Slider Background

Main Text

Ordo Kapusin Pontianak
Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudara Dina:
Menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus.
BERITA PERSAUDARAAN
REFLEKSI & OPINI

Service Section

Santo Fransiskus Assisi: Bapa Pendiri Ordo.

Ordo Kapusin berlandaskan pada keteladanan suci St Fransiskus Assisi.

Sejarah Berdirinya Ordo Kapusin dan Penyebarannya di Eropa.

Ordo Kapusin lahir dari kerinduan akan gaya hidup asketik yang lebih keras.

Kehadiran Ordo Kapusin di Indonesia (1905-sekarang).

Ordo Kapusin adalah sebuah cara hidup dengan semangat misioner yang tinggi.

Berkenalan dengan Ordo Kapusin Pontianak.

Ordo Kapusin dari negeri Belanda melabuhkan sauhnya di bumi Borneo.

Bidang Pelayanan Pastoral dan Kategorial Ordo Kapusin Pontianak.

Ordo Kapusin bekerja untuk pengembangan kerohanian dan spiritualitas umat.

Proses Pendidikan Calon dalam Ordo Kapusin Pontianak.

Ordo Kapusin mempersiapkan calonnya lewat pendidikan selama 9-12 tahun.

Perkembangan Ordo Kapusin di Seluruh Dunia Saat Ini.

Ordo Kapusin saat ini hadir dan berkarya di lebih dari 68 negara di seluruh dunia.

Orang-Orang Kudus Ordo Kapusin Sepanjang Masa.

Inilah pribadi-pribadi yang suci hidupnya, sehingga layak mendapat ganjaran surga.

Apakah Anda Tertarik Menjadi Seorang Kapusin?

Jika Anda membutuhkan bimbingan, email kami di: kapusin.pontianak@gmail.org.

DEWAN PIMPINAN ORDO PERIODE 2015-2018

VISI KAMI:
Saudara-Saudara Dina Kapusin Pontianak adalah Persaudaraan Injili yang dipanggil dan diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah seturut teladan St. Fransiskus Assisi dalam semangat keberpihakan kepada orang miskin, tak berdaya dan sakit, serta lingkungan hidup.

MISI KAMI:
1) Membangun dan meningkatkan persaudaraan dina yang tekun berdoa dan bekerja dengan setia dan bakti.
2) Membangun Gereja dan masyarakat yang bersaudara dengan semua dan dengan berpihak kepada yang miskin, tak berdaya dan sakit.
BICI No. 290-292 En - NEW!
BICI No. 289 En

Pilar Kehidupan Kapusin

Semua Pilar

Hidup Doa

Hidup Persaudaraan

Hidup Pelayanan

Hidup Pendidikan

Friday, January 22, 2016


P. Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap.

SINGKAWANG - Belasan tenda lengkap dengan panggung utama sudah terpasang dan tertata rapi di halaman Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang. Hari itu, 23 November 2015 memang menjadi catatan tersendiri bagi umat Katolik Paroki Singkawang karena gelaran peringatan 110 Kapusin di Bumi Kalimantan akan dibuka secara resmi oleh P. Amandus Ambot OFMCap selaku Minister Propinsial Kapusin Pontianak. Acara yang dikemas dalam sebuah pesta rakyat itu rencananya akan digelar selama sepekan penuh. Inti yang hendak dimaknai adalah menimba semangat heroik para misionaris Kapusin perdana dalam menanamkan warta gembira di Bumi Borneo. Maka tidak salah bila tema yang diusung dalam gelaran ini adalah Menelusuri Jejak Sang Penebar Terang di Singkawang. Sekedar menengok sebentar ke belakang. Panitia 110 Kapusin mencoba meletakkan gelaran ini dalam bingkai edukasi, sosial dan seni budaya. Itulah misi yang diemban dalam gelaran kali ini.

Aspek edukasinya nampak dalam ajang pameran. Tidak kurang dari 10 instansi terlibat aktif dalam memeriahkan acara ini. Secara khusus stand Kapusin, SFIC, MTB dan Klaris Kapusines menyajikan pembelajaran bagi para pengunjung untuk mengingat kembali sejarah Singkawang di masa lalu. Foto-foto dan benda-benda yang akan dipamerkan diharapkan mampu mengajak pengunjung untuk bernostalgia ke masa lampau. Aspek sosialnya diwujudkan dengan memberikan konsultasi kesehatan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis kepada para pengunjung. Stand yang digawangi oleh para medis dan dokter dari Rumah Sakit St Vincentius ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih yang nyata. Sedangkan aspek seni budayanya terjabarkan dengan jelas melalui pentas seni yang akan digelar selama sepekan ke depan mulai pukul 19.00 sampai 21.00. Ini menjadi pentasnya siswa-siswa sekolah Katolik se Kotamadya Singkawang. Mereka tak mau ketinggalan untuk menunjukkan kreasi dan kebolehannya. Seluruh rangkaian pesta ini akan memuncak dengan Misa Syukur yang akan dipersembahkan oleh Bapak Uskup Agung Pontianak pada hari Minggu, 27 November. Menurut rencana perayaan puncak ini juga akan dihadiri oleh Bpk Walikota Singkawang dan tokoh-tokoh lintas agama yang ada di Singkawang.

Kembali kepada acara pembukaan. Derasnya hujan yang mengguyur kota Singkawang sore itu tidak menyurutkan langkah umat Katolik untuk datang ke gereja yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Sementara ini tak kalah sibuknya adalah 14 kring yang mulai menata menu jajanan pasar yang akan digelar untuk open house bagi para pengunjung di halaman gereja. Begitulah cara mereka melibatkan diri dalam pesta rakyat kali ini. Sangat murah dan meriah.

Dengan memakai payung dan jas hujan, umat terus berdatangan. Dari raut wajah umat tergambar antusiame yang tidak mau melewatkan momen yang sangat langka ini. Tepat pukul 15.00 gelaran pesta dimulai dengan memanjatkan doa Koronka Kerahiman Ilahi di gereja. Doa ini memang tidak bisa dilepaskan dari rancangan Bapa Suci yang mencanangkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci Kerahiman Ilahi. Sementara doa Koronka masih dipanjatkan, lima penari sumpit sudah bersiap di halaman gereja. Begitu doa koronka selesai, P. Propinsial, P. Paroki Singkawang, Ketua DPP terpilih, Ketua Panitia 110 tahun Kapusin dan Sr Abdis Klaris Kapusines didaulat untuk menyumpit 5 balon sebagai tanda dimulainya pesta 110 Kapusin. Dengan gerakan yang luwes 5 penari sumpit menjemput dan menghantar kelima orang yang telah ditunjuk ke arena penyumpitan. Kepada mereka akhirnya diberikan masing-masing satu sumpit. Dan mata umat yang hadir tertuju kepada 5 balon. Gemuruh tepuk tangan menggema saat balon terakhir berhasil disumpit dan terbanglah spanduk perayaan 110 Tahun Kapusin.

Pembukaan pesta semakin semarak dengan pentas tari barongsai yang dimainkan secara apik oleh mahasiswa STIE Mulia Singkawang. Acara ini memberikan warna tersendiri dan menyempurnakan tarian sumpit, seolah mau mengatakan keragaman budaya yang ada di Singkawang. Di akhir tariannya, barongsai berkenan menjemput P. Ambot dan menghantarnya ke stand pameran. Di sana sudah menunggu acara berikutnya, yakni pengguntingan pita dan pembukaan pintu utama. Dengan pengguntingan pita maka secara resmi acara pameran pun dibuka. Para pengunjung dipersilahkan mengunjungi stand-stand pameran.

Dipenuhi rasa ingin tahu umat pun memasuki ruang pameran. Satu demi satu foto-foto dan benda-benda yang dipamerkan tak lepas dari pandangan mata. Ada satu sudut yang tidak pernah dilewatkan oleh para pengunjung. Mereka selalu singgah di sudut itu untuk melakukan sesi foto karena sudut itu dirancang oleh panitia pameran. Dengan latar belakang Gereja Singkawang tempo dulu dan sekarang, dilengkapi dengan sepeda onthel pengunjung bisa mengabadikan dirinya, seolah dirinya berada di masa lalu. Rancangan yang sungguh kreatif dan menarik.

Setelah puas berkeliling di stand-stand pameran, umat dipersilahkan untuk pindah ke halaman gereja Di sana sudah menunggu 14 stand jajanan kuliner khas Singkawang. Tanpa menunggu dikomando untuk kedua kalinya, umat pun tumpah ruah menuju halaman gereja untuk mencicipi hidangan yang disediakan secara gratis. Suasana persaudaraan begitu terasa karena semuanya berbaur menjadi satu. Acara open house menjadi penutup dari rangkaian pembukaan pesta 110 Kapusin di Singkawang.

Dalam wawancaranya dengan media cetak, P. Ambot mengungkapkan rasa bangga dan terimakasihnya kepada umat Singkawang. Dari gelaran ini P. Ambot mendapat kesan bahwa umat Singkawang menaruh perhatian yang besar kepada karya-karya Kapusin. Kecintaan umat kepada Kapusin tergambar dalam pesta ini. Harapan ke depan tentunya umat pun mampu menimba semangat para Kapusin dalam menerbarkan Sang Terang dan mewujudkannya dalam masa sekarang ini. Selamat pesta bagi Saudara-saudara Kapusin.




FOTO-FOTO PERAYAAN 110 TAHUN
KARYA MISI KAPUSIN DI BUMI BORNEO







SUASANA SEPUTAR MISA SYUKUR & PUNCAK PERAYAAN
(Oleh P. Marius Tjhin, OFMCap.)


SELAMAT PESTA

Baca Selengkapnya

Wednesday, January 13, 2016

Fr. Aloysius Anong, OFMCap.
Bagian fundamen dari terbentuknya masyarakat sekarang ini adalah kehadiran dari keluarga-keluarga kecil. Keluarga adalah mikrokosmos dari dunia makrokosmos. Kehidupan kecil di tengah kehidupan yang maha besar. Karena iu sebuah keluarga bisa kita katakan sebagai miniatur dari masyarakat yang luas.

KELUARGA
Keluarga adalah tempat persatuan/komunitas yang genuine, asli. Sebagai komunitas yang asli, keluarga berperanan penting untuk menata kehidupan baru. Keluarga menjadi pusat perkembangan person secara jasmani maupun rohani. Locus of attitude pertama dan menentukan. Disinilah wadah pemenuhan kehidupan moral dan keagamaan secara personal.

The family is the basic cell of society and for that reason the primery locus of humanization”. Keluarga menjadi sel/inti utama dari masyarakat. Dari padanya insan manusia baru di bentuk dan di beri pelajaran akan cinta kasih. Keluarga sebagai tempat yang sangat potensial dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Keluarga menjadi instrumen yang paling mendasar serta memiliki power, untuk kebaikan anak di masa mendatang.

Peranan keluarga secara aktif sangat diperlukan, agar keutuhan keluarga yang bermartabat tetap utuh dan terjaga. Keluarga menjadi titik tolak untuk menentukan dan mengatakan tentang diri seseorang. “pantaslah dia begitu karena orangtuanya aja seperti itu”, “bagaimana mungkin dia bisa mengurus orang banyak, keluarganya saja tidak beres”, “kalau mau mencari jodoh lihatlah bibit bebet dan bobotnya”. Keutuhan, integritas dalam sebuah keluarga sangat berarti untuk membentuk suatu pola pikir yang baik dan berkualitas.

ANAK
Secara kodrati penyatuan antara pria dan wanita yang diikat dengan sebuah perkawinan adalah ingin menghadirkan kembali manusia baru di muka bumi ini. Menjadikan suatu masyarakat besar yang tidak terputus. Menjadi perpanjangan Allah dalam karya penciptaan dan pemenuhan kebaikan di muka bumi.

Allah memberikan tanda cinta yang paling nyata dalam sebuah keluarga ialah anak. Meskipun ada yang beranggapan kehadiran seorang anak di dalam keluarganya menjadi trouble maker. Maka ada yang mencoba mengadopsi hewan piaraan (Kucing, Anjing, kelinci) sebagai pengganti anak. Mereka tidak mau direpotkan dengan kehadiran seorang anak. Manusia yang adalah Citra dari Allah (Kej. 1:26) dianggap sebagai pembuat masalah. Tentulah paham ini, tidak akan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam tatanan hidup bermasyarakat. Hampir dapat dipastikan kehadiran mereka hanya sebagai penikmat bukan pemberi nikmat.

Dalam hal ini kita bisa bertanya, Apakah seorang anak yang lahir itu menjadi trouble maker? atau pasutri itu yang tidak lagi bisa membedakan manusia dan hewan dalam hidupnya? Anak adalah harta yang tidak ternilai dan tak tergantikan oleh apapun. Karena bagaimanapun juga, anak adalah generasi, pewaris kehidupan yang akan memberikan kehidupan kepada makhluk hidup yang lain.

TANTANGAN
Keluarga yang merupakan bagian kecil dari kehidupan di dunia ini, memiliki suatu tanggung jawab yang tidak kecil. Gaya hidup yang terus berkembang, memberikan pesonanya tersendiri. Ditambah lagi dengan banyaknya permasalahan yang cenderung berakibat pada kedisharmonisan.

Radio, televisi, surat kabar, internet, komputer, hand phone dan lain sebagainya menjadi bagian penting yang juga mengisi kehidupan dalam sebuah keluarga. Instrumen-instrumen ini terkadang bisa menjadi malaikat sekaligus iblis pencabut nyawa. Dari situlah, peran orangtua sangat menentukan dalam pemanfaatan dan penggunaan alat peraga pendidikan kecerdasan manusia ini. Banyak kasus kejahatan anak-anak yang sering kita dengar berbuah dari kurangnya pengawasan orangtua atas penggunaan internet dan hand phone.

Rasionalitas dijadikan tolok ukur dalam modernitas yang membebaskan manusia dari sistem tradisi dan otoritas agama yang dogmatis. Namun di sisi lain, melahirkan proses dehumanisasi. Jika anggota keluarga terlepas dari komunitas keluarga (the community of family) dan bisa menjadikan dirinya kehilangan jati diri sebagai manusia.

Apabila salah satu anggota keluarga terlepas dari komunitas, ia akan seperti “anak ayam kehilangan induknya”. Ia akan dihadapkan pada berbagai macam masalah, seperti krisis alienasi, krisis identitas, dan krisis depersonalisasi. Krisis yang dialami secara continue berbagai macam bentuk mampu berdampak bagi keluarga itu sendiri, serta cenderung mengarah pada pola hidup yang konsumeristis, hedonitas, dan dapat mengarah pada tindakan kriminal, serta ‘amoral’ di dalam keluarga.

CINTA KASIH
"Cinta kasih merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah tertera dalam kodratnya". Maka penekanan di dalam anggota keluarga yang integral ialah cinta kasih. Cinta tidak hanya menjadi kata-kata belaka namun, tercermin dalam segala perbuatan, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. Sebab cerminan ini, telah diwariskan oleh Allah yang penuh Kasih yang menciptakan manusia. Cinta Kasih adalah hukum utama dan terutama dalam sebuah masyaratkat kecil, yang menjadi bagian dari masyaratkat yang luas.

Penanaman cinta kasih di zaman global sekarang ini, bisa menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah keluarga. Sebab pemberian cinta yang ditujukkan kepada seorang anak akan berpengaruh pada masa pertumbuhan menju dewasa. Seseorang akan bisa mencintai apabila ia pernah merasakan cinta. Demikian halnya, kasih dapat diberikan seseorang karena ia pernah merasakan dikasihi. Namun, tetap mendapat catatan bahwa pemberian Cinta dan Kasih untuk seorang anak mesti proporsional.

Dengan demikian, kita bisa berangan-angan, apabila setiap keluarga mampu saling memberikan cinta kasih, saling memperhatikan dan saling mengingatkan, kita akan hidup di dalam dunia yang penuh canda, tawa dan nyanyian kegembiraan. Sebab tidak adalagi kejahatan yang mencemaskan.

Keutuhan sebagai keluarga sangat memberikan makna yang tidak terhingga. Dimana anggota keluarga saling berbagi dan saling mengenal dalam banyak hal. Keluarga menjadi wahana untuk penyelesaian segala problem. Menjadi tempat pendidikan iman dan kemanusiaan. Maka, kesatuan dan keutuhan di dalam anggota keluarga sangat di utamakan, terlebih pada masa transisi peradaban globalisasi.



Baca Selengkapnya

Monday, December 14, 2015


Br. Roymundus, OFMCap.

RASAU JAYA - Para saudara muda Kapusin dari komunitas rumah pendidikan San Lorenzo-Pontianak diberi waktu untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dari kampus, lewat kegiatan kerasulan ke stasi-stasi pada hari Minggu. Mereka dijadwalkan dua kali sebulan untuk mengadakan kegiatan kerasulan ini. Di samping itu, ada juga yang kerasulan di bidang karya kategorial, seperti pendampingan ASMIKA, Ordo Fransiskan Sekular (OFS) dan Legio Maria. Pada kesempatan ini kami akan berbagi cerita tentang pengalaman tourne bersama Pastor Warsito dan Pak Beni ketika mengunjugi umat yang ada di stasi Gempar, Separok, Kancil dan Gunung Tamang. Keempat stasi itu berada dalam wilayah pelayanan Paroki Santa Theresia, Delta Kapuas (Rasau Jaya). 

Stasi-stasi itu terletak di tepi aliran sungai Kapuas. Jarak antara Pontianak ke lokasi kerasulan cukup jauh. Dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam naik Speed Boat, bila jalur yang ditempuh adalah sungai. Jalur darat memang bisa dipilih sebagai jalan alternatif, namun kondisinya cukup berat karena jalan menuju ke stasi-stasi itu masih berupa tanah kuning. Selain itu, jembatan yang digunakan untuk menyeberangi sungai Kapuas juga belum tersedia. Maka, kami memilih jalur sungai karena jalur itu kami anggap sebagai akses tercepat untuk sampai ke stasi-stasi tersebut.

Kami berangkat dari dermaga sekolah pertukangan St. Yusuf pada hari Sabtu, pukul 15.00 WIB. Tetapi setelah setengah jam berada di atas Speed Boat, perjalanan kami menjadi terhalang oleh angin kencang yang disertai hujan deras. Cuaca buruk membuat Pak Beni, sang driver, tidak berani memacu kecepatan Speed Boat-nya karena jarak pandang yang sangat terbatas. Alhasil, perjalanan kami menjadi lebih lama.

Waktu terasa cepat berlalu. Di tengah perjalanan, petang pun mulai menggayut. Awan hitam yang menyelubungi langit semakin menambah gelapnya mayapada. Pekatnya malam ternyata membawa rintangan tersendiri bagi perjalanan kami. Speed boat yang kami tumpangi sempat kehilangan arah dan akhirnya kandas di atas permukaan air yang dangkal. Kejadian itu sempat membuat kami cemas, karena tidak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa ada bagian Sungai Kapuas yang tinggi airnya hanya selutut, apalagi posisi kami saat itu masih cukup jauh dari pantai. Baling-baling speed boat tersangkut di pasir, namun kesulitan itu berhasil kami atasi.

Supaya kejadian yang sama tidak terulang kembali, speed boat kemudian dikemudikan dengan lebih berhati-hati karena selain permukaan airnya dangkal, sampah kayu yang hanyut terbawa aliran sungai juga bisa merusak baling-baling apabila tertabrak. Syukurlah, berkat usaha dan doa yang disertai kepiawaian pak Beni dalam mengemudikan speed, perjalanan pun bisa kami lanjutkan dengan aman dan selamat. 


Pukul 19.10 WIB kami tiba di Stasi Gempar. Di tempat ini, salah seorang di antara kami harus bermalam, sementara tiga orang lagi harus melanjutkan perjalan menuju ke stasi-stasi berikutnya. Untunglah, beberapa umat di Stasi Gempar masih setia menunggu kedatangan kami, meskipun sebelumnya mereka telah berencana akan mengadakan acara penutupan bulan doa rosario pada pukul 19.00 WIB. Namun, karena kami datang terlambat maka doa rosario pun akhirnya bisa dilaksanakan mulai pukul 19.45 WIB, didampingi oleh Frater Aloysius yang bermalam di tempat ini.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 20.30 WIB kami tiba di Stasi Separok, dan langsung menuju ke rumah ketua umat. Suasana tampak sepi. Kedatangan kami hanya disambut oleh bapak ketua umat dan beberapa umat, yang pada malam itu kebetulan sedang bertamu. Rupanya, stasi ini sengaja tidak mengadakan kegiatan doa rosario karena menurut informasi yang diterima, stasi mereka akan dikunjungi oleh frater dari  Stasi Gempar pada hari Minggunya, setelah kegiatan ibadat di sana selesai.

Keesokan harinya, hujan mengguyur bumi persada. Hari Minggu, yang seharusnya disambut dengan susana ceria, menjadi terasa sepi karena cuaca yang kurang bersahabat. Suhu udara terasa dingin karena mulai dari pagi hingga menjelang siang, hujan deras disertai angin kencang terus mengguyuri perkampungan. Umat yang hendak pergi ke gereja untuk beribadat pun menjadi terhalang. Ibadat Sabda, yang rencananya dimulai pukul 09.00 WIB, terpaksa ditunda dan akhirnya baru dilaksanakan pada pukul 10.30 WIB. Walaupun tidak banyak umat yang hadir, Ibadat Sabda tetap dilaksanakan dan Sabda Allah tetap diwartakan dengan penuh sukacita.

Setelah perayaan Ibadat Sabda selesai, umat pulang ke rumah mereka masing-masing. Kami pun kembali ke rumah ketua umat untuk makan siang dan beristirahat sejenak, sambil menunggu kedatangan Pastor Warsito dan Pak Beni, yang merayakan Misa di stasi Gunung Tamang. Ketika mereka tiba di Separok, kami langsung berangkat menuju ke Stasi Gempar untuk menjemput saudara yang menginap di sana. Setiba di Stasi Gempar, kami singgah sebentar di rumah ketua umat dan disuguhkan dengan makanan ala kampung yang sederhana, tetapi lezat. Selesai santap siang bersama, kami kemudian kembali menuju ke Pontianak. Pax et Bonum. 


Baca Selengkapnya

Wednesday, November 18, 2015

PONTIANAK - Pada hari Rabu, 18 November 2015, para saudara Kapusin Provinsi Pontianak dikejutkan oleh sebuah berita menyedihkan: Pastor Martinus Joni Minggulius OFMCap telah berpulang ke rumah Bapa. Betapa tidak, pastor kelahiran 04 Juni 1978 di Jelatok, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, itu meninggal pada usia yang masih sangat muda, 37 tahun.

Pastor Joni masuk biara dan menerima jubah coklat Kapusin pada tanggal 03 Juli 1998. Satu tahun kemudian, tepatnya 02 Agustus 1999, beliau resmi menjadi anggota persaudaraan Ordo Kapusin Provinsi Pontianak. Pada tanggal 15 Agustus 2007, tepat pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, beliau mengikrarkan kaul kekal untuk hidup selama-lamanya dalam persaudaraan Ordo Kapusin. Satu tahun kemudian, yakni tanggal 05 April 2008, beliau ditahbiskan menjadi seorang imam. Dengan demikian, pengabdiannya sebagai seorang imam Kapusin adalah selama 7 tahun.

Pada usia imamatnya yang baru tujuh tahun, beliau sudah melayani di dua tempat di mana Ordo Kapusin Pontianak berkarya, yakni di Paroki Pusat Damai dan Paroki Tebet. Tempat terakhir beliau berkarya adalah di Paroki St. Fransiskus Assisi, Tebet, Jakarta Selatan. Di sana beliau bertugas sebagai pastor rekan sekaligus mahasiswa pasca-sarjana di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), fakultas Manajemen Pendidikan.

Penampilan yang sederhana dan selalu tampil ceria menjadi ciri khas dari Pastor Joni. Kehadirannya memberi kesan tersendiri, baik bagi para saudara Kapusin maupun bagi umat di paroki-paroki yang pernah dilayaninya. Pribadinya yang luwes, murah senyum dan kadang terkesan lugu seringkali menimbulkan kerinduan tersendiri bagi setiap orang yang pernah bertemu dengannya. Mungkin itulah sebabnya beliau sangat mudah bergaul dengan siapa saja, mulai dari kalangan orang tua sampai dengan anak-anak.

Sekitar pertengahan tahun 2015, Pastor Joni didiagnosis dokter mengidap penyakit lupus, salah satu penyakit berbahaya karena antibody – yang seharusnya melindungi tubuh dari virus dan bakteri luar – kini berbalik menyerang organ tubuhnya yang sehat. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, penyakit ini sudah menyebar dan menggerogoti organ-organ tubuhnya, termasuk jantung. Berbagai usaha telah diupayakan, baik oleh paroki maupun ordo. Pengobatan telah dilaksanakan di berbagai tempat, termasuk ke Kuching, Malaysia, namun tanpa membuahkan hasil. Tuhan ternyata mempunyai rencana lain bagi pastor muda ini. Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Siloam, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada hari Rabu, 18 November 2015, sekitar jam 12.30 siang.

Jenazah almarhum rencananya akan diberangkatkan ke Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Kamis, 19 November 2015, jam 6.00 pagi, untuk disemayamkan sementara di kapel Rumah Retret Tirta Ria, Pontianak. Keesokan harinya (Jumat, 20 November 2015), jenazah akan diberangkatkan menuju ke Rumah Retret Laverna, Sanggau Kapuas, tempat persemayamannya yang terakhir. Malamnya, jam 7.00 WIB, akan diadakan Misa Arwah di Aula St. Maria, Rumah Retret Laverna, Sanggau Kapuas. Misa requiem akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 November 2015, jam 8.00 pagi di tempat yang sama. Akhirnya, jenazahnya akan dikebumikan di “Taman Getsemani”, tempat pemakaman umum bagi para saudara Kapusin di Sanggau Kapuas, Kalimantan Barat.

Dalam salah satu tulisan di account Facebook-nya, tertanggal 14 April 2014, Pastor Joni menulis demikian: “Keluar dari kabutnya kehidupan dunia ini menuju ke hadapan Allah Yang Maha Kudus dan penuh belas kasih. Berkatilah orang-orang yang mengenalku dan kukenal, yang meminta maupun tidak meminta doa-doaku. Semoga mereka semua menjadi Kasih-Mu yang nyata di dunia ini. Amin.” Kata-katanya ini kini menjadi kenyataan.

Selamat jalan, saudara! Semoga pengabdianmu di dunia ini membawa hasil melimpah di kehidupan yang abadi. Doakanlah kami para saudaramu yang masih berjuang. Rest in peace. (ADMIN)


Baca Selengkapnya

Sunday, November 8, 2015

Fr Aloysius Anong, OFMCap.


SANGGAU KAPUAS - Beberapa bulan yang lalu, Saudara-saudara Imam Muda Kapusin mengadakan event besar di Rumah Retret Laverna-Bunut, Sanggau Kapuas. Kegiatan bersejarah ini diadakan pada tanggal 28-30 Januari 2015. Event ini mereka namakan “Capuchin’s Camp” (CC). Event ini adalah event yang pertama kalinya. CC merangkul orang-orang muda Katolik yang ada di wilayah teritorial Paroki Kapusin, khsususnya Kapusin Provinsi Pontianak.

Ada sekitar 250-an Rekan Muda Katolik yang hadir. Mereka berasal dari 15 Paroki Kapusin Provinsi Pontianak: Paroki St. Maria Balai Sebut, Jangkang; Paroki Gembala Yang Baik - Kuala Dua; Paroki St. Yohanes – Balai Karangan; Paroki Salib Suci – Ngabang; Paroki Yohanes Pemandi – Pahauman; Paroki St. Maria – Nyarumkop; Paroki St. Yoseph – Sanggau Ledo; Paroki St. Fransiskus Assisi – Singkawang; Paroki Kristus Raja – Sambas; Paroki Nanga Bulik; Paroki St. Paulus – Pangkalan Bun; Paroki St. Sesilia – Pontianak; Paroki St. Theresia Delta Kapuas – Rasau Jaya; Paroki St. Fransiskus Assisi – Tebet, Jakarta. Dua paroki absen yakni Paroki Gembala Baik – Pontianak dan Paroki St. Yoseph Kathedral – Pontianak.

Event ini dikemas dalam dua bentuk. In door dan out door. Kegiatan in door diisi dengan ibadat, Misa dan penyampaian materi seputar “orang muda yang baik, beriman dan bersaudara”. Pada sesi ini, rekan-rekan muda ditemani oleh P. Joseph Juwono, OFMCap dan P. Iosephus Erwin, OFMCap. Mereka mengetengahkan bagaimana peran rekan  muda Katolik dalam membangun Gereja masa depan dan menjalin persahabatan yang baik, beriman dan bersaudara. Sementara, pada pembukaan acara Pater Provinsial Kapusin Pontianak, menyingung seputar kehidupan Fransiskus dari Assisi dan Fransiskan (Pengikut-pengikut Fransiskus), sebagai pentobat dan pembaharu Gereja yang tidak meninggalkan Gereja Katolik.

Kegiatan out door, dirangkai dengan Ibadat dan meditasi bersama dengan alam dan  berani kotor dan basah (outbound). Kegiatan outbound mendapat tempat utama di hati rekan muda. Sebab kegiatan ini sungguh-sungguh membuat mereka menyatu, kompak, satu dengan yang lain.

Setelah kegiatan berakhir, rekan-rekan muda diajak untuk menyaksikan acara pentahbisan Imam baru Kapusin di Paroki Gembala Yang Baik-Kuala Dua. Disela-sela bersantai setelah acara pentahbisan Imam, panitia berkeliling dan bertanya kepada peserta CC. Pertanyaan itu seputar kesan dan pesan mereka ketika dan setelah mengikuti CC.  Hampir semua rekan muda yang dimintai pendapatnya mengatakan “Seru, asyik, mantap”. Mereka berharap ada CC yang berikutnya. Dalam seloroh mereka berkata “aku ngak mau kawin dulu, sebelum ada CC yang kedua.” Beberapa pendamping dan pastor paroki yang juga ikut terlibat dalam kegiatan ini merasakan hal yang sama, seperti rekan-rekan muda peserta CC. Harapan mereka semoga dengan CC ini rekan-rekan muda semakin menyadari tugas dan tanggung jawab mereka sebagai orang yang beriman Katolik. Mewujudkan orang muda yang baik, beriman dan bersaudara. Saling kenal satu dengan yang lain. Apa yang menjadi harapan para pendamping dan Pastor Paroki, tentu juga menjadi harapan bagi Panitia CC. Jadi, para sahabat muda, kami tunggu kedatangan Anda di Capuchin's Camp II yang akan diselenggarakan di Tirta Ria dan Gunung Banuah pada tanggal 28-31 Januari 2016. Kali ini, acaranya akan lebih seru lagi! Pace e Bene...



Baca Selengkapnya

Saturday, November 7, 2015

Fr. Aloysius Anong, OFMCap.

Kata maaf” adalah ungkapan biasa yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan dalam bahasa asingpun gampang diucapkan “sorry” artinya sama yaitu “maaf”. Selain suku katanya sedikit, kata ini juga gampang dalam pelafalannya. Kata “Maaf” meskipun hanya empat huruf, tetapi menuntut keberanian dari seseorang untuk mengucapkannya. Mengatakan maaf itu mudah. Melaksanakan makna yang terkandung di dalamnya itu yang tidak gampang.

Memaafkan
Memaafkan adalah pekerjaan, aktivitas yang menjadikan seseorang merasa nyaman, memberikan rasa lega dan sakit, yang disebabkan oleh amarah dan dendam. Memaafkan merupakan suatu pengalaman adanya suatu perpindahan dari suatu peristiwa yang tidak mengenakan beralih menjadi peristiwa yang membebaskan.
Memaafkan itu berarti membebaskan. Artinya dengan tindakan itu kita melepaskan seluruh kekecewaan, kegelisahan, benci, marah, sakit hati, dan dendam di dalam diri kita sendiri. Seraya itu pula kita ingin membuka diri untuk membangun pribadi yang dewasa dalam pola pikir, sikap dan tindakan yang positif dalam menata kehidupan. Memaafkan juga menjadi suatu pembelajaran berharga bagi kita. Karena memaafkan menuntut kerendahan hati, dan keterbukaan diri bagi orang lain.

Memaafkan diri
Sebagai makhluk ciptaan kita harus sadar bahwa kita tidak sempurna. Cerminan ini hendaknya menghantar kita untuk bisa memberikan maaf kepada sesama yang telah berlaku tidak adil. Setelah, kita bisa memaafkan orang lain, kita juga harus belajar memaafkan diri sendiri. Tindakan ini, menandakan diri kita adalah bagian dari makhluk ciptaan, yang tidak sempurna. Masa lalu, biarlah berlalu dan tidak perlu diungkit lagi. Kita mesti belajar untuk menerima diri apa adanya. Dengan itu, kita berani untuk membuka lembaran baru dalam hidup.
Tentulah untuk memaafkan diri sendiri, tidak seperti kita memaafkan orang lain. Memaafkan diri memerlukan suatu permenungan dan refleksi yang mendalam. Artinya, kita mau mengenali diri kita secara penuh sebagai manusia yang tidak sempurna. Kita mau membuka diri untuk kelemahan dan kelebihan diri kita. Mampu berdialog dengan batin sendiri “menelanjangi” diri dihadapan diri kita. Maka, tuntutan kepada kita ialah menarik diri dari segala kesibukan hidup harian kita “menyepi”.
Setelah pemeriksaan batin, dan sungguh mau mengakui dan menyadari semua kekurangan dan kelebihan kita, maka kita bisa mengucapkan kata maaf untuk diri sendiri, yang telah membuat orang lain sakit hati. Kita mau dan mulai berdamai dengan diri sendiri. Introfeksi secara mendalam dan total. Tindakan ini adalah hal yang paling “kecil“ tetapi sangat berarti. Karena menuntut suatu kesungguhan-kesadaran yang mendalam.

Memaafkan orang lain
Setelah kita berdamai dengan diri sendiri, maka kita juga harus bisa berdamai dengan orang lain. Bagaimana caranya, ialah dengan memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Tentu ini akan menjadi berat jika tidak kita mulai terlebih dahulu dengan diri sendiri. Semuanya akan menjadi mustahil, apabila kita sendiri tidak berani untuk memaafkan diri sendiri. Jadi keduanya harus berjalan beriringan.
Barangkali kita masih ingat akan peristiwa penembakan almarhum Paus Yohanes Paulus II oleh Mehmet Ali Agca. Bagaimana sikap  almarhum Sri Paus Yohanes Paulus II kepada si pelaku? Apakah ia mengutuk sipelaku dan kru-krunya. Tidak! Sebaliknya, beliau membukakan pintu maaf serta berdoa bagi Ali Agca. Bahkan, setelah sembuh dari lukanya Bapa Paus pergi menjenguk Ali, dan berbicara secara kasih persaudaraan.
Tindakan Bapa Suci di atas bukan tidak mungkin kita perbuat dan laksanakan. Bahkan bisa lebih dari itu asalkan kita mau. Yesus sendiri telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus mengampuni. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk23:34). Yesus sanggup memberikan maaf kepada orang-orang yang ikut menyalibkan Dia, termasuk di dalamnya ialah kita. Bahkan, Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ia memberikan jaminan kepada seorang penyamun untuk hadir bersama dengan dirinya di firdaus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23: 43). Ajaran dan teladan dari kedua tokoh suci di atas bisa kita jadikan sebagai permenungan dalam hidup kita, untuk semakin menghargai sesama.
Dengan memberikan maaf kepada orang lain. Kita bisa memperoleh dua hal yakni membebaskan orang itu dari segala kesalahannya. Kedua, ialah kebebasan diri kita sendiri. Menurut Lewis B. Smedes ada empat keuntungan yang kita peroleh ketika kita memaafkan. diantaranya ialah: pertama,  kita bisa membebaskan diri kita dari perasaan tersiksa, gelisah, dan susah karena benci. Selain itu kita bisa membangun suatu sikap “Positif Thingking” atau berpikir jernih. Kedua, kita tidak menjadi hakim bagi diri sendiri, dan terhindar dari keinginan menyiksa diri dengan narkoba atau minuman keras. Ketiga, kita siap menuju hidup baru, menyongsong hari esok dengan luwes dan lebih cerah. Dan yang keempat, kita menciptakan kedamaian, serta menghargai hidup di tengah manusia lain. Dengan demikian kita semakin menjadi manusia yang utuh dan terintegrasi.


***††††††††††††††***

Memaafkan adalah suatu sikap untuk menuju ke arah “Positif Thingking“ atau berpikir jernih. Dengan berpikir jernih kita bisa dan berani untuk membuka diri secara universal kepada orang lain diluar diri kita. Memaafkan, juga  merupakan suatu pilihan dalam hidup. Dengan “memaafkan“ berarti kita memilih satu pilihan yang selama ini di lupakan dan dijauhi. 
Memberi maaf berarti kita menawarkan suatu kehidupan yang baru. Kita mau hidup bersama dengan kedamaian dan ketenangan. Maka, mari kita untuk berani memaafkan diri sendiri dengan terus menggali nilai-nilai kerohanian kita, dan memaafkan orang ain yang telah menyakiti hati kita secara tulus ikhlas, dan tanpa pamrih. Dengan demikian kita menjadi pelopor yang bebas dan membebaskan, baik di lingkungan sekitar kita maupun di dalam diri kita sendiri. Damaiku Bagimu.


Baca Selengkapnya

Wednesday, October 28, 2015


Sdr Meldi Irwandi


SANGGAU KAPUAS - Pada tanggal 14 Oktober 2015 yang lalu di Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic, Bunut-Sanggau, diadakan perayaan syukur 25 tahun Postulat. Perayaan dilangsungkan pada sore hari, diawali dengan perarakan yang diikuti oleh sejumlah besar para Saudara Kapusin Pontianak serta umat yang hadir. Jumlahnya sekitar 300-an orang. Perarakan tersebut dimulai dari gedung Postulat menuju ke patung Santo Leopold Mandic sebagai santo pelindung dari Postulat Kapusin Bunut-Sanggau. Letaknya di Persimpangan jalan postulat. Patung yang baru dibuat oleh Bapak Bujang Kirei itu adalah bantuan Rumah Retret Laverna untuk Postulat. Patung tersebut diberkati oleh Mgr. Julius Mencucini,CP, Uskup Keuskupan Sanggau.

Setelah pemberkatan patung Santo Leopold Mandic, perarakan dilanjutkan menuju Aula Santa Maria, Rumah Retret Laverna untuk merayakan Misa Syukur 25 tahun Postulat. Perayaan misa dipimpin oleh Mgr. Julius Mencucini, CP, dan didampingi oleh dua konselebran, yakni Minister Provinsial Kapusin Pontianak, P. Amandus Ambot OFMCap dan Magister Postulat Santo Leopold Mandic, P. Egidius OFMCap. Dalam Khotbahnya Mgr. Julius menekankan tentang Kerajaan Allah yang diumpamakan seperti benih yang tumbuh. Beliau mengatakan: setiap umat yang beriman harus terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan hal-hal lain akan ditambahkan oleh Allah sendiri sesuai dengan Kehendak-Nya.

Setelah Perayaan Misa syukur ada beberapa kata sambutan yang disampaikan oleh Minister Provinsial Pontianak dan Magister Postulat Santo Leopold Mandic. Dalam sambutannya P. Egidius OFMCap mengucapkan banyak terima kasih kepada para Saudara Kapusin yang hadir dalam perayaan ini dan kepada seluruh umat yang yang hadir dan mendukung acara ini. Kemudian, P. Amandus Ambot OFMCap, sebagai Minister Propinsial Kapusin, menekankan bahwa para Saudara Kapusin harus dapat memberikan kesaksian hidup yang baik dan benar tentang karisma dan spiritualitas hidup Santo Fransiskus Assisi, supaya panggilan untuk menjadi seorang religius kapusin semakin berkembang.

Selanjutnya, setelah Perayaan Misa Syukur berakhir, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan santap malam bersama di ruang makan Laverna. Perayaan syukur pesta perak Postulat santo Leopold Mandic ini, berjalan dengan lancar hingga perayaan berakhir.

Diharapkan dengan Perayaan pesta perak ini, Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic, Sanggau ini dapat menjadi tempat persemaian benih-benih panggilan bagi para calon kapusin sehingga kelak mereka dapat menjadi kapusin yang unggul dalam kesaksian hidup dan karya pada masa yang akan datang.

Saat ini ada sembilan calon kapusin muda yang sedang menempuh pendidikan di Postulat Santo Leopold Mandic, Bunut-Sanggau Kapuas. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat dan di Luar Kalimantan Barat. Masa pendidikan di sini berlangsung selama satu tahun. Setelah itu mereka melanjutkan di Novisiat Kapusin Padre Pio, Gunung Poteng.


(Penulis adalah Postulan Kapusin Pontianak - tahun 2015)


Baca Selengkapnya