaan dalam Pujian Santo Fransiskus kepada Allah) sungguh menjadi fondasi kuat yang mengantarnya pada penghayatan mendalam akan nilai-nilai kefransiskanan dalam dunia modern.

         Pastor Samuel adalah sosok pendoa, pendidik dan berjiwa pemimpin. Hidup doa menjadi poros utama dalam kehidupannya. Dalam bidang akademik, beliau pernah ditugaskan sebagai Socius maupun Magister di Novisiat Parapat, Sumatera Utara, antara tahun 1990-1997. Beliau juga banyak memberi retret dan rekoleksi bagi biarawan/biarawati, terutama yang terkait dengan spiritualitas fransiskan. Di samping berjiwa pendidik, beliau juga telah beberapa kali menjadi pimpinan umum (propinsial) Ordo Kapusin Pontianak, yakni pada tahun 1997-2000, 2000-2003, dan 2009-2012. Suatu kiprah kepemimpinan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang!

Kendati bergelar doktor, pernah menjadi formator bagi para calon pastor/bruder Kapusin, serta beberapa kali menjadi pimpinan tinggi dalam Ordo Kapusin Pontianak, beliau tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau tidak segan-segan untuk bekerja di kebun dengan tangannya sendiri; terkadang sulit membedakannya dengan tukang kebun ketika beliau sedang bekerja mengenakan topi daun nipahnya.

Pastor Samuel adalah pribadi yang tidak banyak kata, tetapi banyak bekerja; beliau adalah man of action. Namanya dikenal di kalangan luas (bahkan di antara orang-orang non-Katolik) bukan karena promosi yang dilakukannya, melainkan karena aksi nyatanya. Hal itu terutama tampak dalam usahanya untuk menghijaukan kembali lahan kritis di Bukit Tunggal, yang terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya (Kalimantan Barat) pada tahun 2003-2008. Dalam usahanya untuk pelestarian alam ini, beliau tidak segan-segan untuk menginap di sebuah pondok sederhana yang diberinya nama Rumah Pelangi, sebuah tempat yang saat ini mulai ramai menjadi tempat wisata rohani dan ekologis.

Tidak mudah memang mengembangkan ide pelestarian alam seperti ini; banyak kekurangan finansial maupun rintangan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Namun seperti pepatah Latin mengatakan, per aspera ad astra (menuju bintang melalui jerih payah), demikianlah usaha keras seseorang pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Ketekunan dan keuletan Pastor Samuel membuahkan hasil yang memuaskan: beliau mendapat piagam penghargaan dari Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, bahkan pada tahun 2012 beliau mendapat hadiah Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia yang ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah pencapaian yang fantastis!

Tugas Pastor Samuel yang terakhir sebelum penunjukannya sebagai uskup adalah sebagai pastor kepala Paroki Santo Fransiskus Assisi, Tebet (Jakarta). Dan, pada hari ini – Rabu, 21 Desember 2016 – namanya diumumkan secara resmi di Vatican sebagai gembala utama di Keuskupan Sintang. Proficiat Bapa Uskup! Semoga menjadi gembala yang baik bagi umat Allah di tempat yang baru. – P. Pionius Hendi, OFMCap.


0
Baca Selengkapnya >>>

Saturday, October 29, 2016

Tidak diragukan lagi bahwa Pastor Bart Janssen, OFMCap. (3 Juli 1927 – 13 Oktober 2016) adalah permata yang sangat berharga, baik bagi persaudaraan Ordo Kapusin Belanda maupun Ordo Kapusin Indonesia, khususnya Ordo Kapusin Propinsi Pontianak. Beliau adalah seorang misionaris yang tangguh, bersemangat dan pantang menyerah. Beliau juga merupakan pimpinan Ordo Kapusin Propinsi Pontianak yang pertama, sebagai seorang peletak dasar yang kokoh bagi persaudaraan imam dan bruder Ordo Kapusin di Kalimantan Barat, Indonesia.

Berikut ini adalah “Kata Pengantar” dan “Renungan” yang disampaikan oleh P. Antoon Mars, OFMCap. (Guardian di Biara Kapusin Tilburg) pada saat acara perpisahan dan Misa Requiem yang dipersembahkan bagi almarhum P. Bart di Tilburg, Belanda, pada tanggal 18 Oktober 2016. Di dalamnya, banyak sekali informasi-informasi yang bernilai dan bersejarah. Team redaksi menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada P. Jan van Maurik, OFMCap. yang telah berjerih-payah untuk menerjemahkannya dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Selamat membaca...

***

KATA PENGANTAR 

Selamat datang saudara-saudari sekalian yang telah berkenan hadir untuk menghormati dan mensyukuri Sdr Bart Janssen karena hidupnya yang panjang dan lengkap, karena apa yang telah diperbuatnya dan karena siapa dia. Semoga kita berkumpul di sini dalam damai, atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Betapa indah rasanya Anda datang beramai-ramai: para Saudara Kapusin, terutama para mantan misionaris dari Kalimantan Barat dan para Saudara dari Biara Den Bosch, di mana Sdr Bart sempat tinggal selama sembilan tahun; para sanak-saudara, termasuk para cucunya – yang dengan tekun mengunjungi dia dan berada dekat bersamanya; para missionaris dari Ordo dan Kongregasi lain yang bekerjasama dengan dia; para petugas di rumah kami, terlebih mereka yang merawat Sdr Bart sampai akhir hayatnya; teman-teman dan para sahabatnya. 

Kita semua datang karena Sdr Bart telah menyelesaikan misinya. Kita memperingatinya dengan penuh rasa terima kasih bersama dengan semua orang di Kalimantan Barat, yang pada hari ini bersatu dengan kita, yaitu mereka yang di pelbagai tempat telah mengenalnya sebagai seorang misionaris yang rajin, seorang pekerja yang membanting-tulang demi Kerajaan Allah.

Sdr Bart adalah pertama-tama seorang misionaris: selama 48 tahun ia tinggal di Indonesia, yaitu dari tahun 1957 sampai tahun 2005. Misinya ialah membawa Yesus dan kabar baik-Nya karena ia yakin, bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Kristus adalah memang jalan keselamatan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita bagi semua orang yang siap dan sanggup membuka diri bagi-Nya. 

Lalu, waktu ia kembali pada tahun 2005, dia meneruskan misinya dan melengkapinya dengan pelayanannya bagi para Saudara di Den Bosch dan bagi banyak orang yang ia jumpai di luar biara pada berbagai kesempatan.

Sore ini, kita mensyukuri dan memuliakan Tuhan yang Mahatinggi karena Ia telah memanggil Bart – sebagai imam Kapusin – untuk pertama-tama menjadi seorang misionaris. Banyak yang telah dibangun oleh Bart dalam misinya, dan hidupnya sendiri dibangun di atas bukit batu. Dengan keteguhan hati dan iman yang optimis, ia telah menanggung bermacam-macam penyakit yang dideritanya secara jiwa-raga dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Teringat akan kenangan kita masing-masing mengenai Sdr Bart, marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah yang baik karena Sdr Bart telah sekian lama bersatu dengan kita. Dalam memimpin perayaan perpisahan ini, saya didampingi oleh Propinsial kami, Sdr Gerard Remmers, dan Sdr Jan Philippus, Guardian Biara Den Bosch, yang juga adalah seorang mantan misionaris Indonesia. Marilah kita terlebih dahulu mohon kerahiman Tuhan atas segala kekurangan kita.

RENUNGAN

Saudara-saudari, sanak-saudara dan sahabat-sahabat yang baik. Tepat kurang empatbelas hari, Bart telah tinggal dua tahun lamanya di bagian perawatan di rumah kami, setelah ia terkena stroke pada tanggal 21 Juli 2014 . Keadaannya waktu itu buruk, ia lumpuh sebelah. Perawatan pertama diterimanya di Maria Oord, Rosmalen. Disana, ia telah berusaha dengan sebaik-baiknya dan cukup berhasil dalam revalidasinya, sehingga pada tanggal 27 Oktober 2014 ia pindah ke sini, Tilburg. Dalam waktu dua tahun terakhir ini, kami semua sangat terkesan. Itulah sebabnya, saya memulai In Memoriam ini dalam lingkaran waktu ini, dari sejarah hidupnya yang panjang.

***

Inilah yang saya dengar pada hari-hari terakhir ini dari para Saudara dan para perawat: Sdr Bart sungguh seorang yang berjuang, yang pantang menyerah dan yang mau maju terus. “Segalanya akan beres,” demikian katanya berulang-ulang. Ia tekun latihan, jalan-jalan di biara dan ia yakin, bahwa ia akan bisa berjalan lagi dengan lancar. 

Ia biasanya menyinggung sebuah tulisan dari seorang profesor yang pernah mengalami hal yang sama sebagai pasien. Sdr Bart sungguh percaya bahwa ia akan sembuh. Kadang-kadang ia bertindak seolah-olah ia masih sanggup berbuat apa saja: memakai komputer, jalan-jalan ke luar biara, menerima tamu, bahkan ia menyempatkan diri setiap minggu untuk mengunjungi sebuah kelompok dari teman-teman senasib, yang mendorong dia untuk tetap bertahan. Menurut perasaannya, dia harus menghadiri setiap pertemuan di keluarganya atau di Biara Den Bosch, atau entah di mana saja...

Di samping semangatnya yang penuh kepercayaan ini, kadang-kadang ada juga sikapnya yang terlalu berani: ia kurang sanggup lagi menilai pembatasan-pembatasan dalam fungsi otaknya akibat stroke itu. Ia tetap yakin bahwa ia dapat melakukan hal-hal yang sebetulnya tak mungkin lagi diperbuatnya; itu terjadi sebagai akibat dari penyakitnya. Tetapi, ketekunannya untuk maju terus dan sikapnya yang pantang menyerah, sungguh mengagumkan. Kami semua benar-benar menyegani sikapnya itu… Lebih-lebih lagi, sesudah stroke-nya yang kedua: ia hampir tak dapat lagi berbicara dan menelan sesuatu. Makanannya diberikan melalui sonde sehingga ia tak dapat merasakan apa-apa, dan komunikasinya harus memakai sehelai karton dengan huruf-huruf di kursi rodanya. Namun ia tetap optimis dan bersemangat...

Mulai tanggal 06 September 2016 keadaannya memburuk, baik jiwa maupun badannya. Hari itu, kami para biarawan dan para petugas di rumah kami, jalan-jalan sambil berpiknik. Sdr Bart ikut, tetapi ia tak dapat menikmatinya benar; ia sedikit down dan nampak sedikit pucat. Sejak hari itulah, keadaannya lambat-laun menyusut, semangatnya tampak pudar dan ia tak sanggup lagi bertahan. Ia ingin meninggal, sudah baik dan selesai semuanya. Ia berpamitan, memberkati sanak-keluarganya, lalu kami pun memberkatinya. 

Namun Saudari Maut belum juga datang. Maka Sdr Bart minta lagi makanan serta mau memakai kursi rodanya. Dan keesokan harinya, ia duduk kembali di depan laptop dan tabletnya. Ia nampak juga di ruang doa dan ikut minum kopi dengan para Saudara di ruang rekreasi, namun ia tetap sangat lemah... Itulah keadaannya sampai pada hari Rabu yang lalu, waktu timbul komplikasi penyakitnya yang membutuhkan perawatan sementara di Rumah Sakit. 

Hari berikutnya (Kamis, 13 Oktober), ia terbaring terus di tempat tidurnya. Pikirannya terang, namun badannya letih. Dan tepat pada waktu kami sedang minum kopi, ia meninggal secara mendadak. Kami dengan sebulat hati menyerahkannya kepada Sang Penciptanya. Pada akhirnya ia boleh beristirahat, deritanya telah selesai; kita sungguh merelakan dia beristirahat.

***

Saya sempat mempelajari riwayat hidup Sdr Bart. Empat setengah tahun yang lalu, ia mengarangnya untuk seseorang dari Best (Belanda) yang ingin menerbitkan sebuah buku tentang para misionaris dari kota itu. Sdr Bart memakai karangannya sebagai ucapan Selamat Natal/Tahun Baru kepada sanak-saudaranya, dan menandatanganinya dengan nama “Paman Theo”. Dalam karangan ini, saya juga membaca tentang perjuangan, sikap pantang menyerah, dan keteguhan dari seorang “yang membangun rumah hidupnya di atas bukit batu”. Izinkanlah saya mengutip beberapa hal, kadang-kadang dengan perkataannya sendiri. 

Ibunya yang tercinta berasal dari kampung Langeweg (tempat Seminari Menengah Kapusin dahulu), sesuatu yang pasti mempengaruhi pilihannya untuk hidup sebagai Kapusin. Pada mulanya, ia harus ke Enschede (ada sebagian dari Seminari Menengah di sana). Perjalanannya ke Enschede lumayan jauh, tetapi ia dapat naik kereta api dengan murah karena ayahnya bekerja di Perusahaan Kereta Api. Kemudian, ia kembali ke Langeweg untuk meneruskan pendidikannya di Seminari. Di sana ia mengalami akibat Perang Dunia II, yang sempat menghancurkan Seminari itu; suatu masa yang penuh ketakutan. 

Setelah belajar di Seminari-Seminari Darurat di Eindhoven, Tilburg dan Voorschoten, maka Theo masuk novisiat di Enschede pada tahun 1946, dan menerima nama Bartholomeus yang disingkatkan menjadi Bart. Pada tahun 1953, ia ditahbiskan menjadi imam bersama 8 teman sekelasnya, hanya Sdr Anastasius yang masih hidup. 

Pada tahun 1954, ia dihunjuk untuk bertugas di daerah misi. Maka, ia mengikuti kursus-kursus khusus sebagai persiapan. Namun, visa ke Indonesia belum bisa diperolehnya saat itu. Waktunya kemudian diisi dengan pelayanan kepada para katekumen, asistensi-asistensi keliling, dan ia sempat bertugas satu tahun lamanya sebagai Pastor Pembantu di Paroki Charlois, Rotterdam. Pada tanggal 13 Juni 1957, ia berangkat ke Indonesia dengan naik kapal Willem Ruys dari pelabuhan Rotterdam. Maka mulailah pekerjaannya sebagai misionaris. 

Tempat tugasnya yang pertama adalah Jangkang Benua, bagian Timur dari Keuskupan Agung Pontianak. Perjalanannya yang pertama ke sana ditulisnya dengan teliti: “Berhari-hari lamanya kami berjalan. Semuanya serba primitif: tak ada alat komunikasi, tiada surat kabar selama bulan-bulan lamanya, taraf kehidupan rendah, bahasanya sulit, makanannya kurang biasa, pemondokan sangat sederhana, hanya bisa jalan kaki atau naik perahu di sungai.” Kadang-kadang ia bertindak sebagai ‘dokter’ dan membagikan obat-obatan. “Setelah tiga tahun, saya terkena sakit lambung dan dioperasi di Pontianak. Walaupun hidup di sana agak berat, namun itulah waktu saya yang paling memuaskan, penuh petualangan dan kaya akan kenang-kenangan...” Kemudian, ia bertugas sebagai pastor di Bodok dan Pahauman. Di antaranya, ia sebentar melayani di Singkawang sebagai pemimpin bruder-bruder muda. 

Habis liburannya yang pertama (1965), ia menerima tugas sebagai pastor paroki Santo Fransiskus di Jakarta. Hidupnya sebagai misionaris berubah drastis. Dari pihak keuskupan, ia menerima sebuah motor Vespa. Pada mulanya, ia membangun sebuah Sekolah Dasar, yang mana pada tahun 1968, Barack Obama (dengan nama Barry Suntoro) termasuk salah satu muridnya di kelas 1. Komplek paroki itu dilengkapi dengan sekolah-sekolah, gereja, klinik dan fasilitas organisasi-organisasi... Rumah-rumah ini pun dibangun di atas bukit batu. Ia berusaha terus-menerus sampai semuanya berfungsi sebagaimana mestinya. Duapuluh tahun lamanya Sdr Bart tinggal di Jakarta. 

Sesuatu yang menonjol adalah keterlibatannya dalam gerakan “Marriage Encounter”, yang bertujuan membantu pasangan suami-isteri untuk berkomunikasi satu sama lain. “Saya bahkan turut serta dalam kepemimpinannya, memimpin banyak weekend di kota-kota besar di Indonesia dan mengikuti konferensi-konferensi setingkat Asia. Maka, saya telah mengunjungi kongres-kongres di Seoul, Manila, Singapura, Sri Lanka, Bombay dan Tokyo”. Pelayanan ini tetap sangat menarik bagi Sdr Bart.

Kembali ke Kalimantan Barat (tahun 1968), ia ditempatkan di Sanggau Kapuas menjadi ekonom untuk Keuskupan Sanggau, dan kemudian juga ekonom bagi persaudaraan Kapusin di Regio Pontianak. Di antaranya, ia sempat mengambil bagian dalam kepemimpinan propinsi, tetapi juga diminta untuk meneruskan tugasnya membangun sebuah rumah retret dan kantor propinsialat yang baru. Pada tahun 1991, ia dipilih menjadi Superior Kapusin. Lalu pada tahun 1994, ia dihunjuk menjadi Propinsial pertama untuk Ordo Kapusin Propinsi Pontianak (1994 – 1997).

Sdr Bart bertambah tua, dan pada tahun 2001 ia harus menjalani operasi jantung. Setelah sembuh, ia masih sempat bertugas selama tiga tahun di Pontianak. Pada tahun 2005, ia pulang untuk selamanya ke Negeri Belanda. 48 Tahun lamanya ia bekerja sebagai seorang misionaris. Ia merasa bangga dengan itu.

***

Ia sempat menyinggung situasi gerejawi dan hidup kepercayaan di Negeri Belanda. “Kepercayaan di sini hampir hilang seluruhnya. Mungkin akibat perbedaan budaya dengan dunia Timur/Selatan, maka saya merasa diri tidak sungguh-sungguh ‘at home’. Untunglah, saya masih dapat bekerja sedikit, selama saya masih sehat.”... Bart mengisi waktunya dengan menerjemahkan teks-teks, dengan kontak bersama para mantan misionaris, dengan asistensi ke susteran JMJ, dengan sewaktu-waktu memimpin Misa dalam bahasa Indonesia, dengan tugasnya sebagai anggota pimpinan biara dan sebagai ekonom biara.

Demikianlah Saudara Bart Janssen: ia seorang yang ramah, tetapi kadang-kadang tegas dalam soal hukum Gereja. Ia seorang yang rajin berusaha, suka berbelanja dan membeli barang-barang di toko; ia selalu mengantongi sejumlah dollar. Ia getol memakai barang: secara teknis, ada segala macam kemudahan padanya. Maka dapat dimengerti bahwa ia gemar akan usaha bangunan. Pada saat bersamaan, Sdr Bart adalah seorang imam yang saleh dengan devosi kuat terhadap Padre Pio serta Bunda Maria. Keduanya dihormatinya dengan sangat. 

Sdr Bart tinggalkan jejak-jejaknya, di mana saja ia telah sempat berada, dan terutama oleh karena kepribadiannya: ia adalah seorang yang bersemangat, seorang optimis yang beriman teguh, yang membangun rumahnya di atas fondasi yang kokoh. 

Salah seorang perawat di rumah kami mengatakan, bahwa Sdr Bart pada akhirnya dapat menikmati santapan yang lezat sesudah sekian bulan, dengan menyalurkan makanan itu melalui sonde; ia sungguh-sungguh menikmatinya sedemikian rupa, katanya. Saya rasa, bahwa itulah yang dimaksudkan ketika kita berkata: semoga ia untuk selamanya terlindung dalam cinta Allah. Saudara Bart, terima kasih atas semuanya dan beristirahatlah dalam damai. (P. Antoon Mars, OFMCap.) – Penerjemah: P. Jan van Maurik, OFMCap.

***

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25).



0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, October 19, 2016

Masa Muda 

Pastor Bartholomeus Theo Janssen OFMCap., atau yang sering disapa sebagai Pastor Bart, lahir di Eindhoven, Belanda, pada tanggal 3 Juli 1927. Beliau adalah anak yang tertua dari 9 bersaudara. Sejak masih kanak-kanak, beliau memiliki devosi khusus kepada Santa Perawan Maria. 

Maka tidak mengherankan, jika kecintaannya terhadap Bunda Maria telah mengantarkannya masuk ke Novisiat Kapusin pada tanggal 30 Agustus 1946 di Belanda. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1947, beliau mengucapkan kaul perdananya yang menjadi tanda bahwa beliau resmi sebagai anggota persaudaraan Ordo Kapusin Propinsi Belanda. 

Perjalanannya sebagai seorang saudara Kapusin dijalaninya dengan penuh kesetiaan. Itulah sebabnya, pada tanggal 31 Agustus 1950 beliau berani mengikrarkan kaul kekal, yang menandakan keputusan finalnya untuk menjadi anggota tetap persaudaraan Ordo Kapusin Belanda untuk selama-lamanya. Tiga tahun berikutnya, beliau menerima tahbisan imamat pada tanggal 04 Agustus 1953. 



Semangat Misioner 


Konstitusi Ordo Kapusin no. 174, 4 menyatakan bahwa “Ordo kita menerima tugas mewartakan Injil sebagai kewajibannya yang khas, biarpun, termasuk tanggungjawab seluruh Gereja. Kita memandang dan menerima karya misi itu sebagai salah satu dari usaha kerasulan kita yang terpenting.” Kata-kata indah dalam konstitusi ini telah mengobarkan semangatnya untuk menjadi seorang misionaris. Beliau ditunjuk untuk mengembangkan misi di Kalimantan Barat (West Borneo). Pada tanggal 09 Juli 1957, beliau menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di bumi Borneo. 

Pada awal karya misinya, beliau aktif melayani di pedalaman Jangkang Benua. Tiga tahun kemudian, beliau pindah ke Bodok. Tak lama sesudahnya, beliau pun ditugaskan ke Singkawang sebagai pemimpin para saudara muda. Dari sana, beliau lalu menjadi pastor rekan di Pahauman. 

Pada awalnya, Ordo Kapusin di Indonesia masih ditangani oleh tenaga misionaris dari Belanda. Pimpinan Ordo Kapusin saat itu disebut sebagai Superior Regularis. Waktu itu, Vikarius Apostolik untuk Borneo, Mgr. Herkulanus J.M. van den Burgt, OFMCap. (13 Juli 1957 - 02 Juli 1976) meminta agar Superior Regularis Ordo Kapusin membuka sebuah rumah persaudaraan Kapusin di Jakarta. 

Untuk kebutuhan itu, P. Bart diutus ke Jakarta pada tanggal 31 Agustus 1966. Beliau ditugaskan untuk mempersiapkan wilayah Menteng Dalam dan Tebet menjadi paroki mandiri (Paroki St Fransiskus Assisi), terpisah dari tiga paroki sekitarnya. Selama kurang lebih setengah tahun, beliau menjalankan tugasnya dari sebuah pastoran Serikat Jesuit (SJ) di Bidara Cina. Misi awal di Paroki Tebet ini tidaklah berjalan mulus dan damai karena letaknya di tengah daerah pemukiman muslim. Namun dengan adanya pembangunan sekolah, aula, dan poliklinik – lewat kerjasama dengan para suster SFIC, maka perlahan-lahan konflik tersebut mereda. 

Selama pelayanannya 20 tahun di Jakarta, P. Bart merupakan sosok yang aktif dalam gerakan Marriage Encounter (ME). Beliau mendampingi pasangan-pasangan yang hendak menikah dan meletakkan fondasi iman bagi perkawinan mereka. Selain itu, P. Bart juga pernah menjabat sebagai ekonom di Keuskupan Sanggau; menjadi pastor paroki di Paroki Sungai Raya, Pontianak; dan menggagas berdirinya Rumah Retret Tirta Ria dan Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak. Beliau memiliki wawasan praktis, bekerja cekatan dan memiliki penilaian yang seimbang atas setiap orang, yang menjadikannya layak sebagai pemimpin yang berkualitas. 



Minister Propinsial Pertama


Sementara itu, banyak sekali perubahan yang telah terjadi dalam wajah Gereja Katolik di Indonesia. Setelah lewat pertimbangan yang matang, maka pada tanggal 31 Januari 1976, Ordo Kapusin di Indonesia mulai berkembang dan dibagi menjadi tiga regio (Medan, Pontianak dan Sibolga). Pimpinan tertinggi regio itu disebut Superior Regionis. Ada dua nama Superior Regionis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu, yakni P. Amantius Pijnenburg (1975-1981) dan P. Franz Xaver Brantschen (1981-1990). 

Pada tahun 1990, P. Bart terpilih sebagai Superior Regionis yang terakhir, sebelum terbentuknya tiga propinsi mandiri pada tanggal 21 Februari 1994. Setelah meletakkan dasar bersejarah ini, beliau kemudian terpilih menjadi Minister Propinsial pertama Ordo Kapusin Propinsi Santa Maria Ratu Para Malaikat, Pontianak, untuk periode 1994-1997. 

Setelah pensiun dari tugasnya sebagai pimpinan ordo, P. Bart banyak menghabiskan waktunya untuk pelayanan bagi persaudaraan, terutama managemen perpustakaan ordo di Tirta Ria, Pontianak, di samping tugas-tugas parokial dan kategorial lainnya. Singkatnya, beliau telah memberikan pelayanan yang terbaik bagi perkembangan Ordo Kapusin dan Gereja Katolik di Indonesia.



Masa Tua 


Keinginan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman dan juga karena kondisi fisik yang semakin menurun telah memaksa P. Bart untuk kembali ke negara asalnya, Belanda. Pada tahun 2005, beliau kembali ke propinsi induknya dan tinggal di Den Bosch. Di sana, beliau bertanggung jawab sebagai ekonom rumah, aktif melayani di gereja lokal, dan memimpin kelompok doa Padre Pio. 

Pada tahun 2014, P. Bart menderita stroke, setengah badannya lumpuh. Kendati demikian, beliau tetap ceria dan optimis. Beliau tetap aktif dengan komputer, selalu siap menerima kunjungan dan berterima kasih untuk setiap perhatian yang diberikan kepadanya. Namun, situasinya memburuk setelah serangan jantung kedua yang menyebabkannya hampir tidak bisa berbicara dan menelan makanan. 

Akhirnya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 13 Oktober 2016 di biara Kapusin di Tilburg, setelah menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Beliau menutup usia pada umur 89 tahun, setelah mengabdi selama 70 tahun sebagai anggota Ordo Kapusin Propinsi Belanda, 63 tahun sebagai imam Kapusin dan 48 tahun sebagai misionaris di Indonesia. 

Misa requiem dan pemakaman dilaksanakan di Gereja Biara Kapusin Korvelseweg (Korvelseweg 165, 5025 JD Tilburg) pada hari Selasa, 18 Oktober 2016 pada pukul 15.00 waktu di Belanda. Semoga Allah, sumber segala kebaikan membawanya pada sukacita abadi. Selamat jalan pater tercinta, doakanlah kami yang masih berjuang di dunia ini. - P. Pionius Hendi, OFMCap.



>>> KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT VIDEO SINGKATNYA <<<


Beberapa foto terakhir Pastor Bart Janssen, OFMCap.

(Kontributor: Br. Jan Wijnans, OFMCap. & Br. Wilhelmus Baknenok, OFMCap.)



0
Baca Selengkapnya >>>

Sunday, June 26, 2016

Ordo Saudara-saudara Dina lahir pada tanggal 16 April 1209, ketika Fransiskus Assisi bersama Bernardus dari Quintavalle dan Petrus Catanii tiga kali membuka buku Injil dan melaksanakan Sabda Allah yang mereka temukan itu. Fransiskus mencatatnya dalam sebuah Anggaran Dasar singkat yang disahkan secara lisan oleh Paus Innocentius III.

Fransiskus adalah pemimpin dan pendiri Ordo yang baru ini, dan ia pula yang memilih namanya: "Ordo Saudara-saudara Dina" (Ordo Fratrum Minorum). Ordo ini berkembang dengan pesatnya, di Eropa dan juga di Timur Tengah. Para saudara hidup sebagai perantau dan pewarta Injil, di bawah bimbingan satu minister dan hamba seluruh persaudaraan. Dari waktu ke waktu, mereka semua berkumpul untuk membicarakan cara hidup mereka dan menimba semangat baru. Cara hidup mereka dilukiskan dalam Anggaran Dasar yang mengikuti perkembangan hidup persaudaraan. Pada tanggal 29 Nopember 1223, Paus Honorius III mengesahkan Anggaran Dasar ini secara definitif.

Cara hidup Saudara-saudara Dina memang baru dan sangat menarik bagi banyak orang, tetapi tidak selalu mudah. Hidup merantau sambil mewartakan Injil menuntut semangat religius sejati dan hanya cocok bagi orang yang matang. Padahal, mula-mula penyaringan calon dan pendidikan saudara baru kurang diperhatikan. Sehingga ada saudara yang hidup secara tak teratur, yang berkeliaran di luar ketaatan, dan ketularan ajaran sesat (bidaah). Demikian pula persaudaraan muda ini telah tergantung dari pribadi Fransiskus sendiri.

Untuk menanggulangi kesulitan itu, Fransiskus minta bantuan Kuria Roma, khususnya Kardinal Hugolino, yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX. Maka para calon diwajibkan menempuh tahun novisiat sebelum mengucapkan kaul. Para saudara mulai menetap di rumah biara yang dipimpin oleh seorang guardian dan mempunyai tata harian seperti lazim bagi semua biarawan. Ikatan dengan Gereja diperteguh melalui jabatan kardinal protektor, dan bahaya bidaah ditangkis dengan pen- didikan teologi yang baik.

Ketika Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1226, Ordo Saudara-saudara Dina tersebar di hampir seluruh Eropah dan di Timur Tengah. Jumlah saudara kira-kira 5000 orang, terbagi atas 12 - 13 propinsi.

(Sumber: Sejarah Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin 1525-1990. Parapat: 1990).
0
Baca Selengkapnya >>>

Wednesday, June 1, 2016

BRISBANE - Sekularisasi dan modernisasi tidak menyurutkan semangat umat Katolik dalam menghayati dan menghidupi imannya. Sebaliknya, hal itu justru menantang mereka untuk semakin berani menampakkan diri sebagai saksi Kristus di dalam dunia. Semangat itulah yang tampak nyata dalam kegiatan Corpus Christi Procession yang diadakan pada hari Minggu, 29 Mei 2016 di Katedral St Stephen, Brisbane (Australia).

Uskup Agung Brisbane, Mark Coleridge D.D., mengizinkan agar prosesi yang biasanya dilaksanakan di luar kota ini, pada tahun 2016 ini, bisa dilakukan di tengah-tengah keramaian kota Brisbane. Dan itulah yang memang terjadi. 

Kegiatan ini diawali dengan doa Rosario pembuka pada jam 1.30 siang. Perarakan kemudian dimulai tepat pada jam 2.00 siang, dipimpin oleh Uskup Auxilier Brisbane, Joseph Oudeman OFMCap. dengan didampingi oleh misdinar, seminaris, suster-suster dan para imam, termasuk beberapa imam dari Ritus Timur. Dalam perarakan ini, Sakramen Mahakudus ditakhtakan dalam sebuah monstran indah dan ditudungi. Sementara itu, umat yang jumlahnya lebih dari 1000 orang mengikuti dari belakang. 

Mereka berjalan selama kurang lebih dua jam melintasi jalan-jalan dan keramaian kota Brisbane di hari Minggu. Sepanjang perjalanan, kidung puji-pujian dilantunkan, doa Rosario didaraskan, dan ujud-ujud pribadi dipanjatkan. Lewat perarakan ini, umat Katolik menguduskan kota Brisbane bagi Kristus. Mereka benar-benar menerapkan apa yang pernah dikatakan oleh St Yohanes Paulus II, “Jangan takut membawa Kristus ke jalan-jalan.”

Perarakan ini turut pula dimeriahkan dengan aneka spanduk atau umbul-umbul yang berasal dari kelompok-kelompok doa di paroki-paroki, seperti Legio Maria dan aneka persekutuan doa. Hadir juga komunitas-komunitas etnis dengan aneka coraknya, seperti: Indonesia, India, Filipina, Korea, China, Meksiko, dan lain-lain. Anak-anak sekolah pun tidak mau ketinggalan. Melalui kegiatan ini, inti iman Katolik diwartakan secara terang-terangan bagi dunia, yakni bahwa Kristus sungguh hadir nyata dalam Ekaristi. - P. Pionius Hendi, OFMCap.


Suasana Seputar Kegiatan Corpus Christi Procession


0
Baca Selengkapnya >>>